LIMA

11.1K 1.1K 75
                                        

"Laras."

Laras terkejut saat tiba-tiba saja Gary sudah berdiri di dekatnya. Gadis itu baru saja akan mengayuh sepedanya pulang. Angin malam meniupkan rambut panjang Laras yang diikat, dan memainkan anak rambutnya, membuatnya harus merapikannya beberapa kali karena menghalangi pandangannya. "Ada apa?"

"Aku senang kamu bersedia menikah dengan Kai."

Laras mengangkat bahu.

"Kulihat kamu tidak menjual mawar pemberianku."

Kedua pipi putih Laras bersemu. Ia berharap Gary tidak melihatnya di bawah keremangan bayang-bayang pepohonan.

Jadi Gary juga tahu bahwa aku suka menjual mawar pemberian Kaisar? Ah, tentu saja. Pasti Kaisar bercerita.

"Aku... suka mawar putih," dalih Laras. Ia suka mawar, warna apa pun. Tapi karena pemberian Gary, ia tidak tega menjualnya. Atau entah ada sebab lainnya.

"Benarkah? Kalau begitu akan kuberi tahu Kai bahwa kamu lebih suka mawar putih——"

"Itu tidak perlu," potong Laras cepat. "Maaf, aku harus segera pulang."

"Hari ini... aku ingin mentraktirmu makan malam."

Laras menatap Gary bingung.

"Di cafe dekat sini saja."

"Aku——"

"Jangan menolak, please."

Laras menuntun sepedanya mengikuti Gary. Mereka berhenti di depan sebuah cafe dengan bangunan bernuansa kayu berdinding anyaman bambu. Lampunya tidak terlalu terang, sehingga menyuguhkan suasana yang romantis. Laras sering melewati cafe ini, berharap suatu saat bisa makan malam di sana bersama seseorang yang dicintainya, entah kapan. Dan, sekarang....

"Ayo." Gary meraih tangannya dan menuntunnya memasuki cafe. Mereka mengambil tempat duduk lesehan dengan view taman belakang yang ditumbuhi pohon-pohon besar.

Jantung Laras berdegup dengan kencang. Ia menyukai tempat ini, suasananya yang tenang dan sejuk. Tapi... salahkah jika saat ini ia merasa senang bersama Gary? Dulu, ia sedikit menyukai Gary, tetapi hanya sebatas teman. Meskipun playboy, pria itu baik padanya. Kini... apakah pria itu masih tetap berkencan dengan banyak perempuan?

"Mau pesan apa, Laras?" Pertanyaan Gary membuyarkan lamunannya.

"Aku... terserah saja. Kan kamu yang mentraktir."

"Kamu boleh memesan apa pun yang kamu mau."

Laras berdeham. Ia menatap Gary. "Aku... minum saja, makanannya dibungkus."

Gary memamerkan senyumnya. "Makanlah di sini, kamu tenang saja, kamu boleh membawa pulang makanan untuk keluargamu."

"Tidak usah——"

"Jangan menolak. Aku tahu kamu selalu memikirkan keluargamu."

Laras menunduk. "Baiklah. Terima kasih...."

"Tidak masalah. Sekarang kamu pilih makanan untukmu dan untuk keluargamu."

Laras mengangguk-angguk senang lalu mulai memilih.

Setelah sang waitress pergi, Gary mencondongkan tubuh ke tengah meja, matanya menatap Laras tajam. "Jika ingin mempertahankan pernikahanmu nanti, kamu harus bisa membuat Kai mencintaimu dan tidak ingin melepaskanmu."

Jantung Laras berdenyut nyeri. Entah kenapa rasanya ia ingin kabur dari semua ini. Keputusan ini terasa mencekiknya. Sepertinya ia telah salah melangkah, karena saat ini ia malah ingin bersama dengan Gary. Bukan Kaisar.

"Aku... tidak tahu apakah bisa melakukannya atau tidak," sahut Laras pelan. Ia menunduk, tidak berani menatap Gary sementara jantungnya berdebar-debar.

Tiba-tiba tangan Gary menggenggam tangan kanan Laras yang berada di atas meja. "Kamu pasti bisa, Laras. Aku sangat yakin itu. Aku akan mendukungmu."

Laras melepaskan tangannya. Ia menggeleng pelan.

Gary mendongakkan dagu Laras, mengejutkan gadis itu. "Kamu adalah perempuan yang kukagumi selama ini. Kamu pasti bisa."

Kedua pipi Laras merona.

"Kamu sangat cantik jika sedang malu-malu seperti ini, membuatku ingin menciummu."

Cium? Seketika jantung Laras berdentam-dentam kala teringat ciuman pertamanya yang telah direbut Kaisar. Ah, dasar pria kaya itu! Beraninya dia melakukan hal itu padahal mereka belum menikah!

"Bagaimana rasanya berciuman dengan Kaisar kemarin?" tanya Gary, kini ia telah melepaskan Laras. Ia duduk sambil bersidekap, menanti jawaban Laras.

"Bukan urusanmu."

"Bagaimana jika aku menciummu sekarang?"

"Apa maksudmu?" tanya Laras terkejut.

Gary tertawa kecil. "Aku hanya bercanda. Ah, itu makanannya datang. Aku sudah sangat lapar, dan kukira kamu juga begitu."

Laras bingung akan sikap Gary padanya. Pria itu... serius atau hanya menggodanya? Selama makan malam, mereka tidak mengobrol, fokus pada santapan masing-masing.

🍁🍁🍁

Keesokan malamnya, giliran Kaisar yang mengajak Laras makan malam. Pria itu membawa Laras ke sebuah cafe di tepi pantai, cukup jauh dari tempat kerja Laras juga rumah gadis itu. Mereka duduk di outdoor, beralaskan pasir pantai yang tidak putih.

"Kenapa jauh sekali kamu membawaku?" tanya Laras setelah memesan menu untuk makan malam setelah dipaksa Kaisar. Nafsu makannya hilang karena merasa ketakutan di sepanjang perjalanan, takut jika Kaisar akan membawanya ke suatu tempat lalu melakukan hal-hal terlarang padanya.

"Kemarin kamu makan malam dengan Gary," ucap pria itu memulai. Ia tidak menjawab pertanyaan Laras. Matanya menatap Laras, menuntut jawaban, sementara angin beraroma asin meniupkan anak-anak rambut Laras yang terlepas dari cepolannya. "Kamu bingung kenapa aku bisa tahu? Gary mengatakan padaku bahwa kemarin ia mengajakmu makan malam untuk menggantikan aku yang sedang ada acara bersama keluargaku." Pria itu mengembuskan napas, terlihat kesal. "Seharusnya Gary tidak melakukannya, itu tidak perlu. Dan, kamu juga, jangan menerima tawaran Gary. Dia bukan pacarmu. Akulah——"

"Kita belum menikah, jadi aku bebas pergi dengan siapa saja," tukas Laras.

Wajah Kaisar tampak menggelap oleh emosi yang berkecamuk. "Kita ini sedang berpacaran, dan akan segera menikah. Seharusnya kamu bisa setia pada hubungan kita!"

Laras menelan ludah. Ia tidak menduga Kaisar akan semarah ini——pria itu sedikit membentaknya. "Aku tidak berselingkuh, aku hanya makan malam dengan Gary!"

"Aku tidak suka jika wanitaku bersama dengan pria lain selagi berhubungan denganku!" Mata pria itu seolah dipenuhi kobaran api. "Jangan pernah melakukannya lagi! Kamu seharusnya bisa menolaknya!"

Laras malas untuk membalas ucapan Kaisar, jadi ia hanya mengangguk. Pria ini... cemburu atau marah? Atau hanya tidak suka jika wanita 'miliknya' bersama pria lain? Laras tidak ingin mencari tahu.

🍁🍁🍁


Sejak malam itu, Kaisar hampir setiap hari menjemputnya dan mengajaknya makan malam. Atau mengajaknya menonton bioskop. Laras yang merindukan Gary, menemani Kaisar dengan setengah hati. Sampai pria itu menyadarinya saat mereka tidak sengaja bertemu dengan Gary yang tengah menggandeng lengan seorang wanita cantik di bioskop.

"Wah, kebetulan sekali." Gary menyapa mereka dengan ramah.

Laras tidak suka pada wanita yang mengenakan gaun dengan sepasang payudara yang hampir meloncat keluar itu menempeli Gary dengan mesra. Wajah Laras menunjukkan kecemburuannya, dan Kaisar menyadarinya. Laras tidak menyadari hal itu hingga Kaisar menyentakkan lengannya kasar ke arahnya, lalu pria itu menunduk dan memberikannya ciuman kasar, di tengah-tengah keramaian pengunjung bioskop.

🍁🍁🍁LIMA🍁🍁🍁

Emerald, 10 Juli 2017

Maaf baru update, baru senggang buat nulis. Hehe. Semoga suka. ^^

LARASATITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang