[GreShan Part 4.3] Kehilangan

786 43 0
                                    

Laga final antara 48SHS melawan Inazuma46 telah dimulai. Pertarungan sengit tersaji sejak peluit pertama kali dibunyikan oleh wasit. Penonton yang datang tak kalah heboh. Satu stadion penuh dengan orang yang ingin menyaksikan laga final yang bisa dibilang "derby classic" ini. Bahkan ada beberapa turis asing datang menyaksikan pertandingan ini, termasuk teman baru Mario dan kawan-kawannya.

Laga ini sangat penting, terutama bagi 48SHS, tim dari Sham. Karena laga ini menjadi momentum dirinya dan kawan-kawannya untuk membalas kekalahan setahun yang lalu. Dimana saat itu mereka dikalahkan di final di ajang yang sama dengan skor tipis dan juga sedikit permainan yang bisa dibilang "kotor" dari pihak musuh.

Saat ini pertandingan memasuki menit-menit akhir quarter ketiga. Dimana keunggulan saat ini dipegang oleh kubu 48SHS dengan skor yang tidak terlalu jauh. Masih bisa dibilang, belum aman. Selisih mereka hanya 10 angka. Dan mereka masih saling bertukar gol satu sama lain yang membuat laga menjadi sangat seru untuk disaksikan.

Waktu menyisakan satu menit. Tim Shamy masih unggul dari tim lawan yaitu Inazuma46 dengan selisih 15 angka.

Dhito melemparkan bola langsung ke arah depan menuju Mario. Fast Break atau istilah gampangnya serangan balik cepat dilakukan oleh 48SHS. Mario menahan bola mencari ruang untuk mengoper ke rekannya yang lain. Dhito berlari masuk ke dalam circle menarik perhatian musuh. Celah pun terbuka, Mario kemudian mengoper bola ke Sham. Sham melompat melakukan tembakan 3 angka dan...

Druaaarrrr!!!

Terdengar suara ledakan di bangku penonton yang membuat seisi stadion berhamburan kemana-mana. Pertandingan Final Basket yang sedang berlangsung memanas pun terpaksa di hentikan karena ledakan tersebut.

"Ledakan apa itu ?" ucap Shamy terkejut sambil menengok ke arah ledakan berasal.

"Sham! Gre terluka!" teriak Mario sambil melambaikan tangannya menyuruh Shamy ke tempatnya.

"Hah?" ucap Shamy kaget lalu berlari menuju Mario

"Udah buruan , Gracia terluka parah!" ucap Mario sambil menarik tangan Shamy lalu berlari menuju tempat Gracia berada. Shamy yang mendengarnya pun terkejut.

"Gracia!" ucap Shamy lalu menaruh Gracia di pangkuannya.

"Gre.. sadar Gre, Greee!!" ucap Shamy sambil menggoyang-goyangkan tubuh Gracia.

Tangis Shamy pun tak terbendung lagi. Air matanya mengalir menuruni pipinya. Siapa yang tak sedih jika melihat orang yang paling ia sayangi terluka parah bersimbah darah di kepalanya.

"Gre.. Bangun Gre... Jan tinggalin aku" ucap Shamy sambil memeluk Gracia. Air matanya menetes tepat di atas wajah Gracia.

"Yang sabar Sham, ambulan sebentar lagi dateng" ucap Dyo sambil memegang pundak Shamy. Shamy pun hanya menganggukkan kepalanya saja, ia masih menangis sambil sesekali menempelkan kepalanya di atas dahi Gracia.

"Hey Gre, Kamu pernah bilang dulu..  kalau kamu gak akan tinggalin aku sendirian. Gre, sadar. Tolong" ucap Shamy lirih sambil menangis.

Sementara itu, tak jauh darinya, terdapat Coach Jiro yang juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih buruk, sudah bisa dipastikan kalau Coach itu sudah tiada. Kepalanya hampir pecah. Lengan kanannya patah hilang entah kemana.

Sementara itu. Pemain yang lain juga ada yang terluka parah. Lalu ada beberapa penonton yang terluka, bahkan ada yang bagian tubuhnya terpotong menjadi beberapa bagian akibat ledakan bom itu.

Tak lama kemudian, beberapa unit ambulan pun datang untuk membawa para korban ledakan bom.  Para crew ambulan memasuki stadion sembari membawa tandu untuk mengangkut para korban ke dalam ambulan. 

One Shoot StoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang