CURRICULUM VITAE

228 3 0
                                        


"Aaaaa...gue tadi ketemu Rere. Gemaay banget anjirr liat cowok barunya Rere, seksi abis...sekali liat aja gue langsung pengen diajak ena ena"

"Serius lu? Jadi Rere punya cowok dan g ngemeng ke kita?"

"Sumpah hot abis Qil. Nggak pake telanjang aja gue udah bisa bayangin lezatnya roti sobek lakinya Rere"

"Anjirr...kenapa kalian berisik banget sih, gue ngantuk anjir. Yaiyalah Rere males ngenalin ke kalian kalo ujungnya kalian minta ena ena ke lakinya Rere"

Piring yang sedang aku cuci merosot begitu saja dari tanganku ke dasar wastafel. Secepat kilat aku meninggalkan cucian piringku dan berlari mengahampiri Jev di meja makan. Sialaaannn...kenapa bloon sekali aku meninggalkan ponselku di meja makan bersama dengan setan nggak tau diri satu itu.

"Calya setan!" teriakku sambil merebut ponselku dari tangan Jev.

Jev tertawa terbahak bahak. Menertawai muka panikku dan obrolan teman teman gilaku di group call. Sial...Calya benar benar harus dimintain pertanggungjawabab. Mau ditaruh dimana mukaku Ya Allah. Jev pasti bahagia sekali saat ini.

"Ada orangnya ya Re? Rere maapin. Kita ganggu ena ena kalian ya?"

Bunuh saja aku sekarang. Kenapa otak Calya sesarap itu. Tanpa pikir panjang aku mematikan panggilan grup itu.

"Puas kamu Jev?"

Jev tidak memperdulikanku dan masih saja tertawa. Tawanya baru berhenti ketika aku mulai menyiksanya dengan menjambak keras rambut Jev.

"Sakit Raina. Hobi banget sih kamu nyiksa saya"

"Nggak usah ketawa makanya. Kamu kira ini lucu hah?"

"Emang lucu temen temen kamu Raina. Muka kamu juga lucu merah gitu. Jangan jangan kamu juga mikir buat ena ena sama saya waktu kamu liat badan saya"

Lagi lagi Jev tertawa. Membuatku semakin geram saja. Kali ini aku tidak hanya menjambak rambut Jev tapi aku juga menggigit kuping Jev dengan keras. Semakin Jev menjerit kesakitan aku semakin puas dan ingin menyiksa Jev lebih parah lagi. Rasain...biar saja kupingnya putus.

"Raina sakit Raina. Kamu kenapa jadi kanibal seperti ini sih?"

Aku melepas gigitanku pada kuping Jev dan mulai menangis setelah itu. Aku malu. Kenapa dunia ini terlalu kejam kepadaku. Kenapa juga Line harus menyediakan fitur kurang ajar bernama group call.

"Raina kamu nangis?"

"Raina...udah dong jangan nangis, saya kan nggak ngapa ngapain kamu"

Jev masih saja membujukku agar berhenti menangis. Sedangkan aku masih saja sesenggukan.

"Kamu ngetawain saya Jev. Mana yang kamu bilang nggak ngapa ngapain saya? Jahat banget sih kamu Jev" ucapku sambil memukul dada Jev yang berdiri di hadapanku.

"Kamu juga ngapain sih ngangkat panggilannya"

"Maaf. Saya tadi iseng Raina, mana saya tau itu bakalan bikin kamu nangis"

Jev menggumamkan kata maaf kepadaku berkali kali, kemudian mulai merengkuh tubuhku. Cobaan apa lagi ini tuhan? Kenapa nyaman sekali rasanya berada dipelukan Jev. Apa aku harus sering sering menangis agar aku dapat mencium wangi tubuh Jev dan mendengar detakan halus jantung Jev sedekat ini.

Astaga Raina!Sadarlah! aku mendorong tubuh Jev kasar agar terlepas dari pelukan memabukkan Jev.

"Pulang sana Jev. Sepertinya keberadaan kamu di sini nggak terlalu bagus buat kesehatan saya," usirku.

Through With YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang