serpihan 3

39 10 3
                                        

Perihal hati
selalu saja sulit dimengerti.

- My Gril From Another Dimension -

_____________________________________


"Pake nih!. Baju lo kotor. Habis ini kita beli semua keperluan lo." Titah Dewa lalu melempar sweter berwarna hitam ke wajah Dysa yang sedari tadi sedang mengamati ikan koi di dalam akuarium kamarnya sambil memajukan bibirnya mengikuti mulut si koi.

Dysa di fasilitasi kamar oleh Dewa. Letaknya bersebelahan dengan kamar Dewa. Kamar Dysa Dindingnya dicat dengan warna pink, benda - benda di dalamnya tidak jauh berbeda dengan benda - benda dikamar Dewa. Sekarang kamar ini menjadi kamar yang benar - benar bernuansa feminim. Mulanya kamar ini adalah kamar tamu yang jarang di pakai. Dan kamar ini memiliki nuansa klasik, sangat tidak cocok jika perempuan yang menghuninya. Dari itu Dewa merubah desain interior dari kamar ini.

"Dewa.." Panggil Dysa dengan nada riang.

"Masyaallah!!" Ucap Dewa tidak habis pikir. " ini di pakinya di atas bukan di bawah, Ini bukan celana Dysa." Dewa tidak biasa menahan tawanya. Sungguh ia gemas bukan main.

Dewa membuka retsleting sweter hitamnya yang membungkus kaki Dysa. Ia tutupi sweter soft pink yang dikenakan Dysa dengan sweter hitam tadi. Dysa mengenakan dua sweter sekarang. Tentu saja gerah. Tapi itu lebih baik dari pada harus Dewa yang membuka bajunya. Dewa juga laki - laki normal, jadi itu cukup berbahaya.

Dysa sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Noda selai pada sweter pink nya sudah tertutupi.

Dewa memutuskan untuk merawat Dysa, karena jika bukan karena lukisan yang ia buat Dysa juga tidak akan ada didunia ini. Sebagai laki-laki ia harus berani bertanggung jawab. Paling tidak sampai Dysa mengerti caranya hidup sebagai manusia normal.

Berhubung Dysa datang hanya membawa diri tidak membawa baju atau barang apa pun selain yang ia kenakan. Dan Dewa juga tidak memiliki baju dan barang - barang untuk perempuan.

Dewa ingin mengajaknya ke pusat perbelanjaan untuk membeli semua kebutuhan Dysa. Seharusnya Dewa melukis Dysa sambil membawa koper yang berisi kebutuhan Dysa. Agar tidak perlu repot membelikannya lagi.

"Nanti di sana gak boleh nakal. Jangan malu - maluin. Oke?!" Dysa mengangguk dengan wajah bingung. Entah, dia benar mengerti ucapan Dewa atau sekedar biar lebih cepat.

▪▪▪

Dewa dan Dysa memasuki kawasan pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Dysa tampak berjalan tenang di samping Dewa. Banyak yang memperhatikan mereka di sini . Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang serasi.

Dewa sudah tidak betah melihat para laki - laki yang memandang paha mulus Dysa dengan tatapan lapar. Dewa langsung membawa Dysa ke toko baju terdekat. Salah Dewa juga sebenarnya. Mengapa ia harus melukis Dysa menggunakan Celana mini seperti ini.

Dysa mengambil asal baju - baju yang tergantung rapi di toko tersebut dan memberikan nya kepada Dewa disertai cengiran lebar. Entah apa maksudnya.

Dasar cewe. Gak yang normal, gak yang polos. Kalo urusan beginian sama aja.

Dewa menyuruh staf toko yang tadi membantu Dysa untuk memakaikan baju yang Dysa pilih Di ruang ganti. "Adik saya lupa ingatan mba. Jadi dia lupa caranya pakai baju bagaimana. Tolong ajarin ya mba. Nanti saya kasih tambahan deh." Bisik Dewa berbohong kepada staf toko tersebut.

My Girl From Another DimensionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang