BALADA KERIPIK SINGKONG

33 7 5
                                    


"Mi, ni beli di mana?" tangan Erina masuk ke plastik yang berisi keripik, mengambil dua buah keripik yang ternyata bentuknya bergelombang, seperti yang sering kita lihat di tayangan tivi dengan slogan life is never flat, lalu masuk ke mulutnya.

Keripik bergelombang yang rasanya manis itu sepertinya bakal masuk dalam daftar cemilan Erina yang kesekian, setelah keripik serupa dengan macam varian rasa utama seperti pedas, gurih, dan asin yang sudah menyembul lebih dulu di daftar cemilan kriuk berbahan dasar singkong. Atau jangan-jangan anak perempuan Gen UK ini sudah memiliki ide yang lain terhadap keripik singkong manisnya itu? Entahlah.

"Mi, di mana, beline?" Erina mengulang pertanyaannya karena tidak mendapat respon dari Mami.

Dari mulutnya masih terdengar suara kriuk keripik yang saling beradu, tangannya sudah masuk lagi ke dalam plastik bening tanpa logo. Ya, tanpa logo. Sepertinya itu bukan makanan yang bisa didapat di supermarket atau toko-toko lainnya. Tidak seperti si empunya slogan life is never flat yang produknya bisa kita temukan dengan mudah di setiap supermarket.

Gigi-gigi Erina yang belum sempat mengambil waktu jeda setelah peremukan keripik dalam suapan sebelumnya, sudah harus menerima suapan keripik berikutnya yang harus diremukkan lagi untuk kesekian kalinya, demi mengikuti kemauan anak perempuan Gen UK yang masih memakai seragam putih merah siang itu.

Dua kali pertanyaannya belum membuahkan jawaban dari Mami, tidak membuat dia menjadi urung. Untuk ketiga kalinya ia menanyakan mengenai pembelian keripik yang menurutnya sangat enak, tapi sebelum ia menyelesaikan pertanyaannya, Adrian datang dari arah kamar dan diam-diam tangannya masuk ke dalam plastik yang dipegang Erina dan mengambil keripik manis bergelombang di dalamnya.

"Adriiaaaannnn!" Erina mengangkat tangan kirinya, berusaha menjauhkan plastik keripik itu. Tangan kanannya yang penuh remahan bumbu keripik manis berusaha menghalang-halangi Adrian agar tak bisa mengambil keripik lagi darinya. Tapi, berhubung tangan Adrian kecil, ia sudah sempat mengambil segenggam keripik, dan melarikannya menjauh dari Erina.

Dengan membawa keripik yang penuh di genggaman, Adrian berlari menghindari kejaran Erina yang berusaha mengambil kembali keripik yang berhasil dia ambil. Kejar-kejaran berlangsung seperti biasa, ala anak Gen UK. Adrian mulai melompati kursi hitam, lari menuju ruang keluarga, mengitari kursi goyang cokelat yang ada di tengah, kemudian menyerbu ke ruang makan. Sambil menghalangi Erina sedapat mungkin dengan menggunakan kursi-kursi plastik di ruang makan, Adrian terus berlari, meninggalkan remah-remah keripik yang berterbangan dari mulutnya yang terkekeh tiada henti.

Erina yang masih kesal dengan ulah adik semata wayangnya, tak mau kalah, terus berlari mengejar. Tanpa dia sadari, keripik berjatuhan satu demi satu dari plastik di tangannya.

"ERIN! RIAN! BERHENTI!" Mama meletakkan gagang telepon, beringsut menuju pintu kamar, matanya melotot, mulutnya mengatup rapat, dan lehernya menegang. Kedua tangan Mami berkacak pinggang, napasnya berkejar-kejaran, serta degup jantung yang semakin kencang ketika melihat ruang keluarga penuh dengan remah-remah yang ia duga itu adalah remahan keripik.

Kursi di ruang makan yang sudah ditata, kini jadi tak terarah. Gelas plastik di sebelah dispenser miring, dan banyak air di bawahnya. Sepertinya salah satu dari mereka sempat menyenggol gelas dan menumpahkan isinya.

"ERINA TARUMANJAYAAA!" Mami menarik napas dalam, dan berteriak memanggil anak perempuannya, kemudian melepaskannya kembali dengan bersuara keras setelah mengakhiri panggilannya pada gadis kecil berbadan tambun itu.

Seketika itu juga mereka berdua menghentikan acara kejar-kejaran. Dengan jantung yang masih berdegup kencang akibat kelelahan, ditambah lagi ketakutan karena panggilan Mami menunjukkan emosi berada pada level maksimal, Adrian mengibaskan tangan di celana pendeknya, sehingga menambah jumlah remahan keripik yang terserak di lantai putih rumah Gen UK. Alih-alih mendekat, Adrian justru terpaku ketakutan. Meski panggilan Mami ditujukan pada Erina, tetapi teriakan Mami itu justru lebih mengena pada Adrian yang memiliki sifat lebih sensitif.

Erina yang dirinya dipanggil, justru bertingkah biasa saja. Napasnya masih ngos-ngosan, keringat mengalir di dahi, memenuhi hidung dan filtrum pada bibir bagian atas, matanya melirik Mami, dan dengan suara yang keras ia menyatakan bahwa dia tak bersalah dan justru karena Adrian yang memulai, maka terjadilah kejar-kejaran yang mengakibatkan rumah berantakan.

"Minta maaf!" seru Mami pada Adrian yang masih terdiam kaku di sebelah pintu dapur.

*****

"Enak to, Mir. Pie? Monic, Danu, Terra," Erina berkeliling kelas, membawa keripik, satu buah pena dan buku kecil berwarna kuning dengan gambar harimau menganga di bagian tengah atas, dan di sebelah bawahnya bertuliskan 'NOTA KONTAN'.

"Aku dua bungkus, Rin." ujar Dani dari depan papan tulis. Mulutnya masih mengunyah keripik yang diambil saat Erina membagikan keripik miliknya.

"Aku satu ya, Rin," jawab Mira sambil mengangkat jari telunjuknya.

"Dua," ujar Monic setelah menghabiskan keripik di mulutnya, dan menyerahkan dua lembar uang seribuan.

Erin terus mencatat dan membiarkan teman-teman mencicipi kripik yang dipegangnya, dan berusaha menghalangi mereka yang terus mencicip tanpa memesan.

"Makasih yo." tukasnya seraya merapikan meja Fery yang dipakai untuk mengggelar lapak setelah lebih dari dua belas anak memesan keripik dagangannya.

Lima belas menit waktu istirahat yang bermanfaat bagi Erina untuk berjualan. Saat Bu Sri masuk, semua sudah rapi, dan anak-anak duduk di tempatnya untuk kembali mengikuti pelajaran.

*****

Siang itu cuaca masih sama seperti kemarin. Matahari bersinar sangat terik. Sepulang sekolah, Erina dijemput Mami, dan dia duduk di kursi belakang. Mami masih fokus menyetir, Adrian duduk manis di kursi depan sambil bergoyang mengikuti irama chicken dance yang diputar di mobil.

"Mi," Erina membuka percakapan, dan hanya mendapat deheman manis dari Mami.

"Mi," lanjut Erina untuk yang kedua kalinya. Lagi-lagi deheman manis yang dia dapatkan.

"Mi!" teriak Erina tak sabar karena merasa Mami lagi-lagi hanya berfokus pada jalan raya dan sesekali melirik Adrian.

"Heee?? Apa sih. Jalanan rame ni lho, Rin!" Mami berteriak tak kalah keras. Jalan-jalan di kota memang selalu ramai dan padat setiap jam pulang sekolah.

Setelah merasa panggilannya mendapat respon, mulalilah terjadi pembicaraan yang sangat serius antara Mami dan anak perempuannya.

Erina : "Mi, besok aku minta keripik yang kaya kemarin, ya." (memasukkan roti ke dalam mulutnya)

Mami : "Lah," (melirik spion tengah, kemudian kembali fokus menyetir) "Di lemari makan tu lho masih ada dua plastik. Abisno ndak apa-apa nek kamu doyan."

Erina : "Lhooo ..., ndak cukup to, Mi. Wong meh takjual ni lho. Sek," (suaranya memelan, karena fokus mencari buku nota yang dipakainya untuk mencatat pesanan.)

Mami : (membunyikan klakson) "Apa? Pie? Ndak denger."

Erina : (Membuka lembar demi lembar buku berwarna kuning dan menghitung lembar merah jambu sebagai bukti pemesanan yang sudah lunas) "Nah, ini lho. Dah akeh seng pesen, Mi. Besok aku kudu bawa. Dani dua, Mira satu tok, sih. Tapi Ari, Terra, Monic, ...,"

Mami : "Hah?" (Mata membelakak, melirik spion) "Ya ampun, Rin. Lah apa mbok juali." (menghentikan mobil di depan minimarket)

Erina : "Lha ya kemarin tu aku dah tanya Mami, ini keripike beli di mana." (memasukkan nota ke dalam tas) "Mami wae seng ndak peduli sama aku."

Mami : (duduk menghadap samping, mobil berhenti) "Eh, Mami tu kemarin lagi telpon Tante Heni, ngomong terimakasih karna dah dikasih keripik seng mbok makan itu. Lha sekarang malah mbok jual, mosok Mami kudu minta lagi?"

Erina : "Ah, Mami ndak seru. Besok nek podo nagih aku pie jal?" (memonyongkan bibirnya)

Mami : "Lha ya wes to, nek dah podo bayar, uange kembalike, trus minta maaf."

Mami kemudian menyalakan mesin mobil, setelah memperbaiki duduknya kembali menghadap setir. Ia kembali fokus mengendarai roda empatnya untuk melanjutkan perjalanan pulang di bawah terik matahari, menembus ramai kendaraan besar yang berlalu lalang sepanjang jalan, dengan membawa seorang anak laki-laki yang sudah mulai tertidur di depan, dan seorang anak perempuan yang sedang duduk bersila di atas kursi mobil, dengan bersedekap, dan mata melirik tajam ke sebelah kiri, serta mulut yang mengerucut tajam karena keinginannya tak terpenuhi dan memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.

Gen •UK•Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang