Ia menatap wajahnya yang sudah dipolesnya itu dengan sedikit make up di depan cermin. Bahkan pakaiannya pun sudah rapi dengan blouse biru, kulot hitam lengkap dengan blazer yang senada. Tak lupa rambutnya ia kuncir kuda.
Kira menyiapkan segala dokumen yang ia perlukan untuk hari ini.
Dua hari yang lalu, Kira mendapatkan telepon untuk menghadiri jadwal interview hari ini. Akhirnya setelah berpuluh-puluh berkas lamaran yang ia kirimkan ke perusahaan, ada juga yang berbaik hati melihat resumenya dan mengundangnya untuk melakukan wawancara.
Berbekal hati yang telah mantap, Kira melajukan motornya ke tempat yang sudah dijadwalkan itu. Jaraknya cukup jauh dari rumah Kira. Mungkin sekitar 30 menit Kira baru sampai di perusahaan itu. Kira turun dari motornya dan berjalan perlahan memasuki gedung dengan tinggi 5 lantai berwarna hijau itu dengan corak hitam yang jelas pada pinggir bangunannya.
Mata Kira menatap meja resepsionis dan segera menghampirinya.
Seorang wanita dengan blouse dan celana senada menyambut Kira dari meja resepsionis itu.
"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?" sapanya sambil tersenyum ramah.
"Saya ada janji untuk interview dengan manajer HRD Mba," jawab Kira tanpa basa basi.
Resepsionis itu mengangguk paham.
"Saya konfirmasi dulu ya Mba ke Manajer saya. SIlahkan ditunggu," ujarnya mempersilahkan Kira duduk.
Kira menggangguk dan duduk di kursi yang terdapat di lobby kantor. Rasanya sungguh nervous harus menunggu seperti ini. Apalagi kantor yang ia datangi ini merupakan salah satu perusahaan kontraktor terkenal di daerahnya. Terlihat dari desain interior mewah di dalam kantor tersebut yang begitu memanjakan mata. Warna hijau dan hitam khas nya menghiasi setiap sudut. Tak terkecuali perabotan yang dibuat senada dengan warna ruangan.
Padahal kantor itu dari luar tak terlihat besar, namun begitu masuk ke dalamnya, sesaat Kira ber 'wah' ria di dalam hati. Sesekali Kira menelan salivanya.
Setelah 20 menit berlalu, wanita yang Kira temui di resepsionis tadi tampak menghampirinya.
"Mbak Kira, Manajer saya sudah datang. Silahkan ikuti saya ke ruangan Bapak," ajaknya, dibalas anggukan oleh Kira.
Mereka berdua sampai di lantai 3 kantor tersebut. Resepsionis itu masuk lebih dahulu, sedangkan Kira menunggu dibelakangnya.
"Baik Pak,"
Kira mendengar sekilas dari balik pintu. Kemudian resepsionis itu mempersilahkan Kira masuk ke dalam ruangan Manajer.
Sebelum Kira masuk, ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Permisi Pak,"
"Iya, masuk," ujar seorang pria berpakaian kemeja dan rambut klimisnya. Usia pria itu tampak masih di bawah 30an. Masih sangat muda dengan jabatannya sebagai seorang manajer.
Saat Kira masuk dan mendekat ke meja Manajer, ia dengan sigap mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang juga disambut oleh Manajer tersebut.
"Kira Pak," ujar Kira.
"Dimas." Manajer itu tersenyum, namun jabatan tangannya pada Kira kuat dan tegas.
Ia mempersilahkan Kira duduk dan melihat sebentar Resume Kira yang sudah lama berada di atas mejanya. Kira berusaha untuk bersikap sebaik mungkin. Ia duduk dengan tegap. Kedua tangan berada diatas paha. Dan ia sudah bersiap untuk menjawab apapun pertanyaan dari pria di depannya ini., yang baru saja ia kenal dengan nama Pak Dimas.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Confession
RomanceKira hanyalah seorang gadis biasa. Namun kehidupan yang mencekam memaksanya jatuh lebih dalam. Perlahan tapi pasti, hidupnya mulai hancur berantakan. Ditinggal mati oleh sang Mama membuatnya merasakan kepedihan yang menghujam. Bahkan hingga hari ini...