5. Goodbye, Friend

45 15 6
                                        

Chapter 5
Goodbye, Friend

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Sekitar enam jam yang lalu Nata sampai dirumahnya, itu sekitar jam 3 pagi tadi. Sesampai di rumah, Nata langsung membawa tasnya kedalam kamarnya kemudian berbaring di atas kasurnya. Tanpa dia sadari, dia terlelap.

Hingga terasa di samping bantalnya bergetar hebat, Nata pun terbangun. Bahkan matanya saja masih tidak mau untuk membuka.

Nata meraba-raba di samping bantalnya. Rasanya berat untuk membuka matanya.

"Siapa sih! Ganggu banget!" gumam kesal Nata.

Nata mengintip. Tetap matanya masih berat untuk di buka. Karena rasanya ada yang menelponnya --sura getar yang panjang dan berkali-kali-- Nata akhirnya menggeser tombol hijau tersebut.

"Halo?"

"Lo udah sampai? Atau lagi dimana? Gue udah di kafe dari tiga puluh menit yang lalu. Kalo lo udah di dekat sini, cepet yaa. Gue keknya kenyang sama minuman, nih."

"Hah?" Nata menggeser ponselnya. Mau tak mau Nata membuka matanya dan melihat nama sang penelpon.

Gerak refleks, Nata menepuk jidatnya. Sangat keras. Sampai dia sendiri meringis kesakitan. Benar-benar bego!

"Aduh, Ghin. Gue lupa. Gue baru...bangun. Hehe." Tanpa dosa, kalimat itu yang lolos dari mulutnya.

"Peak!" lirihnya pendek. Nata hanya membalas dengan kekehan pelan. "Cepat mandi lo! Buruan! Gak usah pake make up segala."

"Is! Gue gak pernah pak--"

Tittt titt.

"Eanjir! Malah ditutupin!"

Nata langsung bangkit dari kasurnya dan kemudian bergegas ke kamar mandi.

🌙

Nata melihat kiri dan kanan. Melihat dimana Ghina berada. Dia tahu pasti Ghina sedang bersumpah serapah di tempat duduknya itu. Membayangkannya saja membuat Nata senyum-senyum sendiri.

Tidak beberapa lama, Nata melihat seorang cewek duduk ditemani segelas minuman yang hampir habis. Mulutnya tidak berhenti bergerak.

Pasti dia lagi sumpah serapah gak jelas deh, tebak Nata.

Nata mulai berjalan mendekati Ghina dari belakang. Hingga dekat, Ghina pun tidak menyadarinya.

"Dorrr!"

Ghina terkejut bukan main. Dia hampir berdiri. Dan sebuah tertawaan yang dihadiahi oleh Nata.

"Gikak! Bisa jantungan gue lama-lama gara lo!" Ghina menyeruput minumannya hingga habis karena kedalnya kepada Nata. Tidak tersisa setetes pun lagi.

"Segitu emosinya, mbak. Lo haus atau begimane?" Tanya Nata tanpa dosa.

"Lo tahu,"

Dream The PastCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang