Farensa keluar dari mobil Romeo dan memberikannya lambaian tangan. Kakaknya itu berjanji akan menjemputnya setelah ia selesai kuliah. Memasuki kelas, Farensa memperhatikan beberapa orang yang sudah ada di ketlas. Termasuk Cika, saudaranya yang terlihat membencinya. Daddy menceritakan kalau Cika adalah adik sepupunya yang sudah tidak memiliki orang tua. Jadi, mereka membesarkannya seperti anak sendiri. Tapi, Farensa tidak mengerti dengan sikap Cika yang terlihat membencinya.
Farensa memasuki kuliah perbisnisan. Ia ingin seperti daddy dan kakak-kakaknya yang mengembangkan banyak usaha. Ia duduk di bangku yang berada di pojok kanan. Meladeni Cika, sama saja ia menyatakan dirinya sama tidak warasnya dengan gadis itu. Beberapa orang menyapa Farensa ramah, bisa di bilang orang-orang itu yang tidak masuk daftar sebagai teman dekat Cika.
“Ya, dia cuman anak pungut, kok. Keluarga gue emang sering berbuat amal.” Ucap Cika dengan keras. Seakan sengaja agar seluruh kelas mendengar suaranya. Farensa tak menghiraukan ucapan Cika dan memilih mengacuhkannya.
Kelas pertama sudah berakhir, Farensa ingin pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku. Ada beberapa pelajaran yang kurang di fahaminya. Mungkin jika ia bertanya dengan daddy, ia akan menjelaskannya lebih mudah daripada dosen itu. Melewati lorong kampus, Farensa terkejut saat seseorang menabrak bahunya dengan keras dari belakang. Ketika ia menoleh, Cika sedang memasang wajah munafiknya.
“Maaf, gue gak sengaja.” Ucap Cika. Farensa tak mengacuhkannya dan mengambil beberapa bukunya yang terjatuh. Dengan sengaja Cika menendang buku yang berada di hadapan Farensa. Merasa kesal, Farensa berdiri dan mendorong Cika ke tembok pilar.
“Apa sebenarnya masalahmu?” Farensa tidak mengerti dengan Cika yang tiba-tiba terlihat lemah dan ketakutan.
“Cika, kamu baik-baik saja?” Farensa menoleh pada pria yang beberapa hari ini selalu ada di sekitar Cika. Seperti seorang bodyguard yang selalu setia menemaninya.
“A…aku baik-baik saja, Fidel.” Ucapnya dengan nada lemah dan tak berdaya. Padahal, beberapa waktu lalu, ia terlihat menyebalkan dan berkuasa. Farensa merapihkan seluruh bukunya, hendak pergi meninggalkan dua burung merpati itu.
Beberapa langkah Farensa berjalan, sebuah tangan dengan tiba-tiba menahannya dengan keras. Farensa menoleh dan menatapnya kesal. Ia tidak tahu apa masalahnya pada dua merpati ini. Tapi, kedunya terlihat sangat membencinya. Sejak di rumah, Cika yang memberikan tatapan kebenciannya. Lalu sekarang, laki-laki ini juga menatapnya dengan kebencian. Tanpa Farensa tahu apa kesalahannya.
“Aku tidak tahu atas dasar apa kebencianmu pada Cika. Tapi, jika kamu menyakitinya lagi. Kamu akan berurusan denganku!” Ucapnya. Laki-laki itu segera melepaskan cekalannya di bahu Farensa dan kembali pada kekasihnya. Laki-laki itu sudah buta. Ia tertipu oleh wajah polos Farensa. Kenyataannya, gadis itu sangat licik dan munafik. Ia tidak pernah menampakan pada siapapun wajah itu. Hanya pada Farensa.
****
Cika menunduk takut saat daddy memanggilnya. Bukan hanya daddy, Romeo dan Ryan pun ada di ruangan ini dan menatapnya dengan sangat menyeramkan. Cika tahu, ini pasti karena Farensa yang mengadukannya. Karena kedatangannya, posisinya di rumah ini menjadi tidak seperti dulu. Jika dulu ia bisa bertindak sesukanya, paling tidak ia bisa meminta perlindungan pada mommy. Tapi sekarang, ia tak memiliki kuasa apapun di rumah ini. Ia hanya sampah tak berarti.
“Kamu mengatakan Farensa anak pungut? Apa kamu tidak berkaca sebelum bicara?” Ucap Rey dingin. Cika semakin tertunduk takut. Romeo dan Ryan tidak berucap apapun. Tapi, tatapan mereka sudah cukup membuatnya ketakutan. Cika tersentak saat Rey mencengkram wajahnya dan membuatnya menatapnya. Cika ingin menangis, ia merasa sakit dengan cengkraman Rey.
“Jika bukan karena istri saya yang meminta agar kamu tetap di rumah ini. Kamu sudah saya jadikan gelandangan di jalan.” Cika tak bisa menahan rasa sakitnya. Bukan hanya di pipinya, tapi juga di hatinya. Farensa yang baru datang ke rumah ini, mendapatkan tempat yang begitu besar di hati seluruh keluarga. Sedangkan dirinya, sembilan belas tahun ia berada di rumah ini. Sedikit pun tidak ada tempat untuknya.
“Hentikan tingkahmu itu, atau aku akan menghentikan pernikahanmu dengan pria itu!” Ucap Rey. Ia melepaskan cengkramannya dari wajah Cika, membuatnya terdorong dan hampir terjatuh. Rey berbalik dan meninggalkan Cika, Romeo dan Ryan masih memperhatikannya. Tidak membantunya, atau pun memeluknya. Keduanya hanya menatapnya dengan kebencian. Lalu pergi meninggalkannya. Cika menunduk, ia menangis dengan takdir yang tergaris di tangannya. Ia tak pernah ingin menjadi putri angkat keluarga Vivaldi, ibunya yang membawanya ke sini. Tapi, kenapa ia yang harus di hukum? Mereka membencinya, menghukumnya, atas apa yang tidak pernah Cika lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
gentleman
RomanceOpen PO Gentleman by Fanyandra Rp.73.000 #Blurb Aku tak pernah tahu cinta itu adalah rasa yang paling menyakitkan. Luka yang sulit di sembuhkan. Dan tak akan hilang hanya dengan sedikit harapan Fidel Garwine. Semua yang aku alami membuat hatiku beku...
