Jantungku yang untuk kali pertama berdetak cepat, kini terasa amat sulit untuk kukendalikan, ada apa denganku?
"Bercandamu sudah gak lucu Nan, udah ah, udah bel, masuk yuk!"
Aku berusaha mengendalikan deguban jantungku dengan memintanya untuk memberhentikan candaan konyolnya. Karena jika aku menganggapnya serius, pasti ia akan lebih bahagia karena aku berhasil masuk ke perangkap usilnya.
Ia duduk di sampingku, di tahun ini, bu guru memang memasangkan aku dan Nanda untuk duduk bersama. Mengingat hubunganku dan Nanda tidak pernah terjalin baik. Namun, berawal memilih tempat duduk pun kita memulainya dengan debat.
Aku dan Nanda memperbutkan kursi yang menempel dengan tembok, sedangkan salah satu dari kami, tidak pernah ada yang mau mengalah. Akhirnya, kami memutuskan untuk bergantian di setiap harinya.
Setelah pernyataan itu, Nanda lebih banyak diam. Dia tak lagi mencari cara untuk membuatku geram. Terdengar bagus, namun aku merasa juga ada sesuatu yang hilang dan tidak seperti biasanya. Aku hanya takut, hal itu benar-benar serius ia katakan.
"Nan?"
"Hemmm?"
"Kenapa?"
"Gapapa, capek aja,"
Dan berhenti. Biasanya akan selalu ada banyak hal yang ia bicarakan setiap kali pertanyaan yang aku tanyakan berakhir. Sejak itu aku merasa bersalah, namun aku juga masih belum mampu mengartikan perasaanku untuk Nanda. Aku, masih terlalu muda.
Sejak itu lah, hubunganku dengan Nanda tidak berjalan seperti biasa. Nanda lebih sering diam, namun kadang kala tertangkap tengah memandang ke arahku. Saat itu, aku masih belum mengerti apa yang harus aku lakukan, untuk mengembalikan Nanda yang aku kenal.
Sampai akhirnya, hari kelulusan tiba. Dan kami, bertemu di sekolah menengah pertama yang sama.
Hari itu aku datang dengan kuncir 8 di atas kepalaku. Pita kuning dan kalung permen juga tak lupa menjadi pelengkap hari pertamaku untuk melewati masa orientasi siswa di salah satu SMP di Jakarta Selatan.
Dan, sosok lelaki itu, hadir. Nanda datang dengan topi kerucut berwarna biru dan kakinya yang kurasa semakin panjang dari sebelumnya. Disampingnya, ada seorang wanita dengan rambut pendek yang melambaikan tangan ke arahku, dan mama yang berdiri di sampingku menyambutnya dengan hangat.
"Lohhh Nanda masuk sini juga?"
"Iyaa, aku juga baru tau kalau Rara diterima disini juga. Eh tapi Rara diterima di kelas berapa?"
"Rara di kelas 7C, kalau Nanda?"
"Wah gak sekelas dong, kalau Nanda di kelas 7H."
Nanda berjalan mendekat menghampiri mamanya yang tengah berbincang heboh dengan mamaku. Orang tua kami cukup dekat, ditambah lagi karena mama Nanda adalah ketua komite waktu kami masih di sekolah dasar.
"Lo kelas berapa Ra?"
"7C Nan, kalah dong lo sama gue? Masa lo 7H sihhhh? Kayaknya yang sering rangking dulu, lo deh?"
"Ini bukan masalah nilai kali, paling juga diacak, kenapa? Lo mau sekelas sama gue lagi?"
Jika saja aku bisa mengatakannya, hari itu aku sedih karena Nanda tidak berada di kelas yang sama denganku. Jujur, aku ingin memperbaiki semuanya, tapi keadaan tidak kembali menyatukanku dengan Nanda.
Tuhan, apakah aku melakukan kesalahan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Jadi, Inikah Kita Yang Sekarang?
RomansaSosok lelaki itu hadir lagi, bedanya, ia hadir pada waktu dimana aku dan hidupku sudah berjalan sangat baik. Aku yakin, begitu juga hidupnya. Namun, disamping kehidupan kami yang terlihat sudah lebih baik, ada satu hal yang belum kami selesaikan sej...