"Buka mulutmu," ujar Angga sambil menyodorkan sesendok bubur ke mulut Kira.
Kira memasang wajah cemberut usai dirinya diancam oleh Angga untuk makan. Angga mengancam akan melanjutkan perdebatan tadi pagi, apalagi setelah Kira menginjak kakinya dan pergi meninggalkan Angga begitu saja.
Angga justru tersenyum puas menyuapi Kira.
Tak menyangka akan kondisi tubuhnya, Kira hampir saja merobek pergelangan tangannya akibat terkejut melihat jarum infus yang menusuk pergelangan tangannya itu.
Siapa saja pasti kaget jika melihat jarum di tubuhnya. Apalagi hal itu dilakukan tanpa seperngetahuan dirinya. Siapa tahu ada orang-orang jahat yang dengan sengaja memasukkan obat-obatan terlarang ke dalam tubuh mungilnya itu.
Setelah selesai menyuapi, Angga mengambil obat yang terletak di meja samping sofanya. Obat itu sudah dibelikan oleh salah satu karyawannya yang dengan sigap langsung bergegas setelah diperintah oleh Angga.
"Minum obatnya," ujarnya sambil menyodorkan obat ke mulut Kira.
Kali ini Kira hanya menurutinya.
Setelah itu Angga menyodorkan segelas air kepadanya.
Angga mendesah pelan, menatap Kira penuh arti. Kira yang sadar sedang diperhatikan, balik menatapnya.
"Jika ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja. Jangan hanya menatapku seperti itu. Nanti kamu bisa terpesona sama aku," ejek Kira.
"Siapa namamu? Dari tadi malam sampai hari ini kita berdua kau tidak pernah menyebutkannya," tanya Angga langsung to the point.
Tentu saja ia harus tahu nama gadis itu lebih dulu. Dari tadi malam sampai hari ini dirinya fokus merawat gadis yang baru saja dikenalnya. Bahkan ia belum mengetahui namanya satu huruf pun!
"Kau tidak pernah menanyakannya," jawab Kira santai sambil mengedikkan bahunya
"Kira. Namaku Kira Anandya," lanjutnya.
"Kenapa kau mabuk sendirian tiap malam?" Angga kembali bertanya.
"Tunggu! Kau sendiri belum menyebutkan namamu," potong Kira, memanyunkan bibirnya.
"Angga." Angga hanya menjawab singkat padat dan jelas
"Jadi... kenapa kau mabuk sendirian tiap malam?" ulangnya.
Hal itulah yang membuat Angga penasaran semenjak, ia bertemu dengan Kira. Gadis ini bolak-balik ke Paradise hanya untuk minum dan mabuk. Selebihnya ia tidak memedulikan sekitarnya. Ditambah ia selalu sendirian.
Apakah ia tidak memiliki teman?
Atau ia sedang memiliki masalah dengan teman-temannya?
Apa tidak ada satupun orang yang bisa diajak untuk menemaninya, jika ia memang bermiat untuk mabuk. Sendirian itu sangat berbahaya, apalagi untuk ukuran seorang gadis mungil seperti dirinya.
Kejadian tadi malam adalah salah satu buktinya. Sampai harus menarik dirinya untuk turun tangan menyelamatkan gadis ini, disamping memang rasa penasaran Angga kepadanya.
Kira diam tak menjawab. Ia malah menunduk menghindari tatapan Angga. Kira tak ingin membicarakan masalah yang dialaminya kepada orang yang baru saja dikenalnya. Lebih tepatnya, ia memang tak pernah menceritakan masalahnya kepada orang lain kecuali Marsha, satu-satunya sahabat yang ia miliki.
Untuk apa pula, ia menceritakan hal itu kepadanya. Ia juga tak ingin ada orang yang ikut mencampuri urusan hidupnya. Meski penyelamatnya sekalipun.
"Baiklah, jika kau memang tidak ingin menceritakannya padaku." Angga tak membahas lebih jauh ketika melihat Kira yang enggan untuk berbagi dengannya

KAMU SEDANG MEMBACA
My Confession
RomanceKira hanyalah seorang gadis biasa. Namun kehidupan yang mencekam memaksanya jatuh lebih dalam. Perlahan tapi pasti, hidupnya mulai hancur berantakan. Ditinggal mati oleh sang Mama membuatnya merasakan kepedihan yang menghujam. Bahkan hingga hari ini...