03. miss him

181 71 23
                                        

Kamu itu memang pengganggu, tapi, kamu itu selalu membuat ku merindu

-Dea Agustina-

•••

Kalau bagi Dea, Daffa itu hama yang tugasnya hanya mengganggu. Mengganggu Dea dalam segala hal. Intinya Daffa itu, si pengganggu yang teramat menyebalkan. Semoga saja Daffa cepat lulus SMA, agar Dea dapat menjalani hidup dengan tentram. Tapi, jika Daffa pergi dari hidup Dea, pasti ada hal yang berubah dari hidup Dea, sepi. Pasti hal itu yang akan dirasakan oleh Dea, semoga saja tidak.

Semenjak kejadian 'red day' keesokkan harinya, Daffa terkena demam dan juga diare. Terpaksa, Daffa harus terbaring lemah di kasurnya. Sungguh membosankan, seharusnya hari ini dirinya sedang menjahili Dea, yang sudah pasti sangat kesal karena ulahnya. Namun, Tuhan lebih sayang Dea di banding Daffa. Dea, terbebas dari sikap menyebalkan Daffa. Sementara Daffa, harus bolak-balik kamar mandi dan terbaring lemah di kasur nya itu.

Di kamar yang bernuansa cokelat tua itu, terlihat remaja pria yang sedang berbaring lemah di atas kasur bergambar hello Kitty sambil memegang ponsel miliknya.
Terlihat jelas wajahnya pucat, bibir pink-nya itu berubah warna menjadi putih. Seperti Daffa bebar-benar sakit. Semoga saja bukan sakit jiwa. Aamiin...

"Huh, nggak ngeliat wajah Dea sehari aja udah kangen banget Ama doi. Gimana nanti lama nggak ketemu ya...?" Tanya Daffa pada dirinya sendiri.

"Daffa..., Daffa. Lo itu terlalu berharap sama Dea. Dea aja benci sama lo gimana mau kangen coba. Benar kata dilan, rindu itu berat. Seberat badannya si 'gajah' " Lanjutnya dengan nada yang sedikit lemah.

Pria itu membuka aplikasi LINE di ponselnya. Mencari kontak Dea, dan berniat untuk men'chat' nya. Tetapi, sebelum itu dirinya memilih melihat foto profil Dea terlebih dahulu. Di foto tersebut, Dea sedang berada di sebuah restoran, dirinya nampak tersenyum di foto tersebut.

"Nggak salah gue suka sama lo dek; cantik, pintar, antik, bawel, baik pula. Tipe gue banget." Ucap Daffa sambil mengelus wajah Dea di foto tersebut.

DaffaPutroPurnomo
Hai, cantik. Lagi apa? Udah makan belum ?
Jangan ganjen sama cowok lain ya...
I Love you. And I miss you.

Daffa tersenyum saat pesannya itu sudah terkirim. Semoga saja Dea mau membalasnya. Tetapi, bagi Daffa, dibaca saja dirinya sudah bersyukur. Karena perempuan yang ia cintai tahu bahwa. Daffa sangat perduli terhadap Dea. Dan semoga saja Dea peka terhadap hal itu.

Daffa sungguh sangat bosan jika harus berbaring terus menerus. Apalagi orang seperti Daffa yang selalu bertingkah. Bahkan tidak bisa diam kecuali jika sedang tidur. Daffa pun memutuskan untuk tidur saja. Berharap, saat bangun, Dea menjenguknya. Dirinya segera meletakkan ponselnya di lemari kecil sebelah tempat tidurnya itu. Kemudian menaikkan selimut hello Kitty agar berada tepat di dadanya.

"Semoga mimpi indah" Gumam Daffa sambil memejamkan kedua matanya itu.

"Kak Daffa, lihat deh. Kupu-kupunya indah ya kak" Seru seorang gadis cantik. Dirinya memakai baju lengan pendek berwarna putih yang di padukan dengan rok di atas lutut berwarna pink. Rambut yang tidak terlalu panjang itu di gerai olehnya. Sungguh cantik gadis itu.

Seorang pria berjalan kearahnya. Tersenyum, sambil mengusap rambut gadis itu. "Bukan cuma indah, tapi cantik kayak kamu" Ucapan pria itu membuat gadis cantik itu tersenyum. Pipi putihnya sudah merona karena pujiannya.

"Dea sayang sama kakak" Wanita itu tersenyum dan memeluk pria di depannya itu.

"Kakak juga sayang sama adek"

Duar...

Daffa dan Dea sama-sama terhenyak saat mendengar suara yang menekankan telinga itu. Suara apa kah itu? Baru saja Dea ingin bertanya, suara itu berbunyi semakin keras. Hingga membuat Daffa dan Dea berteriak kesakitan karena mendengar suara itu...

"Aw sakit.... sakit...." Daffa terbangun dari tidurnya karena merasakan sakit yang hebat di perutnya.

Dirinya segera berlari menuju toilet untuk memenuhi panggilan alam. Terdengar suara rintihan dan suara aneh dari dalam sana. Yang jelas dirinya baru keluar kamar mandi 30 menit setelahnya.

•••

Di lain sisi, suasana di kelas Dea saat ini sedang pelajaran biologi. Biasanya, Dea sangat bersemangat saat pelajaran biologi berlangsung, namun, kali ini beda rasanya. Dirinya hanya diam. Mungkin matanya menatap papan tulis, tetapi, pandangannya itu kosong. Seperti sedang menerawang sesuatu.

"Kalian kerjakan halaman 123. Saya ke toilet sebentar" ujar Bu Misye. Guru dengan body-goals itu berjalan keluar kelas. Dan tak lama kemudian, punggung nya telah hilang di balik pintu.

"De? Dea... hello... Dea...." Juli. Teman sebangku Dea itu berniat untuk menyalin catatan milik Dea. Namun dilihat nya Dea sedang melamun. Dirinya pun memanggil Dea sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Dea.

"DEA!!!" Dea tersadar dari lamunan nya.

"Kenapa Jul?"

"Malah bengong. Gue pinjam catatan biologi lo dong. Catatan gue nggak lengkap. Dan Rabu depan ada ulangan harian biologi" Jelas Juli terhadap teman sebangku nya itu.

"Eh? Rabu depan ulangan? Kok gue nggak tau?" Bukannya menjawab Dea justru bertanya kepada temannya itu.

"Yeah... gimana mau tau. Daritadi aja lo bengong. Gimana boleh minjam nggak nih?"

"Boleh kok. Nih." Ucap Dea sambil memberikan buku catatan miliknya kepada Juli.

Dea kembali merenung. Kenapa dirinya bisa melamun saat pelajaran favoritnya sedang berlangsung. Ini semua pasti salah Daffa. Eh, Daffa? Tumben sekali hari ini Daffa tidak menjahili dirinya. Apa sedang tobat? Tapi orang seperti Daffa tidak mungkin bertaubat. Pasalnya Daffa itu tipikal orang yang masabodo. Dan dimana dia seharian ini tidak beredar di koridor sekolah? Apa sakit? Jika iya, doakan saja pria itu cepat lenyap dari muka bumi ini, supaya hidup Dea dapat tentram.

"Yeah... malah bengong lagi. Bukannya ngerjain tugas dari Bu Misye" Juli menyenggol lengan Dea yang kini kembali melanjutkan aksi melamunnya.

"Tugas? Halaman berapa?"

"Ck... 123 de, pilihan ganda dan essai"

"Oke. Thanx ya juli"

Dea segera mengeluarkan buku lembar kerja siswa miliknya itu. Membuka halaman yang di tuju, dan segera mengisi soal-soal yang tertera di sana.

"Kamu itu memang pengganggu, tapi, kamu itu selalu membuatku merindu" Ucap Dea dalam hati. Entah untuk siapa kalimat itu, yang jelas kini Dea sedang merindu terhadap si pengganggu.

•••

Kayla balik lagi nih.. vommentnya selalu di nanti ya biar key semangat nulisnya.

Ily from ... km

Bye... bye...

DafdeiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang