Apa salah? Kalau gue berharap mimpi gue itu jadi kenyataan? Kalau iya, sebaiknya lo sadar karena lo yang selalu membuat gue bermimpi untuk jadiin lo sebagai milik gue.
-Daffa Putro Purnomo-
•••
Kini jam istirahat telah tiba, Daffa, sedang berdiri di depan kelas sambil mengeluarkan lelucon garingnya. Padahal, garing. Tapi banyak yang tertawa.
"Lo semua pada tahu gak kenapa kenapa tahu itu namanya tahu?" Ujarnya sambil duduk di kursi guru.
Pria itu memainkan rambutnya. Ala kid jaman now. Menaikkan satu kakinya dengan satu kaki lagi yang menjadi tumpuannya. "Gimana? Ada yang tahu nggak?"
Siswa dan siswi yang tersisa di dalam kelas hanya menggelenggkan kepalanya. "Ya,,, karena gue tahu itu namanya tahu"
"Gimana sih udah pada SMA masa pada nggak kenal ama tahu? Makanya kalau beli micin itu jangan cuma satu ons beli tuh lima kilo sekalian, biar jadi generasi micin jaman now. Hahaha." Daffa meninggalkan kelas sambil tertawa kencang. Aneh. Tapi itulah Daffa cowok humoris yang nggak punya kumis.
Daffa menuju ke gedung SMP, ya, lebih tepatnya ingin ke kelas Dea, ingin memastikan bekalnya itu di makan atau tidak oleu dirinya. Sepanjang perjalan, Daffa menjadi pusat perhatian, karena dirinya berjalan sambil tertawa tak jelas. Mungkin orang yang tidak mengenal Daffa, akan mengira jika dirinya itu sedikit, agak, kayak, emang, mirip, orang gila.
"Ngakak soul. Sumpah. Kalau sampai generasi micin jaman now berkembang biak, gue bakal nyalonin jadi presidennya."
Daffa memberhentikan langkahnya. Terdiam sejenak, "Kenapa gue ketawa ya? Kalau di pikir-pikir nggak ada lucunya. Aishhh." Daffa menggaruk belakang kepalanya yang tidak sama sekali gatal. Menggelengkan kepala, dan melanjutkan langkahnya dengan gaya yang di buat so cool.
Kedua tangannya di masukkan ke kantung celana, bersiul dengan santai, seolah-olah dirinya manusia normal. Padahal, banyak yang sudah menganggapnya manusia GILA. "Ck,,, resiko punya wajah manis kayak gula. Banyak banget yang suka."
"Jef. Lo iri kan karena wajah lo nggak semanis gula? Makanya koleksi gula khas Indonesia." Ujar Daffa sambil menunjuk ke salah satu siswa yang sedang duduk di bangku panjang depat kelas.
Jefri, siswa yang di tunjuk oleh Daffa hanya bisa menggelengkan kepala. Percuma jika dia tanggapi, Daffa juga tidak akan mau ngalah. Daffa masih berjalan sambil sesekali menggoda siswa atau siswi yang berada di sekitarnya.
Ketika sudah sampai di depan kelas Dea, Daffa mengintip terlebih dahulu dari jendela. Di kelas hanya ada Dea seorang diri. Dea terlihat sedang mencatat sebuah tugas yang ada di papan tulis. Jika sedang diam seperti ini, Dea semakin terlihat cantik.
"Hati-hati itu mata, nanti bintitan. Jangan suka ngintip anak gadis." Suara itu mengagetkan Daffa. Sejak kapan Dea tahu keberadaanya?
Daffa masuk ke dalam kelas Dea, duduk di bangku depan meja Dea. "Hai," Daffa tersenyum manis.
Kenapa senyumnya manis banget? Dea segera menggelengkan kepalanya, membuang pikiran aneh yang memasuki otaknya.
"Kok, bekal dari babang Daffa belum di Makan? Tenang itu yang masak bunda kok. Bukan babang Daffa. Jadi adek Dea nggak bakal keracunan." Daffa masih tersenyum sambil terus memandang wajah Dea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dafdeia
HumorUpdate sabtu dan minggu "Kamu tahu dek? Kamu itu seperti crayon dan aku buku gambar. Crayon yang selalu mewarnai buku gambar. Dan buku gambar yang selalu senang karena harinya berwarna." "Kakak tahu? Kakak itu ibarat hantu dan aku manusia. Hantu yan...
