"Seharusnya kau arahkan pistolmu padanya bila perlu tembak dua kali, seorang Narendra Alvarez tidak pernah kalah, bukan?" Ujarnya sambil meletakkan air putih pada nakas.
Tanganya terangkat, mengisyaratkan gadis dengan pakaian putih itu untuk diam. Seperti dugaannya gadis bernama Estelle Martin itu, menjauh darinya. Tentu dengan wajah memberengut kesal. Langkahnya kian menjauh dan lenyap dari ruangan bercahaya temaram tersebut. Narendra tersenyum miring, meskipun luka menganga itu masih terasa begitu nyeri. Matanya terpejam, dihirupnya udara dingin itu sedalam-dalamnya seolah tengah mencium harum bunga mawar yang lama sekali tak bersua. Imajinya jatuh padanya sesosok wanita yang selalu menghiasi mimpinya saban malam, yang ia dekap paksa dibawah gemericik air hujan satu minggu yang lalu.
"Kau lebih-lebih cantik dari yang aku duga. You can't run away from me again, Sweetheart."
Senyumnya hilang sudah. Kala seseorang menjeblak pintu dengan kasar hingga suara decitannya terdengar, bersamaan bunyi ketukan sepatu menghentak-hentak. Pipinya yang sudah lebam kini bertambah merah karena tamparan yang diterimanya secara tiba-tiba. Matanya memicing, guna mengetahui siapa yang dengan berani melakukanya. Ia simpulkan seringai tajam seraya mengusap pipi dengan punggung tangan.
"Mengapa kemari, lagi? Bukankah aku menyuruhmu untuk pergi." Ucapnya datar.
"Narendra, aku tidak menyuruhmu untuk dekat-dekat dengannya! Apalagi memeluknya!" Pekiknya.
Narendra berdecak dalam hati seraya memikirkan hal apa yang akan membuatnya menjauh. Gadis dari kerabat baik orang tuanya ini selalu melarangnya mendekati perempuan manapun. Seorang Narendra tidak pernah menuruti kata-kata siapapun. Apalagi gadis macam dirinya.
"Kemarilah," katanya lembut.
Dilangkahkan kaki jenjangnya yang terbalut heels berwarna merah menyala dengan anggun. Duduk dipinggir ranjang seraya menampilkan wajah marah kala didapatinya berita tak menyenangkan dari kaki tangan ayahnya. Narendra mengusap pipi halus milik gadis dihadapannya dengan begitu lembut hingga wajah yang tadinya marah perlahan memudar. Nampak gadis itu mulai mendekat padanya. Menikmati permainan pria berdarah Asia ini. Ia condongkan tubuhnya pada Narendra yang tengah duduk bersandar. Sepersekian detik kemudian, dikecup olehnya bibir berlipstik merah tersebut. Narendra tersenyum disaat ia mulai meminta lebih.
"Cih, kau murahan!" sarkasnya.
Dijauhinya wajah yang nampak kecewa akibat ulahnya itu. Tak ada air mata disana melainkan tatapan nanar yang tertuju padanya.
"At least, ia bukan gadis sepertimu, Estelle Martin! Ia menolak aku peluk, bukan malah meminta lebih," tambahnya memperjelas.
***
Estelle menangis. Untuk kesekian kalinya ia ditolak oleh seorang Narendra. Ia akui ia memang murahan hanya untuk pria yang sama sekali tak meliriknya barang setitikpun. Tapi ia lebih-lebih tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan perempuan yang ingin sekali ia cakar wajahnya hingga koyak lain kali. Tubuhnya yang berbalut pakaian tipis berwarna putih itu kini ia tutupi dengan mantel panjang berwarna hitam. Disapunya air matanya kasar hingga tak ada jejak jika ia habis menangis. Senyumnya mengembang bersamaan kedatangan orang yang ditungguinya.
"Duduklah," katanya sambil menyilangkan tungkai, memperlihatkan keanggunannya.
Pria berjambang tipis tersebut menuruti, duduk berhadapan dengannya. Diliriknya gadis itu penuh tanda tanya meski tak kentara. Tangannya terulur mengambil segelas bir dingin yang tersaji dimeja, lalu diteguknya hingga tandas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatalité
БоевикJianna Delarose adalah seorang Interpreter profesional yang bekerja dibawah naungan perusahaan penerjemahan di wilayah Perancis. Ia gadis biasa dengan hidup normal. Awalnya memang normal, tetapi tidak lagi setelah ia mengetahui sebuah rahasia besar...
