Jatuh Hati Pertama Kali

255 8 2
                                    

Nanda, kamu adalah alasan pertama kujatuh hati dan kujatuh sakit

Malam semakin larut, namun acara puncak masih ramai dengan siswa yang berdiri di depan panggung. Aku, Riska dan teman lainnya hanya berdiri di sudut kanan panggung sambil menunggu penampilan Nanda malam itu.

Nanda sudah terlihat di atas panggung dengan kemeja putih dan jeans hitam yang membalut tubuh kurus nan tingginya. Dengan penuh percaya diri, Nanda meraih microphone dan memberi aba-aba untuk segera memainkan musiknya.

Aku tersenyum kecil, kepercayaan dirinya meningkat pesat sejak masa SMP. Dulu, Nanda lebih dikenal sebagai anak mami karena kemana pun Nanda pergi, mamanya akan selalu siap mendampingi dalam acara apapun. Nanda juga jarang bergaul dengan teman lelaki lainnya, di masa SD hanya aku yang bisa membuatnya sangat bahagia, menjadi bulan-bulanan kenakalannya sejak kelas 4 lalu.

"Kenapa harus Nanda sih Ra? Aku malah lebih setuju kamu sama Arya," bisik Riska.

Aku tertawa kecil, anak lelaki yang baru saja disebut Riska, adalah teman sebelah kelasku. Dia lelaki yang baik, setiap kali pulang sekolah, Arya pasti menungguku dan Riska di depan gerbang. Kemudian Arya dan Didi teman pulangnya, berjalan di belakangku dan Riska. Lelaki dengan kulit sawo matang itu memiliki wajah layaknya anak SD, menggemaskan.

Kemudian setelah belokan tiba, Arya akan dengan bahagia melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya. Arya sosok yang sederhana, andai saja hati bisa diajak untuk berjalan ke arahnya.

"Kalau aku bisa mengemudikan hati, aku mau mengarahkan hatiku buat Arya, tapi, disana ada Nanda, jadi aku masih belum bisa. Aku dan Nanda belum selesai," jelasku yang akhirnya membuat Riska sedikit lebih memahami.

Nanda sudah mulai menyanyi, aku memberikan tepuk tangan ketika ia mulai mengeluarkan suaranya yang terdengar nge-bass. Aku menikmati penampilan Nanda, namun tidak dengan suaranya. Nanda terlihat menarik sekali, karena begitu percaya diri di atas sana.

Namun senyumku memudar, ketika melihat Nanda bernyanyi sambil menunjuk ke arah seseorang yang berdiri tepat di depan panggung. Seorang gadis dengan balutan dress hitam dengan kacamata berbingkai coklat disana. Itu gadisnya, itu lah 'Hey Gadis' yang Nanda maksud malam itu, Yaya.

Riska yang menyadari hal itu menoleh ke arahku dengan cepat. Memastikan keadaanku tetap baik-baik saja dengan pemandangan yang sesungguhnya sangat menyakitkan. Aku tercekat, meminta Riska untuk menemaniku kembali ke kamar.

Tatapanku kosong, rasanya sesak untuk bernafas, jantung yang sejak tadi berdegup cepat, kini semakin tak terkendali ditambah sesak. Suhu tubuhku seketika hangat, tak lagi kedinginan karena udara malam. Mataku memanas, menahan mereka yang sebentar lagi akan berhamburan.

"Ra?"

Begitu Riska memanggilku, namun tak sekalipun aku menanggapi panggilannya. Aku segera membuka pintu dan berbaring di atas kasur penginapan. Memejamkan mata dan berharap semua ini hanya bagian dari mimpi buruk dalam satu malam.

Riska masih tak bergeming, ia membantu menyelimuti tubuhku yang semakin hangat. Membelai pundakku seakan berkata bahwa semuanya akan berlalu. Riska memilih meninggalkanku, ia kembali ke malam puncak, dan memberiku ruang sendiri.

Tangisku pecah dalam diam, meski tak ada siapapun disana, rasanya begitu menyakitkan dan memalukan. Aku terisak semakin keras, mengutuk hati yang masih belum menerima. Mengutuk diri yang terlalu sering menunda. Malam itu, sangat menyakitkan.

Jadi, Inikah Kita Yang Sekarang?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang