5- are you kidding me?

171 16 1
                                    

Mungkin hari Minggu - Kamis nggak update, soalnya lagi siapin buat UTS. Maaf yah, tapi kalau update di usahain panjang. Kalau kalian kurang paham bisa baca part dia. Karna di situ ada sedikit perubahan.

Happy reading.


______________________________________

Ponsel Lala berdering. Entah dari siapa, Lala malas membacanya. Tapi notifnya seperti nomor baru. Lala membuka pesannya dan.

+625677546553

Kamu nggak kangen?

Lala kaget seketika. Siapa ini? Kangen? Apakah dia kembali? Apa dia merindukan ku? Kesenangan Lala tak bisa di pungkiri, tanpa babibubebo Lala langsung menelfon nomor baru tersebut.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan.

Ah, apakah benar nomor ini adalah dia? Mengapa dia menonaktifkan hpnya? Apa dia belum siap bertemu dengan ku? Ya Tuhan.

***

"Sarapan dulu non". Bibi memasak sarapan untuk Lala, seperti biasa Lala hanya mengangguk lantas berjalan pergi. Bibi hanya bisa tersenyum, bii sudah terbiasa dengan sikap Lala.

Lala ke sekolah di antar sopir, sopir suruhan ayahnya. Bahkan Lala tidak pernah bertanya di mana ayahnya. Lala hanya menggunakan apa yang di kirim. Menjalankan apa yang ayahnya katakan.

Hari ini hari Sabtu, siswa siswi bebas memakai baju apa. Lala datang memakai baju yang pas di tubuhnya. Sangat indah.

Lala memang masih kelas 10. Tapi Lala cukup terkenal. Apalagi karna kedekatannya dengan cowok cool, siapa lagi kalau bukan Dylan.

"La, kemarin aku ke rumah kamu". Entah dari mana asalnya Dylan, dia langsung ada di samping Lala. Lala hanya mengerutkan keningnya dan berjalan kembali.

"Tapi kamu nggak keluar-keluar, yaudah aku pulang". Dylan tetap menjelaskan walaupun yang di jelaskan tidak mendengarkan penjelasan.

Lala tetap tidak peduli, tapi Lala penasaran siapa yang pergi di temui Dylan kemarin? Apakah Dylan punya kekasih? Lala ingin bertanya tapi dia masih marah ke Dylan .

"Kamu mau bertanya kemana aku kemarin, sama siapa?". Dylan tersenyum menggoda berjalan di depan Lala, tapi Lala masih tidak  ingin menoleh.

"Aku jelasin yah. Kemarin itu kan kamu nggak mau keluar, aku udah capek nunggu kamu. Tiba-tiba...". Dylan menggantung ucapannya karna Jovan datang tanpa di minta.

"Halo selamat pagi, Lala cantik tapi cuek" Jovan memuji atau apa sih? Lala hanya melirik sekilas. Mempercepat langkahnya. Meninggalkan dua makhluk sejoli itu.

***

Lala langsung duduk, tidak memedulikan sapaan teman kelasnya. Lala memang sangat cuek, mungkin karna terlalu banyak beban. Lebih baik diam.

Guru masuk ke kelas, tapi Lala tidak berniat melihat gurunya. Lala lebih suka melihat ke arah lapangan. Melihat siswa siswi bermain dan tertawa. Mungkin kalau dia ada di sini aku nggak bakalan cuek kaya gini, pasti aku juga mudah bergaul. Lala hanya membayangkan bagaimana dirinya bermain di sana bersama dia.

Guru sudah memulai pelajarannya tapi Lala tidak mendengarkan.
"Nayla, kalau kamu mau keluar silahkan!". Guru yang sangat killer. Lala termasuk murid yang pintar.

Lala hanya memutar bola matanya. Dan langsung berdiri dari mejanya, berjalan keluar kelas, satu kelas kaget. Bagaimana bisa Lala keluar? Itu tadi hanya ancaman. Tapi Lala menganggapnya serius. Ya ampun Lala.

***

Lagi-lagi di atap ini, melihat semua murid yang berada di lapangan. Membayangkan jika dia ada di sini apa akan berbeda? Jika dulu Lala tidak mengenalnya apa akan seperti ini? Mungkin tidak. Akan lebih indah jika dia di sini.

Dylan datang ke atap. Melihat Lala , Dylan tahu apa yang Lala fikirkan. Lagi-lagi dia. Dylan menghembuskan nafas kasar, bagaimana bisa ia mempunyai teman seperti Lala. Manekin hidup.

"Nih makan, kamu pasti lapar". Dylan memberikan roti dan susu. Lala hanya melirik lantas kembali menatap siswa-siswi.

"Kamu nggak mau?." Sekali lagi Dylan bertanya, Lala masih tidak menjawab. Lala sebenarnya sudah memaafkan Dylan, cuma moodnya sekarang benar-benar hancur.

Lala masih memikirkan nomor yang kemarin. Membayangkan jika benar nomor itu adalah dia. Lala hanya terdiam.

"Ya udah kalau kamu nggak mau, aku taruh di sini. Kalau kamu lapar ambil aja". Dylan berusaha tersenyum, walaupun sedikit kecewa karna Lala tidak menjawabnya.

"Lan?. Lala membuka suara, seperti ada lanjutan dalam nadanya. Dylan menoleh dan tersenyum.

"Kalau kamu di tinggal sama pacar kamu? Kamu akan lakukan apa?". Lala mungkin sudah lelah dengan semua ini. 2 tahun dia pergi tanpa kabar.

"Kalau aku, aku bakalan nungguin dia. Walaupun aku tahu menunggu itu nggak enak". Dylan lagi-lagi tersenyum. Menjelaskan.

"Karna gini ya La, hubungan itu didasari oleh 2 orang, jadi nggak bisa dong mutusin sepihak, harus keputusan kedua pihak. Jadi kita harus nunggu untuk dapat kepastian. Walaupun yang di tunggu tidak pernah sadar, bahkan mungkin pura-pura tidak sadar. Sabar aja, karna itu udah resiko". Dylan mencoba menjelaskan kepada Lala. Tapi Lala lagi-lagi hanya diam. Diam mungkin caranya bertahan hidup.

Ting... Ponsel Lala berdering.

+625677546553
Miss you.

ANHELOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang