4. Insiden Memalukan

120 41 22
                                    

Altair POV

Alayya.

Nama itu terus berputar di dalam otakku. Pikiranku seakan-akan selalu terpusat ke satu objek, yaitu Alayya. Jatungku semakin berdetak kencang ketika membayangkan senyumnya. Wajahnya yang cantik, hidungnya yang mungil, dan oh, bibirnya yang sangat seksi. Memikirkan itu tanpa sadar membuatku tersenyum.

"Heh Al!" Aku tersentak ketika seseorang menepuk bahuku.

"Hah? Apa?" Tanyaku spontan.

"Lagi mikir jorok ya lo? Senyam senyum mulu dari tadi."

Pertanyaan itu membuatku tiba tiba teringat dengan apa yang kupikirkan sedari tadi. Astaghfirullah Altair. Kamu mikirin apaan sih? Kalo mau mikirin gituan pas di kamar aja dong, jangan di sekolah! Masa kamu mau mandi di sekolah? Batinku.

"Noh kan, lo malah ngelus ngelus dada. Lo beneran mikirin yang 'iya-iya' ya?" Tanya Raffa sambil memincingkan mata.

"Lo apa-apaan sih? Kagak lah. Lo tuh yang selalu mikirin gituan gak tau tempat," bantahku.

"Wajar dong Al, gue kan cowok normal, liat yang bening dikit langsung ke 'situ' pikirannya. Atau jangan-jangan malah lo lagi yang nggak normal. Secara waktu cowok-cowok pada bokepan, lo sendiri yang nggak gabung. Al, lo waktu mimpi basah mimpiin cewek kan?" Astaga, punya temen cowok kok mulutnya kayak cewek. Cerewet abis. Lansung saja aku memukulkan pensilku ke kepalanya pelan.

"Enak aja. Gue masih normal woy. Lo tuh yang imannya gak kuat," balasku. Baru saja Raffa mau membalas, sebuah suara menginterupsi kami.

"Ekhem... Raffa, Altair kalau kalian tidak ingin mengikuti pelajaran saya, silahkan keluar," ucap Pak Arman guru Fisika kami.

Aku dan Raffa terdiam. Ketika Pak Arman berbalik ke arah papan tulis, aku langsung menatap ke arah Raffa –yang ternyata juga menatapku- dengan pandangan seolah mengatakan 'Salah lo nih!' Lalu kembali menghadap ke depan mendengar penjelasan Pak Arman. Kali ini aku berusaha berkonsentrasi dengan materi yang disampaikan sambil berusaha menghilangkan pikiran tentang Alayya.

Kriing...

Ck. Baru saja bisa fokus dengan pelajaran, bel pergantian jam sudah berbunyi. Kan kampret.

"Baiklah anak-anak, cukup sampai disini materi yang kita pelajari hari ini. Dan kamu Altair, tolong bawakan buku tugas kalian ke ruang guru."

Nah kan, double kampret ini mah. Aku menggerutu kesal mengabaikan Raffa yang sedang tersenyum mengejek. Emang dasar temen biadab! Temennya menderita malah diejek. Lagian nih ya, Raffa kan juga salah, kenapa Cuma aku yang disuruh?

Ketika keluar dari ruang guru, aku melihat seseorang yang sangat familiar sedang mengendap endap. Alayya.

Mau kemana gadis itu? batinku.

Tanpa sadar aku melangkah mengikutinya. Langkahku terhenti ketika sampai di halaman belakang. Kulihat ia sedang berusaha memanjat tembok yang cukup tinggi. Tampaknya ia masih belum menyadari keberadaanku.

"Kamu mau bolos?" Tanyaku tiba-tiba. Ia tersentak karena terkejut. Hampir saja ia jatuh kalau saja tidak langsung memegang tembok sebagai pegangan.

"ASTAGA DRAGON!! Sialan lo! Gue kaget bego!" Bentaknya kesal.

"Kamu mau bolos?" Aku mengulang pertanyaanku.

"Nggak, ck. Udah pergi sana," ujarnya sambil mengibaskan satu tangannya.

"Terus kenapa kamu manjat kayak monyet gitu?" Tanyaku lagi.

"Bunuh diri. Ya nggak lah bego! Jelas-jelas gue mau bolos, masih pake nanya lagi."

Aku terdiam. Ia masih terus berusaha memanjat tembok tinggi tersebut. Dan ketika ia sudah sampai diatas tembok, ia menghentikan kegiatannya sejenak lalu menatapku.

"Apa lo liat-liat?!" Tanyanya garang.

"Pink." Tanpa sadar aku berbicara sambil terus menatapnya.

"Hah? Lo ngom- WHAAT!! Dasar cowok mesum! Sialan!" Teriaknya lalu melompat keluar sekolah.

Pipiku terasa panas. Aku malu.

Astaga Altair!! lo apa-apaan sih tadi! Cewek mana yang nggak marah kalo benda keramatnya diliat cowok! Dasar bego! Alayya sekarang pasti jijik sama lo! Batinku kesal.

Aku buru-buru pergi meninggalkan halaman belakang menuju kamar mandi. Aku tak henti hentinya memukul kepalaku sendiri sambil mengutuk diriku sendiri yang begitu bodoh.

Bego. Bego. Bego. Tak henti-hentinya aku merutuki diriku yang terlampau tolol. Sesampainya di kamar mandi, aku langsung membasuh mukaku dan berusaha menghilangkan pikiran tentang insiden tadi. Setelah merasa cukup, aku segera kembali ke kelas dengan terburu-buru.

Beruntungnya aku ketika sampai guru belum memasuki kelas. Aku segera melangkah menuju bangku milikku. Ku lihat Raffa yang sedang menatapku dengan alis yang terangkat sebelah seolah bertanya 'Lo kenapa?' 

Tak ku hiraukan pandangan bertanya nya. Aku langsung duduk dan menelungkupkan wajahku di meja sambil sesekali membenturkan kepalaku ke meja. Terus merutuki insiden tadi.

***

Alayya POV

Dasar cowok mesum! Semua cowok sama aja, semua pikirannya ke selangkangan. Sialan! Nggak ada apa cowok yang pikirannya nggak ke selangkangan doang! Aku terus menggerutu sebal sepanjang perjalanan.

Aku menendang benda-benda yang menghalangi jalanku. Sungguh, jika kalian bertanya kepadaku apakah aku malu, maka jawabannya sudah pasti. AKU MALU. SANGAT. SANGAT. MALU. SEKALI.

Jika kalian berpikir Alayya si biang onar tidak memiliki malu sama sekali, maka jawabannya salah. Aku juga manusia biasa gaes. Yang bisa malu-malu kucing kayak kalian semua.

Akibat tidak memperhatikan jalan, aku tidak tahu kalau ada tiang listrik yang menghalangi jalanku dan akhirnya aku menabraknya.

"Aish...sialan! Nggak tau apa kalo ada orang badmood!" Bentakku kepada tiang listrik tak bersalah tersebut lalu menendangnya cukup kuat.

"Auww... Ck. Sialan! Sialan! Sialan! Tiang nggak tau diri!" Jeritku kesal. Tak menghiraukan tatapan orang yang melihatku. Bodo amat! Rasa maluku udah habis gara-gara Cowok sialan tadi. Satu kata buat hari ini. Kampret!!

29 Januari 2018

I'm (not) AloneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang