Aku merindukannya lagi.
Seseorang yang wajahnya tidak kuingat, seseorang yang meninggalkanku dengan keadaan membingungkan.
❄❄❄
*Flashback on*
"Hey pendek!" Aku menoleh kebelakang melihat siapa yang sedang memanggil sekaligus menghinaku.
Aku turun dari ayunan dan menemuinya. "Apa maksud kamu ngejek aku kayak gitu?" Dia tertawa terbahak-bahak.
"Gak sakit tuh lehernya liat aku?" Aku menatapnya sinis.
"Kamu cewek yang semalam gak sanggup manjat itu kan? Dasar pendek!" Dia menjulurkan lidahnya.
"Aku laporin ya sama kakak aku," ujarku hendak berlari ke rumah menemui kakakku.
Tapi kurasakan ada tangan yang menarik rambutku, membuatku meringis kesakitan sehingga aku harus mundur menuruti kemauannya.
"Aduh sakit, lepasin gak?! Dasar kamu, ompong!" Dia melepas rambutku membuatku menatapnya tajam.
"Kamu bilang aku apa, huh?!!"
"Ompong jelek!!" Kujulurkan lidahku mengejeknya dan berlari menjauh dari taman menuju rumah.
Dia juga terus berlari mengejarku dan kami habiskan waktu untuk saling mengejar bersama. Sore itu aku merasakan jantungku berdenyut.
Aku mungkin hanya anak kecil berumur 5 tahun yang polos dan lugu. Tapi inikah? Inikah cintaku? Diakah orangnya, yang akan menjadi ciuman pertamaku?
Malam ini aku memikirkan kemungkinan yang terjadi antara kami berdua untuk berjodoh. Kami dipertemukan dengan cara yang unik, saat dia tersenyum kepadaku, saat mata yang indah itu menatap mataku, saat dia mengejarku. Bukankah itu cinta?
Mama bilang, cinta sejati itu dipertemukan dengan cara yang unik. Aku pun memikirkan kejadian semalam saat dia mendorongku untuk memanjat gerbang Taman agar aku bisa masuk. Bukankah itu cukup unik?
Kurasa ini akan terus berlanjut hingga kami berdua menjadi pengantin waktu besar nanti. Dia cinta pertamaku, namanya.....
*Flashback off*
"Ayo ingat dia, Tamara. Gimana wajahnya? Kenapa lo kangen dia?"
Aku seperti ini lagi, apa gunanya selama ini aku mengasah otakku dengan membaca banyak buku tapi aku tidak bisa mengingat wajah orang itu?
Apa yang kulupakan pun aku tidak tahu. Kupukul kepalaku berkali-kali dan menarik nafas dalam-dalam, kurasakan keringat ku bercucuran karena berfikir terlalu keras. Aku merasa tersiksa setiap aku seperti ini. Aku merindukan seseorang yang tidak kuingat sama sekali.
"Aku benci sama kamu siapapun kamu itu! Aku benci!" Kutekan setiap kata yang kuucapkan sambil menjepit kepalaku dengan kedua tanganku. Kurasakan air mata dan keringat ku bercampur diujung daguku.
Aku tersiksa. Aku berjanji tidak akan memaksa diriku untuk mengingatnya dan membiarkan waktu menjawab pertanyaanku, karna semakin aku memaksa untuk mengingat dia, aku semakin benci dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lonely Princess
Teen FictionTamara adalah gadis Indigo yang penyendiri, kesepian dan pendiam di sekolahnya. Walaupun di rumah dia sangat di manjakan orangtua dan kakaknya yang bernama Denis. Namun tidak di sekolah. Tidak ada yang mau menjadi temannya, hanya seorang hantu yan...
