3 bulan berlalu sudah selepas kejadian di ruang kelas tempo hari.
Sekarang sudah memasuki akhir tahun yang artinya tinggal 4 bulan lagi masa putih abu-abuku berlalu.Semuanya kembali normal,,meskipun jarak yang tercipta antara aku dan abraham semakin jauh,ya ini lebih baik untukku dan juga dia.
Tapi tetap saja rasa tidak nyaman sering kali kurasakan,bagaimana tidak,kami berada di ruangan yang sama,bertemu setiap hari,kadang satu kelompok praktek,tapi tidak saling menyapa,itu situasi yang menyebalkan untukku,tidak jarang aku meminta ketua kelas meroling namaku pada kelompok lain hanya untuk tidak satu kelompok denganya.
Tak jarang teman-temanku mempertanyakan sikapku terhadap abraham,dan lagi-lagi jawaban yang berhasil keluar hanya satu "aku baik-baik saja denganya"dan itu bohong.
Setiap hari membayangkan kembali bertemu dengannya dalam satu ruangan tampa saling bertegur sapa,rasanya ingin sekali cepat-cepat lulus.
Hanya agar bisa benar-benar hilang dari hadapannya itu saja.Apakah sikapku juga sama kepada teman laki-lakiku yang lain.?
Tentu saja tidak,sikap dinginku hanya berlaku kepada abraham,begitupun sebaliknya.Bukan karena kejadian 1 tahun lalu yang membuatku begini terhadap abraham,hanya saja inilah batasanku setelah mendengar kalimat yang dia lontarkan bahwa hal yang mustahil untuk bisa bersama MA.
Mungkin suatu hari nanti aku akan mengucapkan banyak terima kasih padanya,setidaknya dia menyadarkanku bahwa berharap lebih pada sesama hamba itu hanya akan menyakitkan.
Hanya saja saat ini aku belum punya cukup keberanian untuk menyapanya,dan kelihatanya dia menikmati hari-harinya,seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Dengan sikapnya yang begitu,justru lebih menyakinkan hatiku,bahwa sekaranglah waktunya aku harus benar-benar pergi dan menyimpan semua tentangnya di sudut hati.
Aku teringat akan sebuah pesan dalam kisah yang orang lebih kenal dengan nama CINTA.
"Bukankah mencintai tidak selamanya memiliki,terkadang mengiklaskan adalah bentuk cinta yang paling baik"Sekaranglah waktuku,mengiklaskan semuanya yang bahkan belum sempat terucapkan.
Sebelum ini kita pernah berbagi cerita,tertawa bersama,
Jangankan untuk kembali seperti itu,bahkan hanya untuk bertegur sapa dan melempar senyumpun sudah tidak lagi.Inilah yang paling menyakitkan dibandingkan ucapanmu 1 tahun silam Ham."Setidaknya ingat aku sebagai temanmu yang pernah tertawa bersamamu".

KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Taksempat Terucapkan
SpiritualJangan pernah berharap kepada manusia jika tidak mau kecewa. Sekarang kau bukanlah lagi yang kuharapkan,jusrtru kaulah yang sangat ingin kulupakan sekarang. Ingatlah hal sederhana,bahwa sabar hanyalah sebuah kalimat penenang.