7

5.2K 255 1
                                        

Sebulan kemudian

Tengah malam, tiba-tiba Nina bangun dari tidurnya dan merasa lapar.

Nina beranjak ke dapur, tetapi yang dia inginkan tidak ada. Tentu saja tidak ada, pikir Nina. Mana ada orang yang stock martabak di rumah?

Karena sangat ingin makan martabak, akhirnya Nina memutuskan untuk pergi keluar membeli martabak.

"Mas, martabak coklatnya satu porsi, dibungkus ya"

Hm... Tian mau juga gak ya? 

"Mas, tambah martabak keju special nya satu porsi ya, dibungkus juga"

Di mobil, Nina langsung memakan martabak itu dengan lahap. Nina tertawa dalam hati, ternyata ini yang namanya ngidam!

***

"Kamu habis dari mana saja Nina?", bentak Sebastian

Nina tersentak oleh bentakan Sebastian barusan. Dia hanya ingin memakan martabak manis, itu saja.

"Tadi aku hanya keluar sebentar untuk beli ini", ucap Nina sambil mengangkat bungkusan kotak martabak.

"Kamu kan bisa minta tolong sama saya! Kamu anggap saya ini apa, hah? Gak bisa ya kamu tinggal bilang ke saya, kamu mau apa. Nanti saya yang pergi beli! Kamu tahu ini sudah jam berapa?", teriak Sebastian.

Nina merasa sangat sedih dan ingin menangis. Dasar hormon sialan, rutuk Nina dalam hati.

Nina hanya menunduk sambil mengigit bibir bawahnya. Perlahan Nina meletakan bungkus martabak itu ke meja, lalu dengan suara yang bergetar berkata, "ini aku bawa pulang juga martabak keju spesial buat kamu"

Lalu dengan langkah gontai Nina berjalan menuju kamar.

***

Sial. SIAL! Rutuk Tian. Dia merasa marah, sedih, bersalah. 

Marah karena Nina bukannya bilang kalau dia mau martabak sialan itu dan meminta kepadanya tetapi malah pergi sendiri. Jam 2 subuh pula.

Sedih karena ternyata Nina belum menganggapnya sebagai orang dekat. Tian merasa dianggap asing karena hingga saat ini Nina masih segan untuk minta tolong kepadanya.

Bersalah. Rasa itu yang paling besar dirasakan saat ini. Tian tahu kalau Nina hampir menangis tadi. Hatinya serasa diremas-remas melihat Nina seperti itu.

Perlahan Tian membuka pintu kamar. Dilihatnya Nina sedang tiduran menyamping membelakanginya. 

Pundak Nina naik turun bergetar sedikit-sedikit. Terlihat bahwa Nina sedang menangis tertahan.

Tian naik ke ranjang, lalu tiduran di sebelah Nina. Tian memegang pundak Nina, lalu menariknya hingga Nina menghadapnya.

Tian memeluk Nina erat, dan dia merasakan air mata Nina merembes ke atasan piyamanya.

"Lain kali kalau kamu mau sesuatu, terutama kalau sudah malam begini, bilang sama saya Nin. Saya khawatir terjadi apa-apa sama kamu di jalan tadi. Maaf karena tadi telah membentak kamu"

Nina tidak menjawab. Nina hanya terus menangis dalam diam sampai akhirnya Nina tertidur.

***

"Huek... HUEK..." terdengar suara dari kamar mandi.

Segera Tian menuju kamar mandi dan memijat tengkuk Nina.

"Hari ini kamu tidak usah kerja aja ya Nina?" 

"huk huk.." Nina berkumur lalu mengeringkan bibirnya.

"Gapapa Tian. Mual-mualnya bentar lagi juga udahan kok"

"Hufft. Tapi kamu jangan maksain diri ya Nin. Kalau kamu gak kuat langsung balik. Kamu gak kerja juga gak apa Nin. Saya sanggup untuk menafkahi kamu"

"Iya Tian, saya ngerti. Tapi saya butuh untuk bekerja. Kamu jangan khawatir, kalau saya udah gak tahan saya akan pulang"

***

Hari ini Tian sibuk sekali. Ada meeting dengan klien penting hingga malam. Besok klien itu akan pulang ke negaranya, jadi semua urusan harus selesai hari ini.

Jam sebelas malam.

cklek, pintu terbuka dan Tian masuk ke rumah.

Lampu di ruang tamu masih menyala, dan Tian melihat Nina sedang tertidur di sofa.

Tian merasa kesal. Seharusnya Nina istirahat saja di kamar, tidak usah menunggunya seperti ini. Nina kan sedang hamil!

Tian jongkok di hadapan Nina dan mengguncang bahu Nina dengan pelan sambil berkata,

"Nina, bangun Nin. Ayo pindah ke kamar"

Nina pindah posisi dari tiduran menjadi duduk di sofa.

Nina mengucek mata dan berkata, "Kamu sudah pulang Tian? Sudah makan belum?"

"Saya sudah makan tadi sama klien saya." Tian menggenggam tangan Nina dan mengajaknya masuk ke kamar.

"Lain kali kamu gak usah tungguin saya Nina. Nanti kamu kecapean. Kasihan nanti bayinya Nin."

Nina tidak menjawab. Tian lalu pergi mandi dan bersiap-siap untuk tidur. 

Nina baru tertidur kembali pada saat Tian naik ke ranjang dan mematikan lampu. 

***

Pukul satu dini hari Nina terbangun. Sama seperti kemarin, Nina ngidam. Dia ingin makan mangga muda.

Nina sangat ingin makan mangga muda, tetapi dia ingat kejadian kemarin pada saat dia pergi beli martabak sendiri. Tetapi untuk minta ke Tian, Nina juga tidak enak hati mengingat Tian baru istirahat sebentar. 

Akhirnya Nina bangkit dari tempat tidur dan pergi ke ruang tamu.

***

Tian merasa tempat tidurnya bergerak. Dia tahu kalau Nina pergi keluar.

Mau kemana lagi Nina malam ini? Saya kan sudah bilang ke dia kalau mau sesuatu bilang sama saya, ujar Tian dalam hati.

Tian perlahan menuju pintu kamar dan mengintip keluar. Apa yang didengarnya membuatnya terharu.

"Sayang, kamu tolong tahan sebentar ya. Besok pagi Bunda pasti langsung beli apa yang kamu mau. Ayah kamu masih lelah soalnya. Bunda gak mau ayah kenapa-kenapa pas nyariin makanan buat kita. Sabar ya sayang," ucap Nina kepada si jabang bayi sambil mengelus-elus perutnya.

Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Nina mendongak kaget.

"Kamu lagi ngidam apa Nin? Saya belikan untuk kamu"

"Gak usah Tian. Saya udah gak ngidam kok."

"Tadi saya dengar kamu ngomong apa Nin." Muka Nina memerah malu.

"Udah deh Nin, please bilang ke saya, kamu mau makan apa?"

"Saya sudah jawab Tian, saya sudah nggak ngidam!"

Nina lalu berjalan ke kamar dan menutup pintu dengan keras.

Dasar para wanita memang aneh, rutuk Tian sambil mengacak-acak rambutnya.

Tian lalu ikut masuk ke kamar dan tidur sambil merasa kesal.

****



You Are MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang