Stuck

2.7K 292 32
                                        

GET READY.......!!!

.

.

SHOWTIME.....!!!
.

.

.

_Disaster_

Dengan paniknya mereka segera membawa Jinhwan menuju rumah sakit saat Jinhwan sudah tak sadarkan diri disana. Memang sebenarnya Luhan sedikit khawatir dengan kondisi Jinhwan yang sedang kurang baik, namun entahlah semuanya sudah terlanjur.

Junhoe segera menggendong tubuh mungil itu untuk ia bawa menuju mobil sang Daddy.

Saat semua panik ia pun ikut - ikutan merasakan kepanikan tersebut. Junhoe menatap miris ke arah Jinhwan yang sedang berada di gendongannya. Wajahnya pucat dan juga tubuhnya yang terasa sangat ringan.

Dan saat mereka telah berada di dalam mobil. Sehun segera melesatkan mobil tersebut menuju rumah sakit.

Jinhwan dipeluk oleh sang eomma di kursi belakang, sedangkan Junhoe berada di depan bersama sang Daddy.

Berkali - kali ia menoleh melihat Jinhwan yang belum sadarkan diri juga. Entah kenapa ia sangat terkejut sekali, dan perasaannya pun tidak enak. Junhoe menahan semua ketakutan yang merayap pada pikirannya. Ia terlalu takut membayangkan seseorang yang harus dibawa ke rumah sakit kemudian ditangani disana. Junhoe memang memiliki ketakutan pada rumah sakit. Maka dari itu meskipun ia sakit, Junhoe lebih baik dirawat dirumah.

Sejenak ia menghela napas. Rasa panik ini hanyalah rasa peduli sekejap saja. June tahu ini tak akan bertahan lama.

.
.
.
.

"Berkas - berkas yang anda tangani sudah selesai Presdir"

"Ne, bagaimana untuk jadwal keberangkatan ke Kanada?"

"Sudah disiapkan, keberangkatannya besok pukul delapan pagi"

Yifan mengangguk paham atas penuturan sekertarisnya itu. Ia merenggangkan sedikit otot - ototnya yang kaku. Ya, pekerjaannya memang seperti ini setiap hari.

Punggung itu ia sandarkan pada kursi dengan kepala yang menengadah ke atas. Matanya sudah mulai berat, lagipula ini sudah pukul sepuluh malam dan ia belum pulang juga.

Seketika ia menghela napas berat. Menatap bingkai yang menampilkan foto sang anak yang tengah tersenyum. Foto yang Ia ambil saat Jinhwan berulang tahun ke sepuluh. Ia tersadar jika anaknya sudah mulai tumbuh besar. Tak terasa sudah tua juga umurnya.

"Daddy merindukanmu nak" Ujar Yifan sendirian di ruangan. Ia tersenyum memandangi foto tersebut. Ahh ia jadi semakin merindukan anak semata wayangnya.

Dan saat itulah ia menangis sendirian disana. Mengingat anaknya yang lahir prematur dengan keadaan fisik yang lemah.

Yifan tahu Jinhwan memiliki kelainan paru - paru, membuatnya harus rutin memeriksakan keadaannya ke dokter. Betapa sedihnya ia mengetahui itu, hingga sampai remaja pun Jinhwan tumbuh menjadi remaja yang tidak aktif dalam olahraga. Ia jelas dilarang untuk melakukan hal semacam itu, demi menjaga kondisi fisiknya yang lemah.

Tiba - tiba ponsel yang tergeletak di meja bergetar. Yifan segera mengangkat panggilan yang masuk, menatap heran kenapa Luhan menelponnya malam -malam seperti ini.

"Ne, ada apa?" Ujarnya saat mengangkat panggilan tersebut.

"Jinhwan di bawa ke rumah sakit. Ia ingin kau untuk datang"

Ucapan dari seberang sana membuat dadanya seperti terhantam sesuatu yang keras. Tangannya sontak bergetar sebelum menjawab panggilan itu.

"Aku segera ke sana"

[END] Disaster/JUNHWAN/BINHWAN/YAOICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang