4. Cheese Cake

96 17 2
                                    

Revata P.O.V
9 may,
Lima belas tahun yang lalu, adalah pertama kali nya tangisan ku menggema di dunia. Tuhan telah memberikan anugerah terbesarnya kepada keluarga ku. Aku lahir sebagai buah hati kedua mereka. Revata Orlando, sebuah nama yang sederhana tapi sangat bermakna dan di nama itu terletak sebuah harapan besar yang kelak akan menjadi tanggung jawab ku. Tidak bukan kelak. Tapi sekarang, mulai dari sekarang aku harus mewujudkan harapan itu.

Aku tak begitu ingat tentang masa kecil ku. Tapi ada satu hal yang tak akan pernah aku lupakan sampai kapan pun. Ketika aku masih kecil, aku sering sekali menelepon Papa dan memintanya untuk membawakan mainan untuk ku sepulang kerja. Aku tak perduli apapun mainan nya. Entah itu boneka atau hanya sekedar mainan yang Papa beli di pinggir jalan aku tetap senang sekali.

Dulu, keluarga ku belum semapan sekarang. Penghasilan Papa belum sebanyak sekarang. Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, itupun terkadang masih kurang. Tapi namanya juga anak-anak, belum mengerti tentang masalah ekonomi keluarga. Namun meskipun begitu, Papa selalu membawakan satu macam mainan untuk ku. Aku tahu pasti Papa kerepotan jika harus setiap hari mencari mainan untuk ku, tapi ia pernah berkata, "Papa tidak tega melihat malaikat cantik seperti kamu harus kecewa hanya karena Papa tidak mengabulkan keinginan mu". Dan aku masih ingat itu sampai sekarang.

Terkadang aku sering protes jika Papa pulang terlalu malam dan tidak membawakan mainan untuk ku kecuali makanan─dengan cara menangis kejar sampai terkadang guling-gulingan di lantai. Aku juga tidak jarang marah dan membuang makanan yang Papa berikan. Tapi sekarang aku mengerti. Sebenarnya waktu pulang Papa tidak pernah berubah. Papa pulang larut malam karena mencari mainan untuk ku. Papa juga memberikan ku makanan karena tidak ada lagi toko mainan yang buka─kalaupun ada yang buka, pasti harga mainan itu mahal sehingga Papa tidak membelikan nya.

Aku mengusap kasar mataku sebelum setetes air turun dari situ. Ah, kenapa aku jadi melow begini?

"Revata," Aku sedang duduk di sofa saat ku dengar Kak Randy memanggil ku.

Aku menoleh ke arah Kak Randy yang sudah duduk di samping ku.

"Gue, Mama, sama Papa pergi dulu, ya?"

"Pergi? Kemana?" Aku mentautkan kedua alis ku.

"Ada acara di sekolah gue. Orang tua setiap murid wajib hadir." Jawab Kak Randy seraya memakai sepatu.

Aku menghela nafas berat lalu mengagguk.

"Oh, iya, Rev," Kak Randy menatap ku lekat-lekat. "Maaf, ya, di ulang tahun lo kali ini gue, Mama, dan Papa gak bisa ngasih surprise kayak tahun-tahun sebelum nya. Lo tau, kan, kalo akhir-akhir ini kita semua sibuk banget?"

"Iya, gak apa-apa. Revata ngerti kok. Lagipula, Revata bukan lagi anak kecil yang setiap ulang tahun nya harus di rayain." Kata ku sambil memberikan senyuman terpaksa dan berusaha tegar.

Seutas senyuman terukir di bibir merah Kak Randy. "Selamat ulang tahun, Revata sayang." Kak Randy mencium kening ku lalu memeluk ku sebentar sebelum ia beranjak pergi.

Aku tak tahu kenapa setetes air mata melintas di pipi ku. Ayolah, Rev, kamu udah besar sekarang. Kenapa harus menangis hanya karena tidak mendapat hadiah ulang tahun?

Tapi semakin aku mencoba untuk tegar dan menguatkan diri ku, tangisan ku semakin menjadi-jadi. Berlebihan sekali jika aku menangis hanya karena tidak mendapat surprise ulang tahun. Seumur hidupku aku tak pernah melakukan itu. Baru kali ini. Rasanya sakit sekali saat anggota keluarga kecil ku bertindak seperti mengacuhkan aku. Mereka yang biasanya paling semangat dan selalu memberi ku surprise yang tak terduga saat aku ulang tahun, sekarang mendadak jadi sibuk dengan urusan sendiri.

Something I FeelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang