Bu Ulfa mengenakan daster hijau bercorak bunga-bunga coklat berjalan gontai menuju kamar mandi. "Lagi-lagi air mati," gumamnya pelan sembari mencoba memutar kran beberapa kali, berharap air menetes dan memenuhi bak mandi biru keluarga Gen UK. Namun lagi-lagi ia harus menerima kenyataan bahwa air belum keluar.Musim kering tahun ini sangat menyiksa keluarga Gen UK dan seluruh warga komplek SEMUT. (Ini bukan termasuk salah satu ras binatang ya, tapi memang nama komplek tempat keluarga Gen UK adalah komplek SEMUT, alias Sejahtera, Elok, Maju, Unggul, dan Tentram.)
Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya untuk mencari kelegaan, Istri Pak Kevin beranjak ke dapur, mendekati gentong abu-abu besar tempat ia menampung air untuk berjaga-jaga jika dibutuhkan, seperti dalam kondisi saat ini. Dengan tangan kanannya ia mengangkat tutup gentong, dan melihat masih ada air, cukup untuk anak-anak dan suami mandi sebelum berangkat ke sekolah, dan ke kantor.
"Pagi, Sayang," suara berat sang suami diiringi sebuah kecupan kecil di atas kepala, sedikit menenangkan Bu Ulfa yang sedang berdoa agar air segera keluar, dan semua terbebas dari musim kemarau yang panjang.
"Anak-anak dah bangun, Pi?" tanyanya sambil mengambil dua cangkir bergambar smile untuk menyeduh kopi.
"Sudah. Tapi kayane pada merem lagi."
"Lho, pie to. Sudah jam lima, lho. Masuk sekolah setengah tujuh koq jam segini belum podo bangun," gerutu Bu Ulfa yang biasa dipanggil Mami.
Setelah menyeduh dua gelas kopi susu, menggoreng telur untuk suami dan anak-anaknya, Mami bergegas menuju kamar Erina dan Adrian.
Mami membuka pintu dengan keras, menyalakan lampu kamar, mematikan kipas angin, menarik selimut Erina, dan memerintahkannya untuk mandi. Namun, drama di pagi hari yang selalu terulang, kembali membuat emosi Mami naik secara spontan.
"ERINA, BANGUN! Penekanan suara saat memanggil anak perempuan satu-satunya, menunjukkan emosi langsung berada pada level dua.
Di saat seperti ini, kelembutan Mami saat termenung mengharap air seolah hanya mimpi, dan tidak mungkin pernah terjadi. Tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Bu Ulfa, adalah sosok Mami yang lembut, sekaligus perfeksionis. Ia ingin anak-anaknya hidup disiplin dalam segala hal, termasuk disiplin waktu.
Tapi sepertinya harapan itu tinggalah harapan. Alih-alih membuka mata, duduk, dan menuju kamar mandi, Erina justru menggerutu dan mengambil guling yang ada di lantai.
"Adrian dulu, Mi," ujarnya pelan sambil menarik selimut Donal Bebek hingga menutup hidungnya yang pesek.
"E--RI--NA MAN--DI!" Penekanan lagi-lagi terlihat dari cara Mami menjeda panggilan. Ini artinya kondisi kamar sudah menuju siaga satu. Erina membalikkan badan, mengibaskan selimut, dan mengeluarkan kepala tanpa membuka mata. "Lima menit lagi, Miiiii..., Adrian dulu, lah," gerutu Erina seraya menarik selimut kembali untuk menutup pipinya yang chubby.
Mami menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kencang, agar emosi yang sudah tinggal selangkah lagi ikut pergi bersama hembusan napasnya.
"Erina, air ndak keluar. Ndak cepat mandi, keburu habis. Air habis, ndak mandi. Berarti ndak ke sekolah, atau silahkan berangkat tanpa mandi, Erina sendiri yang menanggung akibatnya," ujar Mami tegas, sambil beralih membangunkan Adrian dan membawanya ke kamar mandi.
Tak disangka, tak dinyana, Erina dengan jurus 'kodok melet nangkep nyamuk' bergegas keluar menuju kamar mandi dan membersihkan diri serta tak lupa sikat gigi. Lagi-lagi Mami hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak perempuannya yang tidak bisa diprediksi. (Kayanya Mami harus kursus sama Om Dedy Corbuzier, deh. Supaya bisa lulus ujian predikisi)
"Cukup ndak cukup, cuma itu, air untuk mandi pagi ini," sergah Mami yang disambut teriakan Erina dari dalam kamar mandi.
Setelah semua selesai, Papi berangkat kerja, sembari mengantar anak-anak ke sekolah. Kembali Mami seorang diri di rumah merenungi nasib Gen UK dan komplek SEMUT jika kemarau semakin berlanjut. Persediaan air sudah semakin surut.
Selama musim kemarau, warga komplek semut mengandalkan sumber air yang terletak di tengah kota. Selain jarak yang jauh, mereka juga harus membayar tiket masuk untuk antre mengambil air. Selasih itu, tiap sekali dalam seminggu, ada dua orang pemuda lewat depan rumah dengan mengendarai pick up hitam membawa banyak drum berisi air dan mereka menjual kepada warga yang membutuhkan. Karena penduduk komplek sangat banyak, setiap warga berhak membeli air paling banyak dua drum untuk tiga orang.
Mengingat dua hari lagi penjual air baru akan datang, lagi-lagi Mami menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kuat, seraya berdoa, mengharap kemarau panjang yang ada segera sirna, sehingga aktifitas bisa berjalan seperti sediakala.
Sembari menunggu anak-anak pulang sekolah, Bu Ulfa mulai membersihkan rumah, "Setiap jengkal dalam kamar ini dan rumah ini merupakan anugerah terbesar yang kuterima dari Yang Kuasa," gumamnya pelan sambil mengayunkan sapu membersihkan kolong tempat tidur.
Sebuah gambar penuh kenangan yang terpasang di dinding mengalihkan perhatiannya. Sejenak Ia melepas sapu yang dipegangnya, dan memandang gambar itu lekat-lekat. Foto pernikahannya dengan Pak Kevin E. Tarumanjaya sembilan tahun silam.
"Kau adalah anugerah terbesar dari Tuhan untukku, Pi," ujarnya sambil tersungging senyum kecil di wajahnya. "Sejak aku mengenalmu dan selama menjadi istrimu, banyak hal telah kita lewati bersama. Kau benar-benar Imam yang baik bagi keluarga kita," selorohnya seraya melanjutkan menyapu kamar.
Seusai membersihkan seluruh ruangan Gen UK, pun setelah beres memasak makanan kesukaan dua kurcaci, Mami kembali merenung dan tak lupa Ia bersyukur pada Yang Kuasa atas segala nikmat yang telah dirasakan selama sembilan tahun pernikahannya dengan Pak Kevin. Kehadiran Erina di tahun pertamanya menambah kegirangan bagi keluarga kecil mereka delapan tahun yang lalu, dan juga Adrian yang melengkapi Gen UK lima tahun yang lalu.
"Dan jika beberapa hari terakhir ini Kau izinkan kami mengalami kekeringan, aku masih ingin tetap bersyukur padaMu. Bukan karena kehidupanku selalu baik-baik saja, namun karena Kau selalu ada dalam setiap jalan hidup kami," gumamnya.
Bu Ulfa melirik jam bergambar kucing di dalam kamar yang menunjukkan pukul dua siang. Ia meraih ponsel dan menelepon suaminya.
"Aduh, maaf. Papi lupa kasih tau, hari ini anak-anak tak bawa ke rumah Pak Gayus. Aku ada urusan. Nanti sore langsung pulang bareng Papi sekalian," jawab Pak Kevin saat Bu Ulfa menunjukkan kekhawatirannya di telepon.
"Mami tenang aja. Papi minta maaf ya, lupa kasih tahu Mami dari tadi," lanjut suami Bu Ulfa.
Setelah tahu bahwa kedua anaknya aman bersama suami tercinta, dan menutup telepon, Bu Ulfa kembali menikmati kesendiriannya. Ini adalah hal yang paling nyaman bagi istri Pak Kevin. Saat sendiri diri di rumah, berarti saat yang tepat untuk merenung, bersyukur, dan mengagumi anugerah Tuhan bagi keluarga Gen UK.
"Mamiiiii...," lengkingan suara Erina dan Adrian memecah keheningan Mami saat merenung di dalam kamar. Mereka menyerbu Mami tercinta dan bergantian menceritakan apapun yang mereka alami sepanjang hari ini.
"Serbu Mami, Nak, mumpung lagi mellow," gumam Pak Kevin saat melihat anak-anak dari depan kamar, sembari tertawa kecil.
"Pi, bangun, Pi," ujar Mami menggoyangkan tubuh Papi yang sudah terlelap. "Pi, Mami dengar suara air mengalir."
Selama musim kemarau, Bu Ulfa sengaja menyalakan semua kran di rumah, dengan harapan jika sewaktu-waktu air keluar, seberapapun itu, akan langsung tertampung di ember yang sudah disiapkan.
Sambil mengucek-ucek matanya, Pak Kevin dan Bu Ulfa bergegas menuju sumber suara air, dan ternyata air memang sudah mengalir. Sedapat mungkin mereka kumpulkan ember dan baskom, untuk menampung air. Dengan cekatan Bu Ulfa memindahkan ember dari kran satu ke kran yang lain, hingga semua ember dan gentong air penuh terisi air.
"Pi, bangun. Pie, to. Bukanne mbantuni isi air, oq malah tidur da depan ember. Pindah kamar, yok. Ni air udah mati lagi," ujar Bu Ulfa sembari mengerucutkan bibirnya. "Bangun to yo, Pi. Lha apa Papi bobok sini wae? Yawes Mami bobok dewe da kamar," lanjutnya.
"Tak kunci lho ya kamare, ben Papi ndak isa masuk," bisik Bu Ulfa sambil melenggang dan menyibakkan rambutnya meninggalkan Pak Kevin sendiri di depan ember yang penuh berisi air.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gen •UK•
Fiksi UmumErina dan Adrian, anak-anak dari pasangan Ulfa D. dengan suami Kevin E. Tarumanjaya, memiliki kehebohan tingkat dewa dalam menjalani hari-harinya dalam keluarga. Jarak usia yang hanya tiga tahun, membuat Erina sulit untuk bersikap manis pada Adrian...