2. Flat, Cold, and Sweet

156 20 4
                                    

Revata P.O.V
"Aw..." Aku meringis saat Kak Randy menempelkan es batu yang sudah di balut dengan kain ke bagian dahi ku yang memar karena kejadian tadi pagi. Terbentur helm milik Azel. "Lo kenapa tinggalin gue, sih? Kalo gue berangkat bareng lo, pasti gue gak akan kayak gini!" Sungut ku.

"Iya, sorry..., lagian lo ngapain, sih? Pakai acara ngintipin Karel sama Azel waktu olahraga? Udah tau waktu berangkat sekolah nya mepet banget." Kata Kak Randy mencoba membela diri sendiri.

Aku tak bisa menjawab. Aku sengaja pura-pura kesakitan agar ada alasan untuk tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Kak Randy. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bertingkah bodoh seperti itu. Tak ada kata yang tepat untuk menjelaskan itu semua.

"Emangnya kalo di kompres pakai es batu, memar nya bakalan sembuh ya, Kak?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan.

Kak Randy menatap ku sebentar, lalu tertawa, "Gue juga gak tau. Tapi semoga aja bisa sembuh." Sahut Kak Randy enteng.

Aku mendengus kesal. Ku kira Kak Randy benar-benar tahu tentang bagaimana mengobati memar. Ternyata tidak. "Awas aja ya kalau sampai memar gue tambah parah!" Ancam ku.

Malam itu menyebalkan sekali. Seharus nya aku bisa santai menonton televisi karena tidak ada tugas dari sekolah, tapi tangan ku terpaksa harus memegang es batu yang terbalut kain dan menempelkan nya di dahi ku yang memar agar cepat sembuh, atau mungkin tambah memar. Aku juga tidak tahu.

Salah ku juga. Kenapa aku bisa tertarik sekali untuk tahu apa yang Azel lakukan? Padahal aku tahu kalau sisa waktu untuk berangkat sekolah tinggal sedikit. Aneh sekali. Aku bahkan tidak pernah setertarik itu pada orang lain kecuali Azel. Dari awal memang aku merasa ada sesuatu yang lain dari diri Azel.

"Hai...," Sapa Kak Karel yang tiba-tiba muncul dari belakang sofa yang aku dan Kak Randy jadikan tempat bersantai.

Aku refleks membenarkan posisi duduk ku menjadi lebih tegak. Seperti biasa, senyuman manis terukir di bibir merah milik Kak Karel. Laki-laki itu seperti tidak punya kekurangan. Wajah tampan, baik hati, ramah, dan tampaknya dia juga pintar.

Azel seharusnya bersyukur punya kakak seperti Kak Karel yang baik hati dan tampan. Aku yang punya kakak seperti model Kak Randy yang super jahil saja sudah bersyukur. Menurut ku, Kak Randy juga cukup tampan. Tapi tetap saja tidak setampan Kak Karel.

"Kenapa, Rel? Tumben malam-malam ke sini?" Kak Randy melontarkan pertanyaan serupa dengan pertanyaan yang ada di benak ku.

"Gimana sih, Ran? Kan, kemarin kita udah janji buat nonton film bareng. Udah lupa?"

"Oh iya!" Kak Randy menepuk dahi nya. "Ya udah, yuk! Langsung ke kamar gue aja." Ajak Kak Randy dengan semangat.

Aku menatap mereka berdua yang terlihat sangat akrab. Cepat sekali mereka akrab. Sedangkan aku dengan Azel? Jangankan akrab, menyebut nama satu sama lain saja tidak pernah.

"Rev!" Panggil Kak Karel. Aku menengok ke arah nya. "Boleh minta tolong gak?" Tanyanya.

"Boleh, kok," Kataku yang tidak sanggup menolah permintaan nya.

"Kamu ke rumah aku, terus bilangin ke Azel kalo aku lagi main sama Randy. Kamu langsung masuk aja, pintu nya gak di kunci, kok. Di rumah aku juga cuma ada Azel doang. Makasih, ya,"

What?! Apa Kak Karel baru saja menyuruh ku untuk bertemu Azel?

Tidak. Aku tidak mau bertemu dengan dia!

"Tapi─" Kata ku terhenti saat melihat Kak Karel dan Kak Randy sudah menghilang. Pasti mereka sudah berada di kamar Kak Randy.

Yah, kalau begini sudah tidak ada kesempatan untuk menolak permintaan Kak Karel. Tuh, kan, aku salah lagi.

Something I FeelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang