Lalu, harus kubuang kemana seluruh keberanianku, Nan?
Malam panjang berlalu, aku terbangun dan semua nyata. Malam itu benar nyata, sakit itu masih terasa ketika mataku mulai terbuka, setelah dibangunkan mentari pagi yang terlihat begitu bahagia. Pagi ini, setelah sarapan, kita semua kembali pulang.
"Yuk sarapan Ra,"
Aku menggeleng, aku masih punya roti sebagai bekal pergiku. Riska yang menyadari hal itu, meminta Nisa untuk meninggalkanku dan membiarkanku menikmati sarapan dengan sepotong roti di dalam kamar. Nisa mengangguk dan meninggalkanku dengan tatapan nanar.
"Seandainya Nanda kasih tau kita tentang rencananya, semuanya pasti gak kayak gini," bisik Nisa.
Aku terlihat sangat menyedihkan bukan? Terpuruk dalam satu malam, bahkan hampir saja rasanya sepeti mati. Kenangan itu berjalan lagi, hari-hari sebelum malam perpisahan, aku dan Nanda berhubungan sangat baik. Setiap pulang sekolah, Nanda, aku dan yang lainnya sering bermain bersama.
Aku dan Nanda duduk berdampingan membicarakan banyak hal. Sesekali Nanda kumat mengusikku yang sedang tenang. Kemudian tertawa dan saling pandang.
Ternyata aku salah, hanya aku yang menganggap semua itu berbeda. Namun tidak dengan Nanda, sebuah keadaan yang lebih baik, ternyata hanya mengantarnya pada sebuah hubungan yang tidak lebih dari seorang teman. Hanya aku, aku sendiri yang menjabarkannya lebih dari itu.
Aku ingat ketika bermain di rumah Nisa, aku membaca buku tentang galaxy, masih serius dengan bacaanku, Nanda datang dan duduk di sampingku, melihatku membaca buku dan kemudian bersandar di sofa, terpejam sejenak dan jemari tangannya menyentuh jemari tanganku yang terbaring samping dudukku.
Aku menoleh cepat, kemudian tersenyum kecil sambil memandang Nanda yang terpejam sambil tersenyum kecil, aku juga memastikan tidak ada satupun yang menyadari hal itu. Aku bahagia, namun mungkin, ketidak sengajaan itu terlalu istimewa, sehingga tak sedikitpun membayangkan apa yang juga dirasa Nanda.
Hari berlalu begitu menyenangkan, tak lagi canggung untukku dan Nanda memulai sebuah hubungan yang baik. Semua penyebab canggung itu sudah tertinggal jauh di belakang, hari yang kulalui selalu menyenangkan.
Berpapasan dengan Nanda di kantin, kemudian melakukan Hi Five sambil tersenyum kecil memandang satu sama lain. Bukankah seharusnya hal itu sangat membahagiakan? Tidak hanya untukku, tapi untuk Nanda juga?
Melihat Nanda berputar melewati kelasku sambil melambaikan tangannya dengan senyum kecilnya. Apakah hanya aku yang menganggap itu semua tidak lebih dari kegiatan sebuah pertemanan?
Aku kembali menunduk, mengingat semua kebodohan yang malah menjadi penguatku untuk mengumpulkan segala keberanian untuk malam itu. Namun, semua runtuh dalam sekejap, menyisakan luka yang tak pernah mungkin kulupa.
Pagi itu, aku sudah siap dengan tas punggungku, aku memberikan senyuman dan wajah terbaik pagi ini untuk mengenyahkan kekhawatiran teman-teman yang sudah sangat banyak membantuku. Aku sudah bisa berkata tidak apa-apa meski rasanya sangat tidak mungkin. Aku sudah bisa berusaha untuk tertawa setiap ada guyonan meski rasanya masih terasa sesak.
Sampai tiba akhirnya Nanda kembali menghampiri, berpamitan untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya di masa SMA. Aku tercekat, semua terasa semakin sulit ketika mendengar gosip yang sudah beredar luas antara Nanda dan Yaya.
"Semoga sukses ya lo semua! Oia Ra, lo juga yaa meski gak di Jakarta lagi, semoga tempat tinggal baru lo lebih menyenangkan,"
Aku memandangnya penuh tanya, bahkan aku belum mengatakan sepatah kata pun di malam puncak itu. Lalu bagaimana Nanda tau aku akan pindah ke luar kota? Sejenak kuberfikir, namun Riska dan Nisa memandangku penuh arti, dan aku mengerti.
"Oh, iya Nan, thanks, longlast ya sama Yaya," tutupku sambil melakukan Hi Five terakhir untuk Nanda.
Nanda mengangguk tanpa senyum disana. Dan pada akhirnya, aku berpisah tanpa mendapat senyum kecil pun dari Nanda. Hari itu, hari terakhir kita bertemu dan saling memandang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jadi, Inikah Kita Yang Sekarang?
RomanceSosok lelaki itu hadir lagi, bedanya, ia hadir pada waktu dimana aku dan hidupku sudah berjalan sangat baik. Aku yakin, begitu juga hidupnya. Namun, disamping kehidupan kami yang terlihat sudah lebih baik, ada satu hal yang belum kami selesaikan sej...