Alayya POV
Aku berjalan mengendap-endap ketika melewati lorong kelas. Di belakangku, Altair juga melakukan hal yang sama. Aku berhenti lalu menarik tangan Altair dan bersembunyi di ujung lorong ketika melihat seorang guru hendak memasuki kelas. Aku menghela nafas lega ketika melihat guru itu sudah masuk ke dalam kelas.
Hampir.
Aku melanjutkan langkahku ketika sudah merasa aman. Langkahku terhenti ketika sampai di depan lab kimia. Beruntungnya tidak ada kelas yang sedang memakai lab kimia. Sehingga kemungkinan ketauan membolos semakin tipis
"Lab Kimia? Ngapain kita kesini? Mau Praktikum?" Tanya Altair yang berdiri di sampingku. Aku menoleh ke arahnya lalu menggeleng.
"Bukan bego. Buat apa kita bolos kalau ujung-ujungnya ke lab buat praktikum? Bukan labnya, tapi itu." Daguku menunjuk ke atas lab kimia.
Di atas lab kimia sebenarnya akan di bangun sebuah ruangan. Entah ruangan apa itu mengingat di sekolahku sudah memiliki banyak ruangan yang bahkan masih ada ruangan kosong yang belum di gunakan. Di sana masih belum ada apa pun sehingga permukaannya masih rata kecuali setumpuk batu bata dan semen yang di susun sedemikian rupa.
Aku menaiki anak tangga yang memang sudah ada sebelumnya. Anak tangganya sedikit berdebu karena jarang digunakan. Pembangunannya pun tidak akan di lakukan dalam waktu dekat ini. Sesampainya di atas aku langsung menuju ke tengah tengah bagian atap. Aku membaringkan badanku dengan tas yang kugunakan sebagai bantal.
"Kita mau ngapain di sini?" Tanya Altair sambil mendudukkan dirinya di sampingku.
"Bolos," jawabku singkat sambil menutup mataku perlahan.
"Aku tau itu. Emangnya nanti nggak bakal ketahuan guru ya?" Tanyanya lagi. Dapat kurasakan Altair juga membaringkan tubuhnya di sampingku.
"Mungkin. Tapi kemungkinannya tipis. Nggak akan ada yang bisa ngeliat kita dari bawah. Bangunannya juga kepisah dari bangunan lain dan tempatnya agak terpencil. Jarang ada orang yang lewat lab kimia kecuali ada urusan."
Setelah itu tidak ada lagi yang bersuara. Aku dan Altair sama sama menikmati ketenangan ini. Aku membuka mataku dan melihat awan yang selalu berubah bentuk. Tiba-tiba ada sebuah dorongan untuk mengajaknya berbicara.
"Al," panggilku pelan.
"Ya?"
"Lo pernah nggak sih ngerasa kalo lo itu sendirian di dunia ini?" Tanyaku kepadanya. Entah mengapa tiba- tiba aku menanyakan hal aneh itu. Tapi tak dapat dipungkiri kalau aku benar-benar penasaran akan jawabannya.
"Hmm, nggak. Kenapa?"
"Kalau gue pernah. Hampir setiap saat gue ngerasa kayak gitu. Gue emang masih punya orang tua yang lengkap, tapi rasanya gue kayak nggak punya siapa-siapa di sini. Mereka selalu sibuk kerja sampe lupa kalau masih ada gue yang butuh mereka."
Aku merasakan Altair mengubah posisinya menjadi menyamping menghadapku seolah mengatakan bahwa ia tertarik akan pembicaraan ini. Aku meliriknya sekilas lalu kembali menatap awan.
"Harusnya kamu bersyukur, Al. Kamu masih punya orang tua yang lengkap. Meskipun mereka sibuk kerja, mereka masih peduli sama kamu. Bundaku juga gitu, Al. Dia juga sibuk. Tapi dia selalu berusaha ngeluangin waktunya buat aku."
"Bunda lo, Al. Bukan orang tua gue," ucapku lirih.
Altair menghela nafas panjang. Ia kemudian merubah posisinya lagi seperti semula. Aku dan Altair masih sama-sama terdiam. Mataku menatap kosong langit biru.
"Nggak ada orang tua yang nggak peduli sama anaknya, Al. semua orang tua pasti sayang sama anaknya. Cuma kadang cara nunjukinnya yang beda-beda dan terkadang bikin salah paham. Dan pasti orang tua kamu juga sama, Al. mereka sayang dan peduli sama kamu Cuma cara nunjukinnya yang bikin kamu salah paham," ucap Altair tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
"Kalau mereka bener- bener sayang dan peduli sama gue, mereka pasti bakalan sering ada di rumah. Lo tau, kalau keberadaan mereka di rumah dalam satu tahun ini masih bisa di hitung pake jari? Lo nggak tau, Al."
Aku meliriknya dari sudut mataku untuk melihat reaksi Altair. Ia masih terdiam dan tetap dalam posisinya.
"But, thanks. Setidaknya gue sedikit lega habis cerita sama lo. Yah, meskipun ceramah lo nggak bakalan ada efeknya sama sekali sih," lanjutku lalu terkekeh pelan. Aku melihat Altair mendengus geli mendegar kalimatku. Tapi tak dapat dipungkiri dia pun ikut terkekeh geli setelahnya.
"Nope. Justru aku yang seneng bisa dengerin cerita kamu. Itu artinya kamu percaya sama aku dan kamu udah nganggep aku temen kamu," jawabnya penuh percaya diri. Kini giliran aku yang mendengus geli mendengar ucapannya.
Aku menolehkan kepalaku ke arahnya hingga dapat menatapnya yang ternyata sudah memiringkan badannya lagi ke arahku. Dan kini kita saling bertatapan satu sama lain. Aku menaikkan sebelah alisku ketika melihat ia juga menatapku. Tiba-tiba ia juga ikutan menaikkan sebelah alisnya sepertiku. Aku yang melihatnya lantas tertawa begitu juga dengan Altair.
"Jadi, habis ini kita mau ngapain? Nggak mungkinkan kita Cuma mau tidur-tiduran disini sampe dua jam kedepan?" Tanyanya begitu tawanya sudah mereda. Aku mengedikkan bahuku lalu berpikir.
"Hmm. Nggak tau juga. Punya saran?" Aku bertanya kepadanya yang masih terlihat berpikir. Tak lama kemudian ia mengedikkan bahunya lalu menatap mataku.
"Aku nggak tau. Seumur-umur baru kali ini aku bolos pelajaran. Jadi aku nggak tau dimana tempat yang aman biar nggak keta--"
"Ekhem!" Ucapan Altair terpotong karena suara deheman yang cukup keras. Cukup keras hingga mampu membuat aku dan Altair mematung ketika mendengarnya.
Aku menatap wajah Altair yang sudah pucat karena ketakutan.
"Mampus."
"Mati gue."
Jum'at, 1 Juni 2018

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm (not) Alone
Teen Fiction"Kenapa kamu suka hujan?" "Simpel. Karena waktu di bawah hujan, nggak seorang pun tau kalo gue nangis" "Dan kalo hujan berhenti? Semua orang yang liat kamu akan tau kalo kalo kamu nangis. Kamu nggak butuh hujan buat nangis, Al. Kamu Cuma butuh seseo...