2. Find Me Again

77 21 22
                                        

Chapter 2
Find Me Again

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

"Hoaamm!"

Nata mengeliat di atas ranjangnya. Cahaya di luar sana tidak menembus masuk ke dalam kamarnya. Jam beker yang berada di samping ranjangnya masih menunjukkan pukul 06.06 WIB, berarti masih pagi.

Nata menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan kemudian berdiri menuju kamar mandi yang terletak di dapur. Sesekali Nata menghilangkan sesuatu yang keras di area matanya. Wajah dan rambutnya masih khas orang bangun tidur.

"Nat, gak joging?" Santi muncul dari kamarnya. Ia telah mengenakan celana training dan jaket yang lumayan tebal. Rambutnya sudah dikucir kuda di belakang. "Joging bareng kakak, yok!" lanjutnya.

"Lanjut aja kak, Nata mau cuci muka."

"Ohgitu, hati-hati ya! Nanti jangan sampai nyasar," Santi tersenyum geli.

Liburan tahun kemaren, Nata sempat ke sini untuk menghabiskan sisa liburannya. Kebetulan Mama dan Papa Nata mendapatkan libur juga. Jadi, selama seminggu Nata menginap di rumah Nenek.

Karena kebiasaan Nata di kota itu joging pagi, jadi Nata pun menerapkan itu di sini. Nata pergi pukul setengah 5 dan balik pukul 8. Ternyata Nata nyasar di dekat sawah kampung sebelah. Nata mencari jalan yang benar tapi dia melewati jalan yang sama tanpa dia sadari.

Nata pun berjongkok di tengah jalan sambil menangis. Nata tidak tahu jalan untuk pulang. Menangis adalah cara terakhirnya. Maklum, dulu Nata masih bocah SMP yang masih doyan nangis.

Kemudian Santi dan Nenek mencarinya. Sampai akhirnya, Santi menemukan Nata menangis di tengah jalan. Mereka pun tertawa. Dan Nata tidak jadi hilang.

Nata tersipu malu, "duh kak, masih ingat aja."

"Ya dong! Kamu lucu banget, tauk!" lagi-lagi Santi tersenyum geli.

"Gak bakal kok! Gak bakal nyasar lagi! Udah hapal jalan deket sini," Nata meyakinkan Santi dengan senyumannya.

"Oke! Kakak duluan, ya!"

🌙

"Kamu mau kemana, Nata?" tanya Nenek yang duduk di teras rumah, ditemani secangkir teh hangat di atas mejanya.

"Mau joging, Nek. Udaranya bagus, pas banget buat kesehatan. Gak kayak di kota!"

"Hati-hati ya, Nata!"

"Iya, Nek!"

Nata kemudian berjalan menuju jalanan. Dia melewati bunga Matahari yang baru kemaren dia sukai.

"Nek! Bunga ini Nata bawa ke kota kalo Nata balik ya, Nek!" Nata sedikit berteriak agar objek yang ditujunya dapat mendengar perkataannya.

Nenek tersenyum ramah, pertanda ia mengiyakan kemauan Nata, cucu kesayangannya.

Nata sedikit berlari di jalanan. Jalanan begitu sepi, hanya ada terdengar air dari kran rumah tetangga yang sedang menyiram tanamannya. Nata jadi ingat anak perempuan yang tinggal di sebelah rumah Neneknya.

Nata terus berjalan. Kali ini dia mengetahui arah tujuannya. Mungkin dia akan lurus terus, kemudian belok kiri, trus akan lurus, dan belok kanan lagi, dan belok kanan, dan lurus. Dan dia akan sampai di runah Neneknya. Tapi di saat Nata berbolok ke kiri, dia melihat anak perempuan di ujung sana yang lagi berjalan menuju ke arahnya sambil membawa keranjang. Sepertinya keranjang itu berisi daun teh.

Dream The PastCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang