AUTHOR
Sudah sekitar 20 kali Alvin bolak-balik di depan Randika, entah apa yang sedang dia lakukan. Mending kalo jalannya biasa aja, ini udah jalannya hampir kaya orang mau jogging belum lagi mukanya yang mengkerut mulu dari tadi.
"Lo ngapain sih anjir?" Ketus Randika karna udah risih daritadi ngeliat Alvin mondar-mandir.
"Lagi latihan gerak jalan nih."
"Sejak kapan jadi anak paskibra?"
Mendengar pertanyaan Randika, Alvin terkekeh geli. Ingin rasanya dia makan pacarnya itu sekarang, siapa yang sanggup dihadapkan sama muka unyu Randika kalo lagi bersikap polos begitu ? bahkan orang straight sekalipun juga pasti berniat buat nyulik Randika sekarang.
"Geser hush!" Alvin menghentikan aktivitas mondar-mandirnya dan duduk di sebelah Randika─kursi yang mereka dudukin itu kecil banget dan Alvin maksa buat satu kursi sama Randika─Tapi entah karena merasa kesempitan sama kursinya atau emang Randika lagi pengen godain Alvin, dia beranjak dari dudukannya dan malah duduk di pangkuan Alvin. Randika memegang kedua pipi Alvin dengan telapak tangannya lalu menatap iris Alvin dalam-dalam.
"Kenapa lo?" tanya Randika perlahan, ia paham betul dari sorot mata Alvin ada yang mengganggu pikirannya.
"Gue grogi masa, Dik? Hehe." jawab Alvin. Ia kemudian menaruh kedua tangannya ke pipi Randika sama dengan yang dilakukan Randika.
"Kalo gitu gak usah ngomong sekarang kalo lo belom siap? Ini kan masalah gue juga." suara Randika melemah, dia bukan kecewa sama Alvin, dia kecewa sama dirinya sendiri yang harus melibatkan Alvin.
"Nggak sayang, kita harus ngomong hari ini juga. Gue bukan grogi buat ngomong sama bunda lo kok, gue grogi kalo nanti gue salah ngomong aja. Dan satu lagi, kita itu sekarang udah pacaran, masalah lo akan jadi masalah gue juga. Susah atau pun seneng kita harus hadapin sama-sama" jawab Alvin memberikan senyuman sempurnanya.
Randika kemudian memeluk kekasinya itu dengan erat, ingin rasanya dia tetap memeluk Alvin tanpa harus menghawatirkan jawaban dari bundanya itu. Ingin rasanya ia tetap seperti ini tanpa memikirkan orang lain. Alvin menarik pelan tengkuk Randika, lalu memberikan kecupan di bibirnya ,hanya kecupan tanpa lumatan beberapa detik.
Namun tanpa mereka sadari, mereka gak benar-benar sendirian di rumah ini. Memang Bundanya dan yang lainnya sedang pergi keluar untuk menikmati suasana desa. Tapi ada Dudung yang berada di balik lemari memperhatikan aksi mereka berdua.
"B-bang Ran- Di- Ka?!" Dudung lemas setelah melihat Alvin yang mencium Randika, dia masih shock menatap ke arah mereka berdua. Buru- buru Dudung beranjak dari tempatnya sebelum mereka berdua menyadari keberadaan Dudung.
Dudung berjalan tanpa arah. Dipikirannya masih terngiang-ngiang jelas adegan Alvin dan Randika. Dia gak habis pikir kalo sahabatnya itu bisa ciuman sama cowok. Dudung tau benar kalo Randika masih suka cewek meskipun dia belum pernah pacaran.
Tanpa sadar Dudung menabrak seseorang yang sedang berlari ke arahnya, badan Dudung yang kekar itu sontak membuat orang itu jatuh tersungkur ke tanah yang berisikan bebatuan tajam.
DUDUNG
"BRUK... Aww... "
Sangking paniknya, gue gak sadar lari tau-tau nabrak orang. Mana orangnya jatoh sampe kepental gitu ketabrak sama gue.
"Eh sorry. Lo gak kenapa-kenapa?" tanya gue sambil membantunya bangun.
"Nggak apa-apa kok... sshh..." jawabnya, tapi mukanya masih aja meringis kesakitan.
"Ikut gue! itu harus diobatin kalo nggak infeksi."
"Eh... Beneran nggak papa ini gue."
"Udah buruan sini!" gue manarik orang tadi untuk mencari tumbuhan obat-obatankebetulan kita lagi di deket-deket kebun Emak. Jadi banyak deh tanaman obat-obatan di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Am Wrong ✔
Humor[COMPLETED] ‼️BxB, nsfw, harsh word‼️ Randika adalah seorang siswa baru di asrama khusus atlet. Berkat bakat pesepak bola yang dimilikinya, ia bisa tinggal di asrama idamannya itu. Namun, ekspetasinya tentang keseruan tinggal di asrama hilang ketik...
