Aryn baru saja menyelesaikan mandi setelah melewati hari yang penuh lelah di sekolah. Niatnya untuk langsung tidur ter-urung karena getaran yang berasal dari ponselnya.
Line
Guanlin tolol
Ryn
Seakan melihat adegan paling horor dalam hidupnya, Aryn sontak membanting ponselnya ke kasur setelah melihat pesan masuk yang ternyata dari Guanlin, si musuh bebuyutannya.
Guanlin tolol
Udah tidur?
Aryn
Udah, Lin
Guanlin tolol
Lah ini yang bales siapa?
Aryn
Setan
Guanlin tolol
Ya elah
Aryn
Ngapain chat?
Gak penting, skip
Guanlin tolol
Gapapa, gua kira lo udah tidur
Aryn
Udah gitu doang?
Guanlin tolol
Hmm besok berangkat sama siapa?
Aryn
Sama ojol
Guanlin tolol
Sama gua aja dah, mau gak?
Aryn
Ada udang di balik batu nih, romannya
Guanlin tolol
Nggak adaa
Aryn
Gak deh, makasih
Guanlin tolol
Besok gua jemput ya
Aryn
Gak mau, apa sih
Guanlin tolol
Good night
Aryn
Gak jelas, goblok
~
Nggak disangka —nggak heran juga sih— Guanlin benar-benar ada di depan rumahnya, benar-benar menjemputnya untuk berangkat ke sekolah berasama.
"Gue gak mau, titik gak pake koma," kalimat semacam itu tetap Aryn keluarkan untuk menolak ajakan 'berangkat bareng' Guanlin. Konsisten, bray.
Sudah cukup dibuat kesal oleh Guanlin —padahal sekarang masih pagi— ditambah ponsel Aryn yang entah ada di mana, Aryn lupa terakhir ia taruh di mana. Membuat Aryn tidak bisa memesan ojol.
"Tik, tok, tik, tok. Waktu berjalan," ejek Guanlin meniru suara jam berdentum, membuat Aryn semakin panik karena sudah hampir jam 7.
"Ayo, sama gue aja," lagi-lagi Guanlin mengajak Aryn, walau selalu ditolak sejak semalam.
Jadi, mau tak mau, Aryn menghela kasar napasnya, merutuki diri sendiri mengapa sembrono di saat-saat penting seperti ini —penting agar Guanlin tidak lagi mengajaknya berangkat bersama, karena Aryn muak— Aryn menerima ajakan Guanlin, dengan sangat amat terpaksa tentu saja.
Tanpa Aryn ketahui, Aryn melupakan satu hal yang tak kalah penting. Bahwa, seorang Guanlin, selalu punya 1001 cara agar keinginannya terkabul. Si raja iseng yang tak kehabisan akal. Diam-diam menaruh kembali ponsel Aryn yang tadi sempat ia sembunyikan. Tanpa Aryn sadari.
Hingga sampai di parkiran sekolah, Aryn kembali menggerutu karena ponselnya baru saja ia temukan di tas bagian depan. Aryn turun dari motor Guanlin dan berjalan sendiri melangkah menuju koridor tanpa memedulikan panggilan dari lelaki tersebut.
"Woi Aryn!"
Hingga panggilan dengan suara paling kencang, membuat kepala Aryn yang, herannya, terasa berat menoleh ke Guanlin yang masih berdiri di samping motornya.
"Itu helm nya lepas dulu kali. Emang nggak berat?"
Aryn melotot, memegang kepalanya yang —Benar saja! Pantas terasa berat, ia belum membuka helm ternyata. Dengan menahan malu, Aryn menghentak-hentakkan kakinya untuk memberi helm tersebut ke Guanlin, agar lelaki itu bisa menyimpannya bersama dengan helm miliknya sendiri.
Gue Aryn! Bukan Salma! Dan ini juga bukan di film dear nathan, batin Aryn sambil berjalan menuju kelasnya.
Aryn mencepatkan langkahnya menuju kelas dan langsung duduk di tempat duduknya, di sampingnya sudah ada Siyeon yang sedang mendengarkan lagu melalui earphone.
"Kenapa, Ryn?" tanya Sieyon yang turut merasakan getaran di lantai saat Aryn berjalan sambil menghentakkan kakinya. Bercanda.
"Kiamat bentar lagi deh kayaknya," jawab Aryn sambil mengusap wajahnya kasar.
Siyeon memukul pelan bahu Aryn, "Hush! Gak boleh ngomong gitu."
"Tuh, dajjal nya aja udah turun ke bumi," ucap Aryn lagi, sambil nunjuk ke arah pintu yang berbarengan dengan masuknya Guanlin ke dalam kelas. Secara tidak langsung menyebut Guanlin dajjal.
Saat langkah Guanlin semakin dekat dengan tempat duduknya Aryn, Guanlin berbisik berucap, "Dajjal nya ganteng ya, Ryn? Awas kepincut loh dajjal nya."
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Falling - Lai Guanlin ON REVISI
Fanfiction"I miss you. No, let me correct that, I miss the old you. I miss the old you that cared about me." #85 in fanfiction - 5 desember 2017 #27 in wannable - 19 juli 2019 #24 in wannable - 14 desember 2019 #48 in wannable - 10 agustus 2020
