Bagian 23

11.9K 761 54
                                        

"Jadi apa kabar kamu dengan Angga?"

Pertanyaan itu sedikit menyambar telingaku seiring dengan suara hujan yang masih deras diluar sana.

"Maksudnya?"



Ia tersenyum nenunjukan giginya yang rapi. "Hmmm. Hubungan kalian. Apa lagi."





"Hubungan?"




"Iya, bukankah kalian sudah pacaran."

Pacaran. Pacar ? Aku pun sampai saat ini tidak tau apakah kita sudah resmi pacaran atau belum.

"Kenapa diam. Sudah jangan malu-malu sama aku. Seperti baru kenal saja." Bang Tama mencoba bergurau denganku. Kalimat itu apakah sama artinya dengan ceritakan kepadaku tentang hubunganmu ?


"Hehehe. Bisa aja. Oh iya silakan diminum tehnya."



"Aku minum ya?" Dia meminta ijin lalu mengangkat secangkir teh dihadapannya. Bukan aku tidak peduli ataupun tidak berminat bertanya balik, tapi aku sedang menjaga perasaanku sendiri. Aku takut hatiku runtuh lagi. Meskipun aku tau dari Mbak Suci kalau dia sepertinya gagal melanjutkan hubungan. Setidaknya dia adalah lelaki yang sudah mematahkan harapanku disaat harapan tengah mekar kala itu.





Dia melihat jam tangannya, lalu mendengus.

"Aduh, aku lupa. Mmm, maaf Ren. Aku harus kembali ke kantor mau menghadap komandan. Aku lupa komandan bilang harus menghadap jam dua. Sekarang sudah jam satu lebih. Takut telat bisa kacau." Ia menjelaskan padaku.




"Ohh gitu, tapi Mbak Suci masih pergi keluar. Apa kamu ngga nunggu sebentar?"





"Kaya'nya ngga bisa nih. Aku pamit sama Papa Mamamu saja."




"Oke, tunggu sebentar." Aku pergi kedalam memanggil Mama Papa. Mereka menyalami Bang Tama dan mengucapkan terimakasih. Aku antar ia sampai di teras rumah.



"Aku senang bisa ketemu kamu lagi. Aku ngga nyangka kalo kita ketemu disini. Semoga saja kita bisa ketemu lagi." Ia tersenyum padaku. Coba jelaskan arti senyum itu padaku. Aku sedang kesulitan menerka maksudnya.




"Yaaa semoga saja. Hmmm iya bang, terimakasih tadi atas tumpangannya dan sudah mau mengantarku sekalian mampir."




"Sama-sama. Aku balik dulu."



"Yaap." Aku mengangguk dan tersenyum kecil. Kulihat ia masuk kedalam mobilnya lalu membuka kacanya. Ia melambaikan tangannya padaku. Dan aku balas dengan lambaian tangan kananku. Setelah ia hilang dari pandanganku, aku kembali masuk kedalam rumah.





"Ternyata disini kamu banyak kenalan ya, Dek. Hebat. Cakep-cakep semua tentara juga." Mas Rio berdecak sambil menertawaiku. Aku melirik sinis padanya.




"Renita giliran yang ngedeketin semua cakep sopan ngga pernah cerita sama Mama." Mama menambahi.





"Apa sih, Ma. Semuanya tuh teman. Sama aja ko."




"Papa ngga ngelarang kamu untuk pacaran, Ren. Tapi Papa lebih senang kalau lelaki yang dekat sama kamu tuh sopan, ramah, baik dan akhlaknya terutama. Lelaki yang baik tuh bisa membawa kamu pada hal yang lebih baik, bukan buruk. Daripada laki-laki yang bertato bertindik seperti waktu lalu. Papa heran kamu nemu laki macam itu dimana. Ko bisa juga kalian sayang." Papa menasihatiku.




"Iyaa, aku khilaf waktu itu, Pa."




"Hmmm khilaf, dulu curhat sama Mas bilangnya sayang pake banget. Ren Reni. Wkwkwk." Mas Rio menertawaiku lagi.





CINTA SI GADIS JAKARTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang