Part 1

160 3 0
                                    

Kira pov

Dentuman musik diskotik memenuhi seluruh ruangan. Aku hanya bisa menangkap alunan musik house di telingaku. Gelas sisa alkohol yang telah kuminum, kini terdampar disamping wajah yang kurebahkan di meja bar.

Tatapanku kosong meski banyak pria yang mengajakku berbicara. Sungguh aku tak tahu mereka berkata apa. Yang bisa kutangkap hanya mulut mereka yang berkomat-kamit di depan wajahku. Sedikitpun tak kuhiraukan mereka. Aku tak mampu berkata apapun lagi. Jangankan untuk berkata, untuk berpikir saja aku sudah tak mampu. Saat ini pikiranku benar-benar kosong.

Aku mengangkat wajahku, melihat sekilas ke arah gelas kosong disampingku. Kemudian mencoba bangkit dari kursi. Namun baru saja aku akan berdiri, tubuhku sudah terhuyung. Pria yang tadi mengajakku berbicara berusaha menahan tubuhku agar tidak terjatuh.

"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu sambil memegang kedua tanganku

Aku melepaskan tangannya tanpa menjawab.

"Kau mau pulang? Mau aku yang mengantar?" lanjutnya.

Aku tetap tak menjawabnya. Kuambil handphone di dalam tas kecilku. Berusaha menekan tombol di layar, mencari-cari nama seseorang.

Setelah akhirnya kutemukan yang kucari. Aku menekan tombol 'panggil'. Nada tunggu sudah terdengar di telingaku. Setelah beberapa detik, suara seorang wanita menyapaku.

"Halo," sapanya.

Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku terdengar dari balik telpon.

"Sha, tolong jemput aku sekarang." Tanpa basa-basi aku langsung memintanya.

"Kira? Kamu dimana?" tanyanya dengan nada yang sedikit bingung.

"Emm.. Paradise..." Aku menerka-nerka sambil melihat sekeliling

"Kamu ngapain disana?" Ia seketika membentakku dari balik telpon. Aku langsung menjauhkan telingaku.

"Nanti aja kalau mau tanya. Pokoknya jemput aku sekarang ya. Daah." Belum sempat dijawab olehnya, aku langsung menutup telpon.

Aku pun berjalan keluar dari tempat itu, melewati beberapa muda-mudi yang sedang asyik menggoyangkan seluruh tubuhnya mengikuti irama musik yang sedang diputar oleh sang DJ.

Beberapa kali tubuhku tersenggol orang-orang itu. Wajar saja karena aku sedang tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Yang jelas tubuhku rasanya ingin terjatuh saat ini.

Semilir angin menerpa tubuhku yang hanya memakai kaus hitam dan celana jeans abu-abu. Penampilanku tentu tidaklah seksi jika dibandingkan semua perempuan yang ada di dalam kelab itu. Malah bisa dibilang berantakan. Toh tujuanku hanya untuk minum, bukan untuk tebar pesona.

Hampir 30 menit lamanya aku menunggu. Karena tidak kuat berdiri, akhirnya aku berjongkok.

Tiba-tiba sebuah suara memanggil namaku.

"Kira!" Seorang wanita sepantaran menghampiriku.

"Ngapain kamu jongkok disini? Ayo pulang!" Ia mengangkat tubuhku hingga aku beranjak dari tempatku semula.

"Kenapa lama banget sih? Aku hampir mati nunggu kamu di luar Sha." Aku mengerutkan kening dan memegang dadaku.

Marsha membopongku menuju motor. Ia memakaikan helm ke kepalaku, kemudian menstarter motornya.

"Cepetan naik," perintah Marsha.

Aku pun menurut dan berpegangan padanya. Setelah itu, aku hanya mendengar Marsha sibuk menggerutu sambil terus melajukan motornya.

My ConfessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang