"Saat Allah berkehendak menyatukan dua hati manusia, semesta pun tak bisa menghalangi-Nya"
.
.
.
.
♡♡♡
"Assalamu'alaikum mbak Sahara" sapaan sang idola memecah lamunan Sahara.
"W-waalaikumsalam." Jawabnya gugup.
"Boleh saya ikut menikmati hangatnya senja?"
Pertanyaan itu membuat Sahara tertawa geli.
"Apa yang membuat senja terasa hangat bagi mas frisqi?"
"Emmm.. apa ya?"
"Mungkin karena senja adalah saat dimana orang selesai beraktivitas lalu tertidur lelap dengan selimut tebal yang hangat."
"Plus teh hangat di samping meja" lanjutnya sambil duduk beberapa langkah dari Sahara.
Tawa Sahara pecah ketika mendengar jawaban Frisqi.
"Astagfirullah..mas, aku kira jawabannya bakal puitis"
Frisqi hanya tersenyum sembari meneguk air putih yang baru saja dibelinya.
"Yaa... duduk di teras mesjid, mendengarkan murottal Qur'an dan menikmati indahnya matahari terbenam. Apa yang lebih hangat dari itu?" Tanya Frisqi
"Emm.. ada lagi"
"Apa?"
Sahara mematikan murottal Qur'an surah Al-buruj yang sedang diputarnya.
"Hangatnya sentuhan air wudhu dalam dinginnya fikiran
Hangatnya butiran tasbih dalam dinginnya hati
Dan hangatnya lantunan Qur'an dalam dinginnya lisan."
Senyum mengembang menghiasi lesung pipi Frisqi.
"Bagaimana mungkin air wudhu terasa hangat dalam dinginnya malam?" tanya Frisqi menggoda
"Setan membuatnya makin dingin, tetapi hati yang merindu sang Illahi membuatnya terasa semakin hangat." Jelas Sahara dengan tatapan lurus memandang sang mentari yang hendak terlelap.
"Tapi..."
"MasyaAllah... saya lupa mas! Hari ini saya harus pulang cepat. Saya pamit pulang duluan ya mas..."
Baru saja Frisqi ingin mengomentari kalimat yang dilontarkan Sahara beberapa detik yang lalu. Tapi senja segera berakhir.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini di lain waktu. Assalamu'alaikum." ujar Sahara sambil berjalan cepat.
"Waalaikumsalam.. e-eh kapan..??" Tanya Frisqi setengah berteriak
"Jika Allah berkehendak." Sahut Sahara sembari memalingkan separuh wajahnya pada Frisqi.
"Aamiin.." batin keduanya.
.
.
.
.
.
Sesampainya dirumah, Sahara melihat mobil putih terparkir di halaman rumahnya.
"Pasti Mas Faisal sudah datang." Batinnya.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Sahara sambil berlari masuk kerumah
"Waalaikumsalam... akhirnya pulang juga. Ayo duduk!" Sahut Aisyah yang tengah duduk di sudut ruang tamu.
Pandangan Sahara tertuju pada pria yang duduk di depannya. Ya, Sahara mengenalinya. Ia lah pria berkemeja merah maroon yang tadi pagi mengambilkan diary Sahara saat terjatuh di depan mesjid Al-Qasas.
"Ehh Ara..? Dari mana saja kamu? Ayo jangan diam saja! Sini duduk dekat Abi."
Pria yang sedari tadi asyik mengobrol pun teralihkan pandangannya pada Sahara.
Ekhem!! Ya.. mereka saling mengingat satu sama lain.
"Oke! Gini ya Ra... biar kamu gak bingung gitu. Mas jelasin, jadi... laki-laki di sebelah Mas ini temen baik Mas dari SMA. Namanya Adam. Sekarang, dia kerja di kantor perusahaan sebagai CEO. Alhamdulillah, kalau untuk masalah agama dan akhlak kamu gak perlu ragu.
Dan... malam ini dia berniat baik untuk mengkhitbahmu." Lanjut Faisal dengan mantap.
"APA ? ! ? !"
Sahara tak sanggup menahan kagetnya. Kakaknya sendiri, malam ini dan detik ini akan menjodohkan adiknya dengan orang asing secara tiba-tiba.
"Jahat!!" Pikirnya.
Mengapa tiba-tiba Mbak Aisyah dan Abi juga jadi ikut-ikutan?
"Iya... tadi umi juga sudah ngobrol dengan Nak Adam. Ternyata dia ini orangnya sopan lho Nduk."
Oh tidak! Umi juga??!!
"Jadi bagaimana sayang?" Tanya umi penuh harap.
"Menunda-nunda pernikahan itu tidak baik Nak. Apalagi sudah ada pria sholeh yang datang melamarmu begini."
Sahara terduduk lemas disamping
Aisyah
"Tapi masalahnya umi, Ara belum merasa siap! Menikah itu untuk sekali seumur hidup kan? Bukan untuk main-main." Sahara mulai angkat bicara.
Tak ada suara.
Semua orang hanya sibuk saling melempar pandangan.
"Eumm... begini saja Buk, Pak! Tak apa. Saya tak akan meminta jawaban nya hari ini. Saya datang secara tiba-tiba kesini pun bukan untuk mempermainkan Sahara. Tapi hanya untuk menunjukkan keseriusan saya." Ujar Adam dengan menekankan kata 'mempermainkan'.
"Iya Nak! Tentu kami mengerti.. bahkan kami sangat mendukung atas keputusan baik Adam datang kemari!" Sesal umi.
"Iya... harap dimaklum ya Dam! Usianya masih muda." Sambung Aisyah.
"Ohh..iya iya, gapapa kok Bu, Aisyah dan yang lainnya. Saya mengerti. Tapi, sekarang sepertinya saya harus segera pulang."
"Jangan kapok silaturrahim kesini lagi ya Dam." Ujar Faisal sembari menepuk-nepuk pundak Adam.
"Haha.. siap!"
Baru saja Adam hendak mengucapkan sepatah dua patah kata pada Sahara tanda berakhirnya pertemuan pertama yang tak terlalu menyenangkan itu. Tapi sahara malah pergi begitu saja. Ia berlari ke atas kamar tanpa menghiraukan Adam
Ia menutup pintu kamarnya. Segera ia mengambil wudhu dan menenggelamkan kepalanya dalam sujud. Yang bisa ia lakukan hanyalah merintih dan mengadu pada sang Rabb.
"Ya Allah...apakah ini memang jalan yang harus ku tempuh? Haruskah dengan cara ini? Bisakah aku mencintai orang yang belum pernah ku kenal sikap dan pemikirannya?"
Ia menangis tersedu-sedu.
Bukan berlebihan, tapi itulah yang sedang ia rasakan. Padahal baru saja ia mendengar getaran qolbu bersama seseorang dalam hangatnya senja sore tadi. Tapi malam segera berganti. Cerita pun kembali terganti.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan lembut di balik pintu membuat ia mengusap cepat air matanya.
Ia segera membereskan dan melipat mukena dan sejadah nya lalu berjalan menggapai gagang pintu.
"Mbak!" Sahut Sahara pelan
"Mbak boleh masuk Ra? Tanya Aisyah hati-hati.
"Iya mbak."
Keduanya pun duduk di atas kasur sembari mengamati cahaya rembulan dan bintang-bintang di pekatnya gulita malam.
"Ra..." suara lembut Aisyah memecah keheningan
"Lihat bintang-bintang itu?"
Sahara hanya mengangguk meng-iyakan
"Kamu tau sayang, di dalam bintang-bintang itu telah terselip ribuan do'a kebaikan untukmu. Dan sebagiannya mungkin dari orang yang telah Allah sandingkan namanya dengan namamu di lauhul mahfudz sana. Tersimpan dengan sangat rapi dan indah.
Ia lah yang selama ini bertemu denganmu dalam setiap 1/3 malam
Ialah yang selama ini menyelipkan do'a nya untukmu dalam setiap sujud
Ia lah yang selama ini telah menjaga singgasana hatinya hanya untuk bidadari nya kelak.
Kau tau Ra, jodoh itu tak ada yang dapat menebak. Ia mungkin bukan orang yang kau sukai, tapi orang yang kau perlukan. Bukankan Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita?"
Sahara tak bergeming.
"Iya... mbak ngerti kok perasaan Ara! Kan dulu mbak sama masmu juga dijodohin. Dan masa ta'aruf kami singkat banget. Tapi saat Allah berkehendak menyatukan dua hati manusia, semesta pun tak bisa menghalanginya. Akhirnya mbak hidup bahagia sama mas Faisal.. berbagi suka duka sama-sama, yaa.. meskipun awalnya agak canggung. Tapi, justru itu yang membuat semuanya terasa istimewa. Menanti nya adalah hal terbaik dalam hidup Mbak. Kamu juga harus coba Ra!" sahut Aisyah antusias.
"Itu kan karena Mas Faisal Sholeh." Ketus Sahara keras kepala.
"Lho... Adam juga gak kalah sholeh kok Ra. Dia itu anaknya baik banget dan insyaAllah bertanggungjawab. Lagipula mana mungkin Mas Faisal memperkenalkan adik tersayangnya pada orang yang salah. Sekali lagi, kami gak akan memaksa kok sayang... tapi saran Mbak, coba deh kamu pikir-pikir lagi! Pilihlah calon pendampingmu karena agamanya. Bukan yang lain."
Senyum manis Aisyah mengakhiri pembicaraan malam ini.
"Ya Allah... berilah aku petunjukMu!" Ucap Sahara lirih.
.
.
.
.
jadi gimana? Udah ada tokoh favorit belum? Kalo author sih.. emm.. sukanya sama Aisyah..wkwk
Maafkan typo yang bertebaran ya
Makasih juga buat yang udah vote dan comment.. jazakumullah khairan katsiran..😁😁
#salam semanis gula dari author😙
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis November [Completed]
Espiritual[spiritual-romance]♡ "Salahkah aku bila hati ini tak mau berhenti tuk mengagumimu?" - Sahara "Allah tidak akan memberikan apa yang kau mau. Tapi Ia akan memberi apa yang kau butuhkan." - Frisqi "Jika Allah berkata kau bukan milikku, maka aku tak bis...
![Gadis November [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/128726089-64-k206907.jpg)