serpihan 10

12 4 0
                                        

Dysa berjalan riang kembali ke apartemen Dewa. Sesekali ia berjalan dengan sedikit loncatan-loncatan kecil senada dengan hembusan angin.

"Dysa!"

Dysa menoleh mencari sumber dari suara tersebut. Ah, ternyata Ragga yang memanggil nya dari gerbang gedung.

"Hai.." sapa Dysa saat Ragga menghampirinya, wajah nya enteng tanpa beban.

Dysa dan Ragga duduk di bangku yang disediakan taman di depan gedung apartemen Dewa.

"Dysa abis dari mana?? Kok gak sama Dewa??" Tanya Ragga.

Dysa menyengir kuda mendapat pertanyaan dari Ragga. "Dysa abis jemput temen Dysa." Jawab nya sembari menunjukan kantung belanjaan nya kepada Ragga.

Ragga terkekeh melihat respon Dysa yang begitu polos dan menggemaskan.

"Sendiri? Gak sama Dewa??" Tanya Ragga lagi.

Dysa menggeleng. "Dewa nya sekolah."

"Dysa gak pengen sekolah??" Ragga terus bertanya.

Dysa menghadap Ragga, menatap Ragga dengan serius.

"Dysa boleh??"

"Semua orang boleh."

"Di sekolah ada Dewa??."

"Ada."

"Dysa mau." Seru Dysa, sangking girangnya.

Ragga terkekeh untuk ke sekian kalinya. "Tapi bilang dulu sama Dewa."

"Ay ay capten!!!"

"Udah ayo masuk, nanti lo di cariin Dewa."

Dysa mengangguk cepat.

Keduanya berjalan memasuki lift, menuju apartemen Dewa.

Tingg!!!

Bunyi lift saat sampai di lantai 2. Dysa dan Ragga melanjutkan lanhkahnya menuju pintu yang benomor 125, yaitu apartemen Dewa.

*****

Ragga menekan tombol angka di depan pintu apartemen Dewa dengan lincah, kemudian terdengar bunyi tingg! Dan ketika itu pintu terbuka.

"Dewa belum pulang??" Tanya Dysa pada dirinya sendiri saat tidak menemui sosok Dewa di depan televisi juga di kamar Dewa.

Ragga mengambil remot televisi dan duduk bersantai di sana. "Bentar lagi juga pulang."

Dysa menuju kamarnya.

"Dewa??" Panggil Dysa saat ia melihat Dewa di dalam kamarnya sedang memasukan pakaian milik Dysa ke dalam koper besar.

Dewa selesai memasukan semua perlengkapan Dysa.

"Dewa, Kenapa baju Dysa di masukin ke sana??" Tanya Dysa bingung dengan apa yang sedang di lakukan Dewa.

"Sini" panggil Dewa, meminta Dysa duduk di sebelah nya.

Dysa menghampiri Dewa, dan duduk tepat di sebelah Dewa.

"Dysa, gue udah beliin lo apartemen buat lo tinggal kedepan nya. Lo gak bisa terus-terusan tinggal disini. Dan meskipun lo tinggal di sana nanti Biaya hidup lo, tetap gue yang tanggung."

Dysa terkejut mendengar penuturan Dewa.
"Dysa gak mau! Dysa mau disini aja sama Dewa."

Dewa menghela nafas, sesuai dengan prediksinya, akan sulit bicara dengan Dysa seperti saat ini.

"Lo sudah bisa ngelakuin semua hal, bahkan beberapa lo lakuin lebih dari yang gue bisa. Gue percaya sama lo. Lo bisa tinggal sendiri."

Dewa bangkit membawa koper yang berisi perlengkapan Dysa tadi. "Ayo gue anter."

"Dewa.. Dysa gak mau" ucap Dysa melemah.  Dysa menutup matanya yang memanas. Ia benar-benar tidak ingin jauh dari Dewa.

"Ayo"

"Ngga mau! Dysa mau di sini!" Cairan bening dari mata Dysa mulai meluncur bebas. Dysa tidak beranjak sama sekali dari duduknya.

Dewa mengusap kasar wajahnya. Dysa benar-benar membuatnya lelah.

"Dysa, ayo." panggil Dewa. mencoba membujuk gadis keras kepala itu.

Dysa menunduk, ia tidak ingin mendengarkan Dewa.

"Dysa, lo masih bisa ketemu gue walau pun tinggal di sana, lo juga boleh main ke sini. Terserah lo!"

"kalo Dysa boleh main ke sini kenapa Dysa gak boleh tinggal di sini??"

"Cepat bangun!"

Dysa terus diam, semakin membuat Dewa kehilangan kesabaran.

"Dysa," panggil Dewa lagi semakin kesal dengan tingkah Dysa.

Tidak ada pergerakan dari Dysa.

"Dysabelle!!!" Sentak Dewa. Dysa terkejut, semakin membuat air matanya mengalir deras.

Ragga yang sedang di ruang santai pun dapat mendengar suara Dewa yg memanggil nama lengkap Dysa.

Ragga menghampiri keduanya, Ragga melihat Dysa yang menangis sesegukan dan Dewa yang membawa koper besar. Ia tidak mengerti dengan apa yg sedang terjadi di depan nya.

"Bangun, Sebelum gue benar-benar gak peduli sama lo." Tegas Dewa.

"Dewa,." Lirih Dysa dengan tatapan memohon.

"Gak apa-apa Sa, Dewa benar. Lo harus pindah. Gak baik perempuan sama laki-laki tinggal satu atap apa lagi belum mukhrim." Ucap Ragga.

Dysa menatap Ragga kecewa. "Ragga, belain Dysa dong." Rengek Dysa sambil menangis.

Dewa muak melihat tingkah manja gadis itu.

"Dysa, percaya deh gue bakal serung dateng kerumah lo bareng Dewa."

Dan pada akhirnya Dysa mencoba mengerti dan mengalah,  ia ikuti maunya Dewa untuk pindak ke apartemen baru,  dan tinggal sendirian di sana.

Dengan berat hati Dysa masuk kedalam mobil Dewa. Air matanya terus mengalir, Ragga terus memberinya perkataan-perkataan menenangkan.

Hingga sampailah mereka di gedung apartemen Dysa. Berada cukup jauh dari apartemen Dewa.

Mereka menuju kamar bernomor 433 di lantai  3. Dewa dan Ragga merapikan apartemen Dysa dan perlengkapan Dysa. Sedangkan Dysa bermain bersama ikan koi, melupakan kesedihan nya tadi.

Ragga dan Dewa pamit pulang saat semuanya sudah beres.

Mata Dysa kembali berkaca-kaca menahan tangis. "Jangan nangis, atau gue gak mau ketemu lo lagi!" Ancam Dewa.

Dysa mengangguk patuh menghapus air matanya. "Good gril" puji Dewa mengacak poni Dysa..

"Gue percaya sama lo."

Dysa menunduk.

Ragga menepuk pelan pundak Dysa. "It's will be ok."

Dysa mulai tersenyum, menatap punggung Dewa dan Ragga yang mulai menjauh.

"Dysa sayang Dewa."


🐾🐾🐾🐾

Wkwk nama nya juga iseng kalo absurd ya gitu :v
Maafin y aku masih amatir soalnya :v

Tq for reading

Klik vote dont lupa

My Girl From Another DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang