PEMBALASAN

32 6 0
                                    


"Aaarrgghh! Adriiiaaannn!!!"

Erina melemparkan handuknya, dengan mata melotot, ia mengambil buku gambar yang kini warnanya sudah tak beraturan lagi.

Selalu terjadi dan terjadi lagi. Rumah Gen UK tidak pernah sepi dengan tingkah polah dan lengkingan-lengkingan maut Erina dan Adrian. Bu Ulfa dan Pak Kevin benar-benar harus nempersiapkan diri, setiap hari. Apapun, kapanpun, bagaimanapun, semua bisa terjadi, hanya karena ulah kedua kurcacinya.

Sebagai orangtua, mereka harus lebih jeli dan cerdik menangani tingkah kedua anaknya yang sifatnya sangat berbeda. Kalau Erina suka makan, Adrian lebih pemilih. Dalam hal belajar, Adrian memang lebih punya tanggung jawab untuk belajar, dibanding Erina. Entah karena pelajaran yang masih sebatas pelajaran TK atau memang karena Adrian rajin.

Untuk tingkat keisengan dan emosi, berbanding lurus dan berkejar-kejaran. (hahaha..., kereta api, kali, ah.). Adrian yang suka iseng, sering membuat Erina marah. Sebaliknya, kemarahaan Erina jadi pemicu keisengan Adrian. Dari situlah dimulainya kehebohan demi kehebohan Gen UK.

Bukan berarti Erina tidak bisa iseng, ya. Ia memang bukan tipe anak yang jahil. Erina tipe anak yang gampang marah. Emosinya yang meledak-ledak, bisa membuat dia melakukan apapun. Ya, sampai dia puas melampiaskan emosinya. Ia terbiasa makan dobel porsi, untuk menghilangkan emosi. Tapi kalau sesekali melampiaskan emosi dengan keisengan, mungkin akan berbeda sensasinya. Siapa tahu.

"Adriaaannn... Awas kamu, yaa!" teriak Erina lagi. kali ini karena ulah Adrian, gambar pemandangan yang sedari tadi ia warnai dengan berhati-hati, menjadi berantakan.

Kedua tangannya mengepal, tangan kanannya meremas pensil warna hijau yang tergeletak pasrah di atas gambar pohon. Di depannya masih berserakan pensil warna coklat, merah, biru, dan pensil warna hitam yang patah ujungnya

What? Patah ujungnya? Pensil warna hitam patah ujungnya?

Ya. Pensil warna hitam juga menjadi salah satu korban keisengan Adrian sore itu. Saat Erina meninggalkan gambarnya sejenak untuk mandi, Adrian dengan membawa senjata pistol mainannya mengelilingi rumah. Memanjat terali jendela, naik turun kursi hitam, masuk ke bawah kolong tempat tidur, dan sembunyi di sela-sela lemari pakaian Mami.

Beberapa saat kemudian Ia keluar dari kamar, menuju pintu belakang, dan naik ke tangga yang ada di belakang rumah, (bergaya ala-ala Counter Strike), sembunyi di bawah meja dapur, dan terakhir, mengendap-endap masuk ke kamar yang dianggap sebagai markas penjahat.

Ia mengambil pensil warna dari dalam kotak, mengacak-acaknya, dan mencorat-coret gambar pemandangan milik Erina. Setelah sadar bahwa yang diacak-acak dan dicorat-coret semua milik Erina, dan salah satu pensil warnanya tak sengaja terpatahkan, sontak Adrian melemparkan pistol mainannya, dan bersembunyi di kamar Mami.

"Adriaaaaaannnn...," teriak Erina untuk kesekian kalinya. Matanya mendelik, tangan kanannya menggebrak pintu kamar Mami, sementara tangan kirinya memegang pensil warna yang patah ujungnya, dan buku gambar yang warnanya berantakan.

"Apa itu, Erin?" tanya Mami dari dapur. Pisau yang dipegangnya dilemparkan ke atas talenan, hingga menyerakkan bawang bombay yang sedang dicacah.

"Adrian merusak pensil warnaku, Mi," ujar Erina. Tangan kanannya menyodorkan pensil warna yang dimaksud, matanya menyapu seisi rumah, berharap melihat Adrian.

Gen •UK•Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang