Sudah dua hari Alana berusaha menghindar dari publik dengan hanya menjalankan rute apartment - kampus, langsung masuk ke kelas - apartment. Beruntung komplek apartment yang Alana tinggali memiliki gym, kolam renang dan kebun yang cukup luas, setidaknya dia bisa mengurangi kebosanannya dengan memanfaatkan fasilitas tersebut.
Tapi yang namanya ruang lingkup dibatasi lama-lama membuat orang bosan, demikian juga dengan Alana yang pagi ini sengaja pergi ke perpustakaan kampusnya. Disamping untuk mencari bahan beberapa laporan yang harus dikumpulkannya, perpustakaan lebih sepi pada hari Sabtu jadinya lebih aman buat Alana. Oh iya, hari ini dia juga les akunting bersama Gavin.
Alana yang tengah bersandar dengan menyilangkan kaki kanan ke kaki kirinya di rak buku, meraih salah satu buku yang terbentang di depannya. Gadis ini mulai membuka-buka dan membaca sekilas isi yang terdapat di dalamnya.
"Hei."
Alana menoleh ke sumber suara yang menyapanya dan menemukan Gavin sudah berdiri di ujung seberang rak buku kayu yang tingginya hampir mencapai tiga meter.
"Hai." Alana tersenyum dan kembali membaca buku yang sedang dia pegang, "Baru sampe?"
"Iya." jawab suara bariton berat yang berjalan mendekati tempat Alana berdiri, "Report?"
Alana hanya bergumam mengiyakan, tangan dan matanya sibuk membaca cepat isi buku itu sebelum dia memutuskan untuk membawanya, "Oh, sorry kemarin gue terpaksa ngebatalin jadwal les."
"It's okay." Gavin mengedikkan bahunya dengan santai, "Yang rugi juga bukan gue."
Alana mendongak dan menatap sebal cowok yang ada di depannya itu. It's okay tapi kok nyumpahin.
Tapi belum sempat dia mengucapkan sepatah kata-pun, tiba-tiba Alana sudah berada dipelukan Gavin menghirup aroma rempah bercampur vanilla yang terasa lembut di indera penciumannya.
"Gav!"
"Ssst." Gavin tetap memeluk Alana yang tingginya hanya mencapai tulang pipi bawahnya, dirinya menunduk sedikit untuk berbisik pada Alana, "Ada anak-anak kepo."
"Hah?" Alana yang hendak mendongak tiba-tiba terhalang oleh baseball cap yang menutupi sebagian mukanya. Moncong topinya tepat mengenai dahu Gavin, "Ups, sorry."
Dan bisa dibayangkan posisi mereka yang tadinya hanya berpelukan sekarang layaknya sepasang kekasih hendak berciuman. Alana terbius dengan mata coklat kehitaman yang intens menatapnya.
Ini berbeda dengan pelukan-pelukan yang biasa dia lakukan di pemotretan ataupun shooting. Pelukan or other romantic skin-ships yang sesuai dengan arahan sutradara dan ditonton oleh tim produksi sehingga tidak ada kesan romantisnya sama sekali. Dirinya masih diam terpaku ketika tiba-tiba pandangan di depannya berubah menjadi gelap.
Puk.
Moncong topi berlogo NY itu mendarat mulus menutupi hampir setengah muka Alana kembali, menyebabkan dirinya putus kontak dengan kedalaman sepasang mata cowok yang mendekapnya. Gavin melepaskan dirinya dari Alana, yang meninggalkan campuran aroma lembut bunga dan mandarin orange yang tertinggal di kaosnya.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Ditengah keheningan canggung yang terjadi diantara mereka berdua tiba-tiba ponsel Alana bergetar.
Ben Myriad is calling...
"Ben," bisik Alana menerima panggilan di ponselnya, "Lo di mana?"
"Hm," Alana bergumam mendengarkan suara Ben di seberang, "Ya deh, palingan gue pake uber... no, it's okay, hope she's getting better... Besok kalo bisa gue jenguk bareng the twins... Bye."

KAMU SEDANG MEMBACA
STARDUST #wattys2019
ChickLitBertemulah dengan Alana, model/aktris/mahasiswi fakultas literature yang selalu gagal move on ~ "At first, he was never mine, but losing him broke my heart." Gavin, sang juara angkatan di fakultas ekonomi-ilmu politik/freelance photographer/baker en...