Waktu berjalan begitu lamban tanpamu, karena kamu, sudah menjadi bagian dari kebiasaanku.
Masa putih biru itu, adalah masa tersulit yang pernah aku lalui. Melihatnya dari kejauhan tanpa mampu lagi berbicara banyak seperti dulu. Bahkan, berpapasan dengannya walau sejenak, sudah membuatku sedikit lebih bahagia.
Sampai akhirnya aku melalui 2 tahun dengan keadaan yang tak berubah. Aku dan Nanda hanya sering berpapasan dan tersenyum satu sama lain. Tidak lagi ada Nanda yang jahil dan menyebalkan, aku benar-benar kehilangan. Entah mengapa, momen ketika Nanda bilang, dia menyukaiku terus berputar, menghantui sehingga ada rasa bersalah yang hinggap dan membuat nafas terasa sesak.
Hari ini aku sudah siap bertemu Nanda, entah untuk apa. Ada rasa bahagia yang hinggap dalam hati kecilku, ini adalah momen yang mungkin menjadi momen terbaikku bersama Nanda. Aku berharap, rasa penasaranku akan terjawab, entah itu juga dimiliki Nanda atau tidak, aku tidak perduli.
Aku masih menunggunya, sosok lelaki yang sudah kuberi tanda sebagai cinta pertamaku, sebagai seseorang yang sudah berhasil membuatku jatuh cinta dan patah hati untuk pertama kalinya dalam hidup. Dipayungi awan cerah, aku masih berdiri, di depan gedung dengan desain yang masih terbilang antic.
"Ra! Maaf aku telat,"
Lelaki itu akhirnya datang sambil menepuk pundak kiriku hingga membuatku sedikit terkejut. Aku tersenyum mengisyaratkan bahwa kedatangannya yang terlambat bukanlah masalah besar. Tak lama Nanda segera membawaku masuk, ke dalam gedung dengan dominasi warna cream disana.
"Ini namanya Kuala Lumpur City Gallery, aku liat di akun IG kamu, kamu suka seni, makanya aku ajak kamu kesini hari ini," jelas Nanda.
"Cieee stalker~"
"Yah ketauan deh..."
Ruangan itu terlihat cukup luas, banyak figura yang terpajang disana, tentang Kuala Lumpur, bersama dia, yang entah harus kusebut sebagai siapa.
Nanda tidak berhenti menunjukkanku banyak hal tentang koleksi seni, aku sangat antusias, hingga lupa, bahwa aku tak bisa lagi menunda terlalu lama. Aku harus bicara, aku harus bicara sekarang, atau aku akan kembali kehilangan Nanda tanpa sebuah jawaban.
"Ra,"
"Hemm?"
Aku tau Nanda tengah menatapku, namun aku masih asyik memandangi lukisan dan tulisan-tulisan di dalam gedung antic satu ini. Ia kembali memanggil ujung namaku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menatap kedua matanya yang sama sekali tidak berubah.
"Aku boleh, bonceng kamu naik motor lagi?"
"Maksud kamu?"
"Iya, aku mau ajak kamu seharian ini naik motor antik punyaku kayak waktu SMP dulu? Kalau jalan terus, nanti capek,"
"Motormu kamu bawa kesini?"
"Iya, itu kan motor kesayanganku, yuk!"
Aku melihat kendaraan roda dua itu lagi, kendaraan yang pernah menjadi saksi betapa bahagianya aku malam itu, malam yang sempurna untuk memulai hubungan baikku dengan Nanda. Malam dimana sahabat baikku, membantuku untuk lebih dekat dengan Nanda.
Hari itu, Riska sahabat baikku memintaku untuk ikut main ke rumah Cahyo yang juga sahabat baiknya Nanda di bangku SMP. Riska menjelaskan, waktu itu adalah saat yang tepat untuk aku mencoba kembali untuk bisa dekat dengan Nanda setelah 2 tahun tak saling bicara banyak.
Meski jantungku berdegup begitu cepat, aku memilih untuk menyetujui ajakan Riska, Cahyo yang juga temanku di kelas 1 SMP tidak merasa keberatan akan kedatanganku. Aku masih asyik dengan majalah dalam genggamanku, tak lama terlihat sosok anak lelaki dengan kaki panjangnya mengayuh sepeda kearahku, dan berhenti tepat dihadapanku.
Ban sepedanya yang hampir saja mengenai rok biruku membuatku terkejut. Bukan karena bannya yang akan mengotori rokku, tapi, sosok Nanda yang jahil, kini ada di depan mataku.
"Nanda! Nanti rok Rara kotor ih!" teriak Riska.
"Raranya aja gak berisik tuh," sahut Nanda yang kembali memundurkan sepedanya.
Saat itu, adalah kali pertama aku merasa sangat bahagia ketika Nanda berbuat jahil. Itu adalah kali pertama aku tersenyum bahagia, ketika Nanda menunjukkan kembali sosok Nanda yang pernah aku kenal. Saat itu, aku tidak tau bagaimana wajah bahagiaku ketika Nanda bisa berkomunikasi kembali dengan baik bersamaku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jadi, Inikah Kita Yang Sekarang?
RomanceSosok lelaki itu hadir lagi, bedanya, ia hadir pada waktu dimana aku dan hidupku sudah berjalan sangat baik. Aku yakin, begitu juga hidupnya. Namun, disamping kehidupan kami yang terlihat sudah lebih baik, ada satu hal yang belum kami selesaikan sej...