Wanita dengan pakaian serba putih diruangan itu bingung dengan keadaan yang dihadapinya saat ini, pasalnya gadis itu baru saja membuka matanya saat dokter baru saja menutup pintu dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Menemui dokter muda itu lalu memberitahunya atau malah membiarkannya melakukan operasi terlebih dulu yang kira-kira memakan waktu hampir dua jam lamanya. Ia masih saja sibuk dengan pikirannya sampai tak sadar bahwa gadis itu tengah menatapnya bingung.
"Apa aku dirumah sakit?" suara parau gadis itu membuyarkan lamunan suster tersebut.
Suster itu mengerjap kemudian menoleh pada gadis disampingnya,"Um,.. Ah, anda pingsan saat sudah berada disini."
Jianna tampak menimang perkataan suster tersebut lalu mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu yang membuatnya merasa penasaran. Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan seseorang namun hasilnya nihil karena yang ada diruangan ekseklusive tersebut ialah hanya ia dan suster. Bahkan sofa didekat jendela dan kedua kursi disamping kanan kirinya pun sama nasibnya, kosong.
Berekspektasi bahwa orang yang menolongmu itu akan menungguimu disini seperti drama yang kau lihat itu mustahil Jianna. He doesn't know you! Ah, bahkan aku saja tidak tahu apakah ia pria atau wanita. Batinnya.
Ia amati seisi ruangan ini lagi, mimik wajahnya berubah seketika menjadi muram. Ia tak tahu harus bersyukur atau malah mencaci maki pada seseorang yang membawanya ke tempat ini. Beberapa detik kemudian gadis itu tersenyum setelah suster selesai mengecek keadaannya.
"Apa kau tahu siapa yang membawaku kemari?"
"Tidak Nona,"
"Kau bisa memanggil aku Jianna. Aku kira kau tahu. Umm, Jadi siapa namamu?"
"Josselyn Freund. Saya tahu apa yang anda pikirkan. Namun anda tidak usah khawatir mengenai biaya, semuanya telah dibayar oleh—"
Suster itu segera menutup mulutnya dengan satu tangannya karena teringat ucapan seseorang yang tak boleh sama sekali ia beritahu pada siapapun mengenai persetujuan kecil itu. Bahkan saat gadis itu membuka mulutnya untuk membalas ucapan Josie, panggilan suster tersebut. Josie justru menimpalinya terlebih dahulu, "Maaf Nona, saya harus pergi. Suster lain akan membawakan obat dan juga makanan kemari." capnya seraya buru-buru membereskan alat kecil di nakas dan berlalu.
***
"VIP rest room! That sounds great!" teriak Liane seraya menjelajah interior ruangan itu dengan maniknya.
Sementara Jianna hanya terdiam tak berniat mengomentari ucapan yang menurutnya tak perlu. Ia fokus pada ponsel dalam genggamanya. Membiarkan temannya sibuk dengan kegiatan kagumnya pada ruangan itu. Ia mendengus kala melihat sebuah postingan di akun media sosial yang menandainya. Ia taruh ponselnya pada nakas dengan sedikit menghentak. Liane yang melihat itu mendekati gadis itu.
"Sesuatu apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Ji?"
"Tidak ada, aku hanya ingin pulang."
"Ayolah Jianna, aku tidak tahu tapi melihat sikapmu itu aku rasa kau punya masalah."
Jianna diam sejenak, "tidak, aku tidak punya masalah apapun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatalité
AzioneJianna Delarose adalah seorang Interpreter profesional yang bekerja dibawah naungan perusahaan penerjemahan di wilayah Perancis. Ia gadis biasa dengan hidup normal. Awalnya memang normal, tetapi tidak lagi setelah ia mengetahui sebuah rahasia besar...
