"Sugar!" seru Juan yang masih menatap Cara membeku terdiam. Ia membuka jaketnya yang kotor dan meleparkan ke belakang. Menggeser tubuhnya untuk mengambil sebuah jaket yang tengah tergantung di pintu belakang mobil. "Mau sampai kapan kau terus melihatku seperti itu?" tanya Juan.
Masih sama. Cara hanya berkedip. Meyakinkan dirinya berkali-kali dengan apa yang ia lihat di depannya. Idolanya. Artis favoritnya. Penyanyi yang ia puja-puja. Lagu-lagunya yang selalu ia dengarkan setiap hari.
Juan menarik napas panjang. Ia menarik kedua tangan Cara. Tubuhnya tertarik dan wajahnya berhadapan dengan dada Juan.
Cara tersadar dari diamnya. "Juan?!" ucapnya.
Juan menggulung jaket dan mulai memasukannya melalui kepala Cara. Saat seluruh jaket tersebut sampai di leher, ia berhenti lalu memundurkan tubuh. "Masukan tangannya?!" ujar Juan yang masih memegangi jaket tersebut.
"Hah?" Cara hanya menatap wajah Juan dari jarak sangat dekat.
"Masukan tangannya. Pakai jaketnya." Juan menahan tawa melihat raut bingung Cara.
"Oh," Cara memasukan kedua tangan ke dalam jaket layaknya seorang anak yang tengah dipakaikan pakaiannya.
Kedua tangan Cara tenggelam dalam jaket milik Juan yang berukuran besar, bahkan tubuhnya pun nyaris menghilang di dalam jaket tersebut.
"Cute," Juan tersenyum.
"Kau ... Maluma?"
"Iya aku Maluma," Juan mulai menjalankan mobilnya.
"Kenapa bisa?" tanya Cara yang merebahkan kepala yang mulai kembali terasa sakit.
"Hahahaha ... karena takdir yang mempertemukan kita," Juan melirik Cara yang mulai menutup kedua matanya. "Tidur lah," Juan membenarkan jaket dan memfokuskan pandangannya pada jalan.
~~~
Cara membuka perlahan kedua matanya. Pandangannya sedikit buram. Berkali-kali ia mengedipkannya agar mulai menyesuaikan dengan cahaya di sekitar.
Rasa sakit di kepalanya sudah menghilang, tubuhnya terasa segar kembali. Ia menolehkan ke arah kanan, dimana Juan tengah duduk tertidur di sofa tidak jauh dari tempat tidurnya.
Cara mendudukan tubuh. "Ah ...." Pekiknya mengernyit sakit.
Juan terbangun dan lekas berpindah duduk di sisi tempat tidur. "Hati-hati. Nanti jarum infusnya bisa lepas," Juan menggenggam lengan Cara yang terbalut kasa, untuk menutupi jarum yang masuk ke dalam pembuluh darah.
"Ini di mana?" serak Cara.
Juan mengambilkan segelas air untuknya. Lekas Cara meminumnya hingga habis.
"Dirumah ku. Semalam kau pingsan sepertinya. Demam tinggi. Karena bingung, aku bawa kamu kemari dan dokter pribadi aku langsung memberikanmu infus serta obat. Apa masih sakit kepalanya?" Juan mengambil gelas yang berada di tangan Cara dan menaruhnya kembali.
Cara hanya menggelengkan kepala. "Wajahmu juga sudah diobati," ucapnya sembari menatap beberapa luka yang sudah tertutup plester coklat.
Cara memerhatikan baju yang ia kenakan. Rasanya, ia tidak memakai sebuah dress peach sebelumnya. "Ini ...." Cara menarik selimut dan terkejut.
"Hahahaha ... tenang saja. Ibuku yang menggantikan bajunya, bukan aku!" Juan kembali menahan tawa saat wajah Cara mulai memerah.
Keduanya terdiam dan asik saling menatap satu sama lain. Juan tersenyum lebih dulu. "Ternyata kau jauh lebih cantik dari jarak sedekat ini,"
KAMU SEDANG MEMBACA
DON JUAN
RomanceROMANCE-FAN FICTION 18+ Apa jadinya kalau seorang Idola menyukai salah satu penggemarnya dan menjadi seorang secret admirer ? #1 Maluma FanFiction Indonesia IG: Maluma_id -Mei 2017- Copyright © Silvia Pratidino. All Rights Reserved.
