Baik, ini kesempatan terakhirku. Biar aku yang mulai
"Aku kira hubungan kamu sama Yaya sudah di tahap serius Nan,"
Nanda menoleh, aku menangkap tatapan terkejut dari ekspresi wajahnya. Namun aku juga tak kuasa menahan tawa ketika melihat ekspresi Nanda yang terkejut, tak lama Nanda ikut tersenyum sambil memperbaiki letak kacamatanya yang menurun.
Nanda menggeleng, ia mengisyaratkan perkiraanku adalah sebuah kesalahan. Ada semburat wajah sedih di wajahnya, aku mengerti, membangun sebuah hubungan lebih dari 2 tahun tidaklah mudah, jika ditambah dengan akhir yang tidak pernah diharapkan.
"Aku kira hubungan kamu sama Gerald sudah di tahap serius juga Ra,"
Aku menepuk pundak Nanda, mengisyaratkan bahwa aku tak suka pembahasan satu ini. Nanda tertawa sambil memperbaiki kembali jalannya yang sempat menyerong karena tepukanku di pundaknya.
Aku menggeleng, mengisyaratkan prasangkanya akan hubunganku dengan Gerald yang hampir 3 tahun itu tidaklah lancar seperti apa yang Nanda perkirakan. Nanda mengangguk setuju, ia bercerita bahwa hubungan yang berjalan lama pun tidak selamanya berakhir indah. Kini, aku mengangguk setuju.
Pemandangan Jembatan Putrajaya terlihat indah karena lampu taman kini sudah mulai menyala di setiap sisinya. Nanda mengajakku berjalan di taman sekitar, menikmati pemandangan modern dengan hiasan lampu dan jembatan besar berwarna putih tersebut.
"Bahkan sebuah hubungan yang belum berjalan pun bisa juga berakhir buruk bukan? Apalagi ketika tidak ada yang mulai berbicara,"
Langkah Nanda terhenti, namun aku masih terus berjalan sambil memutuskan untuk berdiri di pinggir perairan jembatan Putrajaya. Memandang langit kemudian sejenak memotret jembatan besar yang mulai terlihat cahaya cantik yang membalutnya.
"Dan itu akan selalu menjadi luka paling menyakitkan yang pernah aku punya," sambungku sambil tersenyum memandang Nanda yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Aku belum sempat memulai, namun ternyata semuanya sudah berakhir. Kalau kamu jadi aku gimana Nan?" tawaku tercekat menahan sesak yang mulai mengikat.
Nanda masih berdiri di tempatnya, aku sadar, arah pembicaraanku terlalu cepat. Namun aku merasa tak punya waktu lagi untuk menunda. Aku hanya tidak ingin memulai kebahagiaan baru dengan luka yang masih menganga.
Hanya hembusan angin yang menjawab tanyaku. Nanda perlahan berjalan mendekat, menyisakan 5 langkah dari tempatku berdiri untuknya memandang ke arah yang sama. Nanda menarik nafasnya panjang, dia sama sesaknya, sama dengan sesakku.
"Emm, pun aku belum bisa menjawab Ra, karena aku juga memiliki pertanyaan yang sama. Secercah harapan datang ketika aku lihat kamu disini, tapi, ternyata pertanyaanmu sama saja,"
Tawaku semakin tercekat. Mataku mulai memanas, ada yang seakan meronta keluar dari sana. Aku sudah tak lagi memiliki keberanian untuk memandang Nanda. Pun juga Nanda, yang masih belum kembali memandangku sejak aku memulai untuk membuka forum menyedihkan ini.
"Waktu berjalan cepat, atau aku yang terlalu sering menunda?" tanyaku.
"Waktu yang egois, atau aku yang tidak pernah berani untuk menyatakannya lagi?" tanya Nanda.
Air mataku tak lagi terbendung, aku terisak menahan suara tangis agar setidaknya tidak semakin membuat keadaan semakin rumit. Namun Nanda peka akan hal itu, ia bergeser dua langkah untuk memberikanku sapu tangan coklat tua dari saku mantel berwarna moca miliknya.
Aku menggeleng, Nanda menunduk pasrah dan kembali memasukkan sapu tangannya ke dalam saku. Satu hal yang harus kulakukan segera, menyelesaikan semuanya, kemudian kembali merangkai kisah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jadi, Inikah Kita Yang Sekarang?
RomanceSosok lelaki itu hadir lagi, bedanya, ia hadir pada waktu dimana aku dan hidupku sudah berjalan sangat baik. Aku yakin, begitu juga hidupnya. Namun, disamping kehidupan kami yang terlihat sudah lebih baik, ada satu hal yang belum kami selesaikan sej...