MAKAN MALAM

38 10 4
                                    


Bu Ulfa bersenandung kecil seraya memindahkan nasi goreng bakdang (bakso dan udang) yang baru matang dari wajan ke dalam piring saji yang besar. Tangan kanannya menaburkan bawang goreng, yang membuat nasi goreng semakin harum dan menggugah selera.

Setelah itu, Ibu dua anak ini mengambil kulit tomat merah dan hijau yang sudah disiapkan di dalam kulkas, lalu menggulungnya hingga menyerupai bunga mawar yang merekah, kemudian meletakkannya di atas nasi goreng itu.

Tidak hanya sampai di situ, Bu Ulfa juga mengambil sebatang daun bawang dan mengeratnya sedemikian rupa hingga menyerupai gulungan hias yang sangat cantik, lalu menyematkannya di kanan kiri bunga dari kulit tomat yang sudah terlebih dulu bertengger manis di atas nasi goreng.

Mami juga mengambil dua buah cabai merah teropong, lalu dengan pisau kecil nan tajam, cabai dibelah, dan dibuanglah semua biji yang ada di dalamnya, kemudian Bu Ulfa mengukirnya menyerupai batik, dan meletakkannya di atas nasi goreng bakdang kesukaan anak-anak sebagai sentuhan terakhir masakannya untuk makan malam suami dan kedua kurcaci kesayangan, Erina dan Adrian.

"Makaaaann...," ujar Mami memanggil suami dan anak-anaknya sembari meletakkan semangkok penuh nasi goreng yang memancing perut-perut kelaparan di tengah-tengah meja makan bulat, kemudian tiga telur mata sapi setengah matang, dan tiga lagi yang matang sempurna, ia susun di atas piring kecil di depan mangkok yang berisi nasi goreng. Dengan sigap Ia mengambil piring di lemari makan, dan menatanya untuk Suami, Erina, dan terakhir untuk Adrian.

*Cerita (bukan Derita lho, ya) ibu rumah tangga, sebelum anak dan suami selesai makan, rasa-rasanya makanan apapun tidak akan bisa tertelan dengan benar. Mungkin tersangkut di kerongkongan, entahlah. Untuk itulah Bu Ulfa hanya menyediakan tiga piring. Ia akan makan paling terakhir, setelah semua selesai dan kenyang.

"Asyiikk... Nasi goreeeng...," teriak Erina sambil setengah berlari menghampiri meja makan. Ia memajukan kepalanya, dan dengan hidung yang sedikit tersembunyi di antara pipi, atau lebih kerennya hidung yang mungil, alias pesek, ia membaui nasi goreng dengan gayanya menggerakkan cuping hidung ke atas dan ke bawah dengan cepat. Kemudian menarik napas panjang, dan menahannya untuk menjaga aroma nasi goreng di hidungnya. "Papiii..., Adriaaaannn...., cepaaat. Aku dah lapaaaarr...," teriaknya lagi memanggil Pak Kevin dan Adrian, lalu menghembuskan napasnya yang sempat tertahan.

Papi datang dengan menggendong Adrian di atas bahunya. Ia membungkukkan badan, mengambil Adrian dari bahunya, dan mendudukkannya di atas kursi cokelat. Pak Kevin sendiri bergegas menuju wastafel, dan mencuci tangannya, yang kemudian diikuti Erina dan Adrian. Mereka bergantian mencuci tangan. Kebiasaan baik yang ditanamkan di Gen UK untuk cuci tangan sebelum makan memang perlu dilestarikan. (barang langka kali, ah.)

Seusai mencuci tangan, Papi mengeringkan tangannya pada handuk hijau yang tergantung tepat di sebelah wastafel. Ia melangkah menuju meja makan, dan duduk di kursi cokelat, dan lagi-lagi diikuti kedua anaknya. Setelah mengeringkan tangan, Masing-masing duduk di kursi tepat di depan piring yang sudah disediakan Mami di atas meja. Piring ungu untuk Adrian, dan piring Mickey Mouse (lebih tepatnya Minnie Mouse) berwarna pink milik Erina

Papi, Erina, Adrian dan Mami telah duduk mengelilingi meja makan. Erina memperbaiki posisi duduknya, tangan kanannya mencoba untuk menggapai nasi goreng, namun masih terlalu jauh. Ia menarik kursi supaya lebih dekat dengan meja, agar nasi goreng bisa dengan mudah berpindah ke piringnya, lalu mencoba lagi untuk meraih nasi goreng, dan kini tangan kanannya berhasil menyentuh sendok nasi. 

Erina menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya, disusul sepotong telur mata sapi, dan bakso. "Mi, hehok hahi hein hahahan hoho, ya," ("Mi, besok pagi Erin sarapan soto, ya,") ujarnya saat memasukkan krupuk ke dalam mulut.

Gen •UK•Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang