Kalau tau rasanya sesakit ini, aku tidak akan pernah memulai untuk jatuh cinta denganmu.
***
"Ara, kita pulang bareng ya. Aku yang anterin deh." Kata Kak Gerald saat aku akan berjalan ke parkiran menuju mobil kak Denis.
"Tapi kak, aku di jemput sama kak Denis."
"Udah, Denis gak bakalan marah. Ntar aku sms deh." Kak Gerald menarik tanganku lembut.
Ia membawaku ke mobil nya. Aku hanya mengikut dan masuk ke dalam mobil.
"Kakak udah sms kak Denis?" Tanya ku kawatir jika kakakku akan marah.
"Belum," gumam kak Gerald santai.
"Lho? Kak, nanti kak Denis marah sama aku. Dia itu orang nya-"
"Udah, kamu gak usah kawatir gitu. Btw, nanti jam 5 aku jemput buat latihan ya."
"Emang hari ini ya kak?"
"Iya, hari ini. Gak ada alasan buat gak datang pokoknya."
Kak Gerald membuatku frustasi antara harus ikut atau tidak.
Drrtttttt.. Drrrttt..
Ku lihat hp kak Gerald yang berbunyi itu bertuliskan nama seseorang di sana. Belum sempat ku baca nama itu tuntas, hp itu sudah di ambil lebih dulu oleh kak Gerald. Tapi aku yakin itu tadi nama seorang wanita berawalan F.
"Halo" Kata kak Gerald.
Beberapa detik kemudian setelah lawan bicara kak Gerald berbicara,
"Iya, pokoknya kamu siap-siap aja. Pake baju yang aku kasih trus dandan yang cantik, ntar aku jemput deh."
Ku lihat kak Gerald tersenyum-senyum sambil berbicara dengan seseorang di hp itu.
"Iya cantik. Ya udah aku tutup ya. Bye." Perkataan itu membuatku enggan untuk melihat kak Gerald saat ini.
Jadi seperti inikah orang jika sedang sakit hati? Rasanya sangat menyakitkan mendengar itu. Jika seperti ini, aku tidak akan pernah berharap untuk berbicara atau kenal dengan nya.
Aku memalingkan wajahku dari kak Gerald. Keheningan kini memenuhi mobil ini.
Akhirnya, kami tiba di depan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih tanpa melihatnya dan turun dari mobil itu.
Rasanya aku tidak mood melakukan banyak hal dengan kak Gerald hari ini. Aku hanya ingin berbaring di kamarku tanpa gangguan siapa pun.
"Lo udah pulang, Ra?" Tanya kakakku yang sedang menonton tv saat aku berjalan dari ruang keluarga. Aku hanya berdehem dan masuk ke kamarku.
Aku mengganti bajuku dan menghempaskan badanku di tempat tidurku.
Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa kak Gerald kelihatan sangat bahagia berbicara dengannya? Ya, mungkin aku memang tidak ada artinya di mata kak Gerald, makanya dia biasa saja saat memuji wanita lain di dekatku.
"Ra, gue boleh masuk gak?!!" Tanya kakakku dari luar.
Aku hanya menarik nafas berat karena sedang tidak mood berbicara dengan semua orang. Kakakku membuka pintu, berjalan ke arahku dan duduk di sampingku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lonely Princess
Teen FictionTamara adalah gadis Indigo yang penyendiri, kesepian dan pendiam di sekolahnya. Walaupun di rumah dia sangat di manjakan orangtua dan kakaknya yang bernama Denis. Namun tidak di sekolah. Tidak ada yang mau menjadi temannya, hanya seorang hantu yan...
