7 Black Blood

144 9 0
                                        

"Mampuss, ini dimana sih?" Adrina celingukan. Harapan satu satunya bagi Adrina adalah membuntuti Erick dan jangan sampai kehilangan jejak Erick. Saat Adrina mulai panik karena dia tidak tau daerah mana dia berada, Erick yang menjadi tumpuan harapannya saat itu tiba tiba menghilang dari jangkauan matanya. Shit Sial banget!!

Adrina keluar dari tempatnya mengendap ngendap. Tengok kanan tengok kiri hingga tidak sadar kalau dirinya sudah berada di tengah tengah Jalan Raya. Dari arah yang berlawanan, ada truck besar pengangkut barang barang yang berjalan dengan kecepatan tinggi.

___Tiiinnnn...Tinnn___

Klakson truck yang berlari super kencang itu terus berbunyi tanpa jeda.

Adrina tidak punya waktu untuk mengangkat kakinya dari jalan yang akan dilintasi oleh Truck berwarna biru tua itu.

Satu satunya gagasan yang terlintas dibenaknya adalah memejamkan mata. Seperti akting seseorang dalam sinetron jika ingin mengakhiri nyawa dengan melindaskan diri ke kereta api atau barang berjalan lainnya yang memacu kecepatannya.
"Oh Tuhan! Ampunilah dosa dosa hamba..." Adrina memanjatkan doa sambil menyatukan jemari tangannya dan meletakkan didepan dada.

___Tiiinnnn....Tiiinnnn..___

Truck itu semakin mendekat, dan beberapa detik kemudian...

____Wwuuusssshhh...____

Adrina merasa tubuhnya melayang ringan. Adrina bisa merasakan hembusan pepohonan dimalam hari menerpa rambut lembut dan wajahnya yang sempat panik beberapa menit yang lalu.

Saat Adrina membuka mata, Adrina sudah berada dalam dekapan cowok yang memakai pakaian serba hitam dengan kemeja putih yang berkerah panjang hingga menutupi lehernya.
"Kamu nggak papa?" tanya cowok itu sambil mendaratkan kakinya dipuncak gedung dekat dengan bangunan sekolah Adrina.

Adrina masih belum connect, dia tidak sadar kalau kepalanya masih menempel didada cowok yang telah menolongnya dari truck yang nyaris merenggut nyawanya itu.
"Kamu nggak papa?" Laki laki itu bertanya untuk yang kedua kalinya.

Adrina seketika sadar, dan secara refleks Adrina menjauh dari cowok itu, lalu mengamatinya dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung rambut, hingga nafasnya tertahan di paru parunya.
Ada yang aneh!
Cowok yang menolongnya itu memiliki taring yang menyembul keluar dari sudut bibirnya. Tidak teramat panjang, tetapi memberi kesan semakin keren pada wajahnya yang seperti orang bule. Bangsawan bule tepatnya. Dua taringnya sangat serasi dengan hidung mancung dan kulit putihnya.
Adrina Shock.

Kemarin Adrina sempat membaca buku yang menegaskan tentang ciri ciri Vampire dan Werewolf, dimana menurut orang, makhluk tersebut hanyalah legenda belaka. Tapi sekarang? Makhluk yang bernama Vampire itu berada dihadapannya, nyata, bahkan tadi Adrina sempat mendekap Vampire itu. Dan wajah Vampire itu sudah tidak asing lagi bagi Adrina.

Adrina menatap sinar bulan yang begitu terang dilangit malam. Malam itu, bentuk bulan 100% bulat. Adrina merasa kalau bulan yang terletak jauh dari bumi itu bergerak berputar putar, mata Adrina berkunang kunang. Tanpa sadar Adrina lemas , lalu terkulai pingsan.

Vampire yang sejak tadi mengawasi gelagat Adrina itu dengan cepat menangkap tubuh lemas Adrina yang nyaris limbung di Puncak gedung.

Setelah menghentakkan kakinya di atap gedung, Vampire muda itu melayang bebas ke udara sambil menggendong Adrina ala brydal style.

########

Adrina membuka matanya perlahan lahan. Adrina merasa kalau dirinya mimpi terbang beberapa jam yang lalu, hingga membuat tulang lehernya terasa kaku. Keadaan disekitarnya begitu asing, gelap, dan lembab. Bau debu yang sudah lama tidak terjamah oleh tangan manusia menusuk lubang hidung Adrina.
"Sudah bangun? Tepatnya sudah siuman? Sorry kalau penampilanku yang seperti ini membuatmu kaget." Cowok yang ternyata bukan dalam mimpi Adrina itu mengambil tempat duduk disamping Adrina.

E+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang