"Adriaaannn, sini kamu!"Erina berlari dengan tangan kanan membawa koran yang sudah digulung-gulung dan tangan kirinya memegang tempe mendoan. Sambil sesekali memasukkan mendoan ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan cepat, Ia terus mengejar Adrian yang memang sudah ada jauh di depan.
Seperti biasa, rintangan terbuat dari barang-barang yang memang sudah ada di rumah. Mulai dari kursi hitam, lemari, rak buku, kursi plastik, meja makan, meja kerja, semua tersusun secara tidak langsung sesuai kecepatan lari dan tangan Erina dan Adrian. Tapi untuk memang masalah bentuk dan kerapian, nggak usah dibahas lah ya. Mana mungkin rapi kalau mereka kejar-kejaran, dan meninggalkan potongan-potongan tempe mendoan di antara perabotan rumah tangga keluarga Gen UK yang sudah entah bagaimana bentuk dan rupanya.
"Jangan lariiiii!"
Lengkingan suara Erina semakin meninggi. Mungkin bukan cuma Adrian yang harusnya mendengar, tapi Pak RT yang rumahnya di ujung gang, atau Pak RW yang rumahnya berjarak dua gang dari rumah keluarga Gen UK, juga mendengar suara merdu Erina dengan range dua oktaf.
Hanya saja, sepertinya mereka agak acuh dengan situasi Gen UK. Bukan masalah apa-apa juga, sih. Bukan karena mereka tidak perhatian dengan keluarga Pak Kevin Tarumanjaya. Tapi seluruh komplek SEMUT sudah mengenal keluarga ini. Jadi, kalau hanya sebatas lengkingan suara Erina dengan diselingi tawa Adrian, yang terkekeh-kekeh, itu masih hal yang biasa terjadi antara kakak beradik Gen UK dan bukan sesuatu yang urgent untuk ditolong. Kecuali jika sudah ada suara Pak kevin yang biasanya pendiam, mulai memanggil, itu barulah pasti ada sesuatu yang urgent dan harus dihampiri untuk segera ditolong. Seperti kasus Pak Kevin saat melihat ular di bawah meja setrika. (lihat Part. Ular)
"Hayo, tangkap aku nek isa." Adrian menjulurkan lidah sambil menggoyang-goyang pantatnya ke kiri dan ke kanan dari balik kaca jendela ruang tengah. Jelas saja itu semakin menyulut emosi Erina yang dari tadi berusaha mengejar adik laki -lakinya, namun belum juga tertangkap.
Erina meradang, matanya melotot, napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang. Meski urat-urat di leher tidak juga terlihat karena tertutup banyak lemak, tapi amarahnya sudah terlihat sangat jelas dari mulut mungilnya yang mulai berkerut, maju, diputar-putar searah jarum jam, kemudian kembali berbalik arah. Sejenak bibir yang dikondisikan untuk mancung itu berhenti di sebelah kiri, kemudian dengan cepat berputar lagi dan berhenti di sebelah atas kanan.
"Awas koe ya. Tak bilangke Mami, nanti!" suara Erina terlihat kelelahan. Ia duduk di tepi kursi hitam, sambil matanya tak lepas dari jendela ruang tengah. Adrian masih ada di sana, mengetuk-ngetukkan jarinya tanpa irama, senyum mengembang, sesekali juga ia mengatur napas yang sedikit tersengal-sengal karena kelelahan. Ya, meski tubuhnya kecil, dan sangat gesit, ternyata ia juga bisa merasa lelah saat berkejar-kejaran.
"Bilango. Aku ndak takut." Adrian masih dengan kedua alisnya bergerak-gerak naik turun, senyum yang sumringah, mata berbinar-binar, berdiri di luar, di balik jendela yang membatasinya dengan Erina. sang kakak yang masih duduk di kursi hitam itu mencoba untuk terus mengatur napas yang masih berkejar-kejaran. Koran yang tadi digulung, kini sudah berubah fungsi untuk mengipasi dirinya yang kepanasan.
Siang itu cuaca memang sangat panas. Namun panas bukan halangan yang besar untuk keceriaan mereka. Mungkin lebih tepatnya bahwa panas tidak menyurutkan niat Adrian mengusili Erina. Sedangkan bagi Erina, cuaca yang panas sangat mudah membakar emosi.
Hanya karena seprei doraemonnya terlepas dan kusut setelah si pecinta monyet mengikuti gerakan binatang kesayangannya, melompat dengan dua kaki dari tempat tidurnya sendiri ke tempat tidur bergambar doraemon. Sontak Erina yang sedang asyik membaca sambil tengkurap di atas kasurnya, terkejut dan meneriaki Adrian untuk segera turun. Alih-alih turun, Adrian justru melompat di tempat, tepat di atas kantong ajaib doraemon. Alhasil, seprei terlepas dan lengkingan suara dua oktaf yang menggelegar cetar membahayakan bergema sampai ke ujung komplek SEMUT. Kemudian terjadilah adegan saling mengejar dengan senjata koran yang tergulung di tangan kanan Erina.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gen •UK•
General FictionErina dan Adrian, anak-anak dari pasangan Ulfa D. dengan suami Kevin E. Tarumanjaya, memiliki kehebohan tingkat dewa dalam menjalani hari-harinya dalam keluarga. Jarak usia yang hanya tiga tahun, membuat Erina sulit untuk bersikap manis pada Adrian...