Esok harinya di sekolah..
Dewa tidak bicara satu patah kata pun kepada Ragga, bahkan menatap mata Ragga pun enggan. Ragga mengerti jika Dewa sedang marah, Ragga pun jika menjadi Dewa pastilah melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan Dewa saat ini, bahkan mungkin Ragga akan melakukan lebih dari Dewa.
Tentu Ragga sadar dirinya bersalah, sudah tidak mempercayai omongan sahabat nya, dan di tambah lagi menghina Dysa di ambil dari rumah pelacuran.
Ragga tidak biasa melakukan apa pun saat ini, ia serahkan semuanya pada waktu. Biar waktu melakukan tugasnya. Mengembalikan keadaan pada titik yang di inginkan, meski itu lama.
Biar saat ini keduanya saling diam, menetralisir emosi, itu lebih baik dari pada harus dengan adu jotos yang mengakibatkan bonyok sana sini.
"Hoiii, diam-diam bae!! Minum susu ngapa!!" Teriak Tito yang mengejutkan Dewa dan Ragga di tempat duduk nya masing-masing.
Ragga dan Dewa melirik tajam ke arah Tito sesaat, kemudian kembali ke dalam pikiran nya masing-masing. Tak ada yang berminat menanggapi Tito dari keduanya.
Tito mengerucutkan bibinya 5 senti ke depan, kedua teman nya ini memang benar-benar biadab terhadap nya.
Tito mendecak kesal. "Diam-diam aja terus sampai obor patung liberty bakar hangus si donald thrumph!!"
Dewa bertingkah sekan dirinya tuli, tidak mendengar satu pun celotehan Tito.
Ragga menoleh kearah Tito di sampingnya, "Dari pada patung Liberty bakar Donald trumph, kenapa gak bakar lo aja?" Ketus Ragga.
"Kalo Tito di bakar, kasian susu strawbery gak bisa di minum Tito." Sahut Tito dengan raut tak karuan.
Ragga menyesali tindakan nya menyahuti Tito tadi, lambat laun bisa ketularan gila dirinya berteman dengan bocah alien seperti Tito.
Ragga menyempatkan melirik meja Dewa, ternyata Dewa tidak lagi ada di tempat duduknya, tanpa disadari oleh Ragga dan Tito, Dewa sudah melangkah keluar dari kelas entah kemana.
▪▪▪▪
Dewa berjalan keluar kelas, katena pusing dengan perdebatan di antara kedua teman nya yang tidak lain adalah Ragga dan Tito.
Dewa berjalan tanpa arah, mengikuti kemana pun kakinya melangkah. Pikiran nya sedang buyar karena berselisih paham dengan Ragga kemarin.
Tiba saat kakinya berhenti melangkah, tepat di pintu ber-cat putih dan bertuliskan Ruang Seni. Dewa menggenggam knop pintu, dan membuka pintu tersebut.
Bukan pertama kalinya Dewa memasuki ruang ini, bahkan mungkin Dewa adalah siswa paling rajin menginjakkan kaki di ruang seni.
Deretan pigura lukisan yang menempel di tembok seakan sudah hafal dengan suara langkah Dewa.
Berbagai karya seni berjajar rapi di meja, memberi rasa tenangan bagi Dewa. Setiap seni mampu menyentuh jiwanya, mengusir emosi, dan menenangkan. Seni adalah obat ampuh bagi Dewa.
Sayup-saypup telinga Dewa mendengar isak tangis perempuan. Tidak, ini bukan suara hantu dan sejenisnya. Dewa seperti mengenal suara isak tangis perempuan ini.
Dewa menyusuri Ruang seni mencari sumber suara tangis tersebut, tepat di depan pintu ruang musik suara tersebut terdengar semakin jelas. Dengan perlahan, Dewa membuka pintu ruang musik, dan melangkah masuk. Dewa berjalan diantara alat-alat musik klasik di iringi isak tangis perempuan yang sedang ia cari keberadaan nya.
Tepat di balik piano besar, Dewa menemukan perempuan yang sedang menangis meringkuk di pojok ruangan dengan biola di pelukan nya.
"Risa..?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Girl From Another Dimension
FantasyDia laki-laki yang pertama kali aku lihat saat hadir di dunia asing ini, aku terlahir karena cinta yang ia garis kan pada kanvas. Aku bersyukur, tuhan memberi ku kesempatan untuk hidup di dunia ini dengan nya, meskipun dia tidak menyukai ku setidak...
