4

20.1K 2.5K 151
                                        

"Tulis yang jelas," bisik Guanlin pada temannya.

"Pake binti, kan cewek."

"Lah emang dia cewek?"

Guanlin dan teman-temannya sedang menulis sesuatu di patahan meja kayu kelas menggunakan spidol putih entah siapa yang membawa.

Tidak lama, Guanlin dan teman-temannya langsung tertawa kencang. Kelas mereka sedang free class, karena guru yang seharusnya mengajar tidak masuk karena sakit.

Guanlin yang semula berkumpul di bagian belakang kelasnya kini maju ke depan hingga depan papan tulis, lalu patahan kayu yang tadi di coret-coret kini Guanlin pajang di atas papan tulis. Karna dia tinggi, jadi tidak perlu bangku untuk menaruhnya di atas.

Anak-anak kelas sudah tahu pasti, kalau sekarang, Guanlin sedang membuat macan bangun dari tidurnya.

Benar saja, selesai Guanlin meletakkan patahan papan di atas papan tulis, anak-anak sekelas langsung tertawa terbahak-bahak. Karena Aryn penasaran, jadi gadis itu ikut melihat apa yang sedang jadi bahan tertawaan.

Mata Aryn membelalak, ia kembali membaca papan itu, namun tulisan tidak berubah.

Tertulis di papan itu, Aryn binti Dino.

Aryn menarik napas dan membuang napas sambil memejamkan kedua matanya. Muka Aryn memerah, kalau pakai ilustrasi, tanduk merah akan muncul di kedua sisi kepalanya.

Aryn membuka matanya, ia tersenyum melihat Guanlin. Seakan mengerti apa yang akan Aryn lakukan setelahnya, anak-anak kelasan langsung menutup telinganya dan berdiam di tempat.

"GUANLIN!!!!!!!"

~

"Aryn," panggil Seulgi.

"Apaan?"

"Katanya lo abis bikin anak orang masuk UKS?"

Aryn kembali kesal setelah mendengar pertanyaan dari Seulgi, "Iya."

"Siapa?"

"Guanlin."

"HAH?!"

"Guanlin," ulang Aryn sambil tersenyum menunggu tanggapan Seulgi.

"Serius, Ryn?"

"Serius gua."

Seulgi masih terkejut, "Kok bisa?"

"Gue tendang," jawab Aryn santai.

Seulgi makin mangap.

"Seul? Kenapa?" gantian Aryn yang nanya ke Seulgi.

"Kenapa??" tanya Seulgi bingung.

"Apanya yang kenapa?"

"Kenapa di tendang?"

"Ya abisan gue kesel, dia iseng nya udah kebangetan. Tendang juga masih belom puas."

~

"Minta maaf, Ryn," Siyeon masih mendorong pelan tubuh Aryn untuk mendekat ke pintu UKS.

"Gak mau!" jawab Aryn.

"Itu kasian."

Aryn mengintip Guanlin lewat kaca, lelaki itu sedang duduk di kasur UKS. Siyeon mewakili ketua kelas Aryn dan Guanlin untuk menyuruh keduanya saling meminta maaf.

Tadi saat Aryn menendang Guanlin, sebenarnya tidak terlalu kencang, namun karena di belakang Guanlin ada bak sampah yang tingginya hampir setinggi Aryn, jadi saat ketendang, Guanlin menabrak bak sampah sampai beberapa bagian dari bak sampahnya patah.

Dengan terpaksa Aryn memasuki ruangan UKS ditemani oleh Siyeon.

"Sakit gak, Lin?" tanya Aryn.

Guanlin tidak menjawab, lelaki itu melirik sedikit Aryn lalu membuang muka. Sebenarnya tidak terlalu sakit, namun malu nya itu, apalagi yang nendang perempuan.

Siyeon berdiri, "Ryn gua tunggu luar aja ya."

Aryn mengangguk lalu menatap Guanlin lagi.

"Guanlin," panggil Aryn.

Karena tak kunjung di balas, maka Aryn kembali membuka suara.

"Sakit gak?" tanya Aryn.

"Menurut lo?"

"Enggak."

Guanlin semakin sebal. Guanlin turun dari kasur, dan ingin bergegas pulang karena sekarang sudah jam nya pulang sekolah.

"Sorry ya Lin, refleks tadi."

Perkataan maaf dari Aryn membuat langkah Guanlin terhenti, ia menahan senyumnya karena Aryn memelas. Namun senyumannya hilang saat kepalanya tertarik ke belakang dengan jambakan yang lumayan kuat.

"Tapi iseng lo udah kelewatan," ucap Aryn sambil menjambak rambut Guanlin sambil berjalan melewati lelaki tinggi itu.

Aryn ke luar UKS dan segera pulang bersama teman-temannya yang sudah menunggu.

Tbc

Falling  -  Lai Guanlin ON REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang