Saya sudah di lobby depan.
Ok, saya turun sekarang.
Setelah membalas sms, Nina segera turun ke lobby depan.
Setelah masuk ke mobil, Nina bertanya kepada Tian,
"Jadi, sekarang kita mau kemana Tian?"
"Kamu ikut aja, nanti juga tahu"
Makin lama Nina makin merasa panik. Mobil Tian menuju ke daerah Menteng. Rumah Tian di daerah Menteng kan? Tidak mungkin ketemu orang tua Tian kan?
Nina yang biasanya pemberani menjadi takut. Takut dan gugup setengah mati. Demi tuhan, kalau Tian sudah cerita ke orang tuanya, Nina pasti tidak sanggup menatap mereka. Nina malu. Selama ini yang tahu kalau ia menjual dirinya hanya ada empat, yaitu dirinya, Tian, mas David, dan Tuhan. Nina tidak sanggup kalau ada orang lain yang tahu.
Tiba-tiba mobil berbelok menuju satu blok di daerah Menteng.
Nina memegang tangan Tian dan berkata,
"Saya mau pulang"
"Tidak bisa. Kamu harus ikut dengan saya Nina"
Din Din.
Tian membunyikan klakson di depan satu rumah. Rumah yang sangat megah. Luas sekali. Di garasi berjejer mobil mewah. Dari SUV hingga sport car.
"Please Tian, biarkan saya pulang. Kamu bahkan tidak perlu mengantar saya. Saya bisa pulang naik kendaraan umum," pinta Nina dengan memelas.
"Tidak bisa Nina. Kamu harus ikut saya. Saya sudah memenuhi persyaratan kamu kemarin, dan sekarang mama dan papa ingin ketemu sama kamu"
Pintu gerbang dibuka dan Tian membawa mobilnya masuk.
Tian mematikan mesin mobil dan segera keluar dari mobil.
Nina tetap duduk di kursinya dan tidak mau keluar.
Tian membuka pintu mobil di sisi Nina dan menarik Nina keluar dari mobil. Pegangan Tian kuat, tetapi tidak kasar.
"Ayo"
"Tian, please saya mohon, lepasin saya. Saya tidak butuh apapun, saya.."
Belum sempat Nina berkata lebih jauh, pintu rumah sudah terbuka. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka.
Umur wanita itu sudah 55 tahun, tetapi masih tetap ayu.
"Hallo, kamu pasti Nina ya? Perkenalkan, saya Elena, mamanya Tian", kata Elena sambil memeluk Nina.
"Ooo, oh, saya Nina tante", jawab Nina sambil membalas pelukan Elena.
"Ayo masuk ke dalam. Papa udah nunggu daritadi tuh"
Nina masuk ke rumah Tian dengan kikuk. Dari luar, rumah itu terlihat megah. Dari dalam, interior rumah tersebut sangat mewah. Lantainya dari marmer. Ruangannya sangat luas. Bahkan ada tempat untuk berdansa.
"Hallo Nina. Kenalkan, saya Eric, papanya Tian. Ayo-ayo kita makan dulu. Sudah waktunya makan malam. Kita ngobrol sambil makan aja ya"
Sepanjang makan malam, Nina hanya diam dan melihat ke piring nya. Hanya menjawab singkat bila ditanya.
"Kamu dulu kuliah dimana Nin?"
"Saya kuliah di Atma Jaya Om"
"oh ya? Jurusan apa Nin?"
"Akuntansi om"
"Kamu punya sudara?"
"Punya tante"
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are Mine
RomanceWanita itu. Tidak salah lagi. Tian tidak akan pernah lupa wajah itu. Wajah yang membayanginya selama 4 tahun. Nina. Nina namanya. Tian tidak akan pernah lupa nama itu. Nama yang terus ada di pikirannya selama 4 tahun. ** Pria itu. Tidak salah lagi...
