"Iya bundaa, bunda inget kan?"
"Ya ampun sayang.. Kenapa kita harus ketemu disini? Kamu satu sekolah sama Iyan? Sama Nathan juga?" Bunda Iyan langsung memeluk erat tubuh Zara yang sedang terguncang sesaat sebelum mamah Adrian itu datang.
"Iya bunda, Lia baru tau kalau Adrian itu Iyan temen kecil aku"
"Kamu jangan panggil bunda lagi ya? Panggil aja mamah"
"Kenapa emangnya?"
"Gak apa apa kok, soalnya sekarang Adrian manggilnya mamah"
"Iya mah"
"Nathan makasih ya, udah kasih tau tante soal Adrian kecelakaan" gua dan Mamah Adrian pun duduk berdampingan, lalu gua bersandar di bahunya.
"Sama-sama tante, wajib dikasih tau kalau urgent kayak gitu mah"
☆
Dihari ketiga setelah kecelakaan yang hampir mematahkan tulang rusuknya, Adrian belum juga siuman. Zara terus menginap karena memang sedang libur Ujian Nasional. Ia yang setia menemani raga Adrian yang tak bertenaga sama sekali, ia selalu menangis ketika didekat Adrian, entahlah, Zara merasa tak kuat bila melihat Adrian dalam kondisi terus-menerus seperti ini. Zara selalu menyelipkan sebuah doa untuk Adrian di sela doa nya setiap selesai sholat. Zara merasa sangat hancur, dia selalu merasa ini semua benar-benar karenanya yang meninggalkan Adrian begitu saja di bangku kayu dekat toilet. Dan betapa terpukul nya ia, setelah ia mengetahui Adrian adalah Iyan yang selama ini ia cari-cari, namun dalam keadaan Adrian tidak sadar diri.
Setiap harinya, semua teman Adrian dan Zara menengok keadaan Adrian dan menemani Zara disana. Sampai sekarang, Zara tidak mau pulang, dibujuk siapapun termasuk mamahnya sekalipun tetap saja, ia bilang akan menunggu disitu sampai Adrian siuman.
"Hai Lia" sapaan itu terdengar sangat ramah. Ternyata itu sapaan dari seorang wanita berhijab yang baru memasuki ruang rawat Adrian.
"Maaf, darimana tau itu nama panggilan aku?"
"Aku kakak nya Adrian, Ana, masih inget?"
"Kak Ana" Zara bangun dari duduknya dan langsung memeluk erat Ana yang berdiri tak jauh dari tempatnya semula.
"Kakak kangen sama kamu Lia, apa kabar? Kak Alif juga sehat kan?"
"Alhamdullilah kak.. Aku sekarang punya ade tau kak, masih tk pula"
"Iya? Wahh, masih lucu dong ya? Kapan kapan kita meet up oke?"
"Iya kak, aku kangen" setelah tadi melepas sejenak pelukannya, ia melanjutkan melepas rindu pada kakak Adrian.
"Kakak pun, gimana keadaan Adrian? Kakak gak sempet pulang dulu ke rumah, ini juga abis nginep di kosan temen kampus" Ana duduk disisi lain ranjang dengan kursi yang lainnya. Zara kembali ke tempat semula dimana ia duduk.
"Tiga tulang rusuk Adrian retak kak, dokter bilang kepala Adrian juga kena benturan yang cukup keras. Dia sempet sadar di hari kecelakaan nya, hanya sesaat kak, cuma ngomong tentang apa yang harus aku tau ada di handphone nya, terus setelah itu dokter juga bingung, kenapa bisa Iyan langsung nge-drop drastis padahal sebelumnya dia udah bisa siuman" mata Zara sedikit berkaca-kaca menceritakan bagian tersebut yang terjadi di hari pilunya kemarin.
"Adrian tuh gak gini Lia, gak mungkin bisa ngelakuin hal kayak gini tanpa sebab yang bener bener bikin dia putus asa"
"Sebelumnya emang ada kejadian kayak gini kak?"
"Bukan kayak gini, tapi dia pernah hampir loncat dari balkon rumah kita, entahlah, problematika anak remaja mana bisa ditebak. Kadang aja dia nangis gak karuan pas malem, tapi pagi nya udah its okay aja gitu. Tapi kakak jadi khawatir terus sama keadaan dia, sama masalah masalah dia juga"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hold On [Completed]
Teen Fiction"Gua bakal selalu mencintai lo! Gua terima kalau nanti gua harus menerima seribu pisau tajam dari lo!" Bermula dari putusnya hubungan Zara dengan Ken. Lalu berlanjut pada ketidak pastian beberapa laki-laki yang sedang dekat dengannya. Awalnya Zara...
![Hold On [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/94320588-64-k117128.jpg)