Hati yang pulih

1K 149 8
                                        

Seohyun mencoba berdamai pada hatinya. Pagi ini, setelah menyiapkan diri untuk memulai aktivitas, ia menuju meja makan lebih awal. Ya. Seohyun ingin menantikan sang ibu agar bisa makan bersamanya.

Bibi Jung terlihat menata sarapan di atas meja. Seohyun menyapanya. Hal yang sangat jarang ia lakukan, bahkan nyaris tidak pernah.

"Pagi Bibi Jung."

Wanita paruh baya itu terkejut, mendadak kikuk melihat perubahan sikap nyonya mudanya.

"Apa ibuku sudah pergi?."

Dan semakin heran akan pertanyaan itu. Sebab tak sekalipun Seohyun bertanya tentang ibunya.

"Belum nona. Apakah anda ingin segelas susu?."

"Tidak. Nanti saja." Seohyun mengamati waktu yang berputar pada jam tangannya.

Masih terlalu pagi. Menunggu beberapa saat lagi tidak akan membuatku terlambat.

Seohyun bergumam sembari mengamati arah kamar ibunya.

*

Menanti sang ibu yang tak kunjung datang, Seohyun menyiapkan selembar roti di atas piringnya. Ia telah lama berdialog pada hati kecilnya ; tentang sebuah sapaan yang ingin ia sampaikan di pagi ini kepada ibunya. Dia tak menemukan kata-kata yang tepat.

Derap langkah kaki menghampirinya. Dan Seohyun menyadari jika seseorang tengah berdiri- terpaku mengamati keberadaannya. Dan seseorang itu pasti sama sepertinya. Ingin menyampaikan sesuatu namun tertahan karena satu hal.

Ini tidak akan berhasil jika salah satu dari kami tidak ingin memulainya.

Seohyun menerka dalam hati. Meskipun gugup, ia tetap tertunduk, seolah tenang dan baik-baik saja.

"Masakan bibi Jung sangat enak. Cobalah sedikit saja. Aku juga hampir selesai menikmatinya."

Diam-diam Seohyun menaik-turunkan napasnya. Hubungan ini tidak normal. Dia dan ibunya bagaikan orang asing satu sama lain.

Shin Ah Rin terenyuh. Ada getar sendu membalut hatinya. Suara Seohyun yang mengucapkan banyak kata padanya kembali terdengar. Hatinya yang gersang seolah tersirami tetesan hujan.

Seohyun tak mengerti kenapa kedua matanya terasa penuh oleh air mata. Ia tak kuasa menahan, hingga memalingkan wajah saat sang Ibu telah duduk di hadapannya.

Tuhan, sudah berapa lama dirinya berada begitu jauh dari sang Ibu? Hingga dalam jarak sedekat ini ia begitu merindukan sosoknya. Wajah renta yang dihiasi kerutan di hadapannya tersenyum, setitik embun turut menggenang di sudut matanya. Shin Ah Rin mengamati wajah putrinya lekat. Sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, tatapannya tak lepas. Seakan ia baru melihat gadis kecilnya setelah sekian lama.

Seohyun tersedu pelan, dadanya terasa sesak, di himpit penyesalannya selama ini. Jika dia tahu bahwa menatap wajah sang ibu setiap pagi akan mendamaikan hatinya, ia tak akan menghindar selama ini. Jika kehangatan sang mentari bisa ia rasakan hanya dengan melihat wanita itu tersenyum, dia akan menyapanya setiap hari.

Dia melewatkan banyak kesempatan itu.

Betapa buruk dirinya.

Memang benar jika sang Ibu mengkhianatinya selama ini. Tapi hingga detik ini- wanita itu memilih untuk tetap bersamanya. Menjaganya seorang diri. Menerima kekecewaannya dengan hati terbuka. Betapa egoisnya ia selama ini.

"Masakan ini sangat enak hingga tanpa sadar aku pun menangis."

"Benar, ini sangat enak." Balas sang ibu dengan suara parau.

Tersedu bersama. Dinding kokoh yang Seohyun ciptakan selama ini runtuh dalam sekejap. Tangisnya dan tangis sang ibu pecah begitu saja.

*

Annoying BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang