Altair POV
Aku menghela napas panjang. Menatap malas tumpukan kertas di tanganku. Bu Aura -Guru BK- memintaku untuk segera membawakan angket ke ruangannya. Bukannya aku membenci guru BK itu, hanya saja aku sedang lelah hari ini. Tidak bisakah guru itu mengerti dan meminta tolong kepada murid yang lain?
Dan di sinilah aku sekarang. Di depan pintu ruang BK dengan setumpuk ketas di tanganku. Kudengar suara-suara yang saling berdebat satu sama lain. Dan aku mengenali suara itu.
Inhale. Exhale.
Dengan pasti kuketuk pintu itu dan memasukinya.
"Permisi bu."
Dua orang itu langsung menoleh kearahku. Mataku sempat bertatapan dengan gadis itu. Hanya sebentar karena ia langsung menoleh ke arah lain. Sedikit kecewa sebenarnya. Aku masih terus menatapnya hingga suara Bu Aura membuyarkan lamunanku.
"Ya ada apa Altair?" Aku mengalihkan tatapanku kepada Bu Aura.
"Maaf mengganggu. Saya hanya ingin menyerahkan angket yang ibu minta kemarin," jawabku sambil menyerahkan setumpuk angket kepadanya.
"Oh, terima kasih. Maaf sudah membuatmu repot." Aku melirik ke arah gadis itu sebelum menjawab Bu Nita.
"Tidak apa apa bu. Kalau begitu saya permisi dulu," ucapku lalu berbalik meninggalkan ruangan ini.
***
Dia tersenyum.
Tiba-tiba aku ikut tersenyum mengetahui hal itu. Aku kembali mengingat percakapanku dengannya tadi di depan ruang BK. Ini pertama kalinya aku dekat dengan seorang perempuan kecuali ibuku. Dia tersenyum kepadaku. Dan itu sangat membuatku bahagia. Entah mengapa setiap mengingat senyumnya, pipiku serasa terbakar.
Jika kalian bertanya kepadaku apakah aku dekat dengannya, jawabannya tidak. Aku tidak dekat dengannya, tetapi aku tau dia. Namanya Aqila Anindita Alayya, si biang onar sekolah. Aku tersenyum ketika mengingatnya.
Flashback
Aku memasukkan buku-buku yang telah selesai kugunakan ke dalam tasku. Kulihat disampingku Raffa tengah melakukan hal yang sama dengan terburu-buru.
"Raf, kantin?" tanyaku kepadanya. Ia menghentikan pekerjaannya sebentar lalu menoleh menghadapku. Ia menggeleng pelan.
"Sorry, Al. Gue nggak ke kantin dulu. Ada rapat sama anggota basket nih gue," jawabnya sambil memasukkan bolpen dengan asal ke dalam tasnya.
"Rapat? Di jam istirahat? Kenapa nggak pas pulang sekolah?" Tanyaku lagi. Ia hanya mengangguk kecil tanpa menatapku. Ia menutup resleting tasnya lalu menatapku.
"Bentar lagi udah mau tournament. Kita juga ada latihan pas pulang sekolah. Jadi rapatnya sekarang aja daripada entar pulangnya kelamaan," jawabnya. Aku menganggukkan kepalaku sambil bergumam tanda mengerti.
Drrtt.....
Kulirik ponsel Raffa yang bergetar di atas meja. Buru-buru Raffa mengambilnya lalu menatapku lagi.
"Sorry ya, Al. Gue duluan, udah ditungguin sama yang lain." Raffa langsung meninggalkanku begitu saja. Namun tak lama kemudian, kepalanya muncul di pintu kelas lalu menatapku dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya.
"Btw, Al. Kalo misalkan guru udah masuk sementara gue belum balik ke kelas, bilangin ya kalo gue ada rapat buat tournament. Oke? Siip. Thanks!" ucapnya tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku menghela napas panjang. Jadi, aku harus ngapain sekarang?
Aku melangkahkan kakiku keluar kelas sambil terus berpikir akan menghabiskan waktu istirahatku dimana.
Kantin? Tidak. Tidak mungkin aku ke kantin dan makan sendirian di sana. Duduk sendirian di bangku panjang kantin sedangkan di sekitarmu penuh akan gerombolan orang-orang yang entah sedang membicarakan apa? Ketahuilah sendirian saat di keramaian itu sangatlah tidak menyenangkan.
Perpustakaan? Tidak. Disana belum ada buku baru yang bisa ku baca. Memang benar jika sebagian besar buku di sana belum kubaca. Jangan pernah bayangkan aku adalah seorang kutu buku pembaca segala atau omnivora yang bahkan sejarah-sejarah kerajaan di Indonesia atau biografi penemu dan orang hebat lainnya yang akan dibaca dengan senang hati. Sungguh, aku keberatan akan hal itu.
Aku masih berdiri di depan pintu kelas dengan kedua tangan di saku celanaku. Masih berpikir akan pergi kemana.
"Ayolah, Al. Lo mau berdiri disini sampe kapan? Cari tempat yang sepi, tenang, tapi nyaman kek. Dimana gitu? Jangan Cuma berdiri nggak jelas disini," batinku kesal.
Tunggu. Sepi, tenang, tapi nyaman? Aku tersenyum ketika sembuah tempat melintas di otakku. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat itu. halaman belakang. Tempat yang jarang ku kunjungi akhir-akhir ini.
Senyumku luntur ketika sampai di halaman belakang. Di sini, di tempat yang ku kira dapat memberikanku kenyamanan seperti biasanya ternyata salah. Karena begitu sampai di sini, aku langsung melihat aksi pembullyan. Dan yang membully adalah salah satu geng perempuan yang cukup ditakuti di sekolah. Sisca dan anggotanya yang tidak ku ketahui namanya.
Aku menghela napas panjang -lagi. Sepertinya aku harus segera menghentikannya sebelum orang yang dibullynya pingsan. Baru saja akan melangkah menghampiri mereka, seseorang datang dan menarik rambut salah satu anggota Sisca.
"Heh mak lampir! Jadi orang jangan suka ngebully orang lain dong! Cemen banget. Pake acara keroyokan lagi," teriak orang itu.
"Apaan sih lo! Mau sok jadi pahlawan lo? Lo tuh cuma biang onar aja belagu," balas Sisca.
"Lah lo sendiri nggak ngaca? Lo juga biang onar kambing!" Aku mati-matian menahan tawa. Merasa lucu melihat sesama biang onar tetapi malah saling menyalahkan.
Plakk...
"Aww, sakit kambing!" Teriak Alayya. Ouw, tamparan itu pasti akan terasa sakit. Alayya segera membalas dengan menarik rambut Sisca dengan sangat kuat. Dan karena saking kuatnya, kurasa sebentar lagi Sisca akan botak. Namun sebelum itu terjadi, anggota geng Sisca yang lain segera membantu Sisca untuk melepaskan diri dari Alayya. Aku baru tau, perkelahian anak perempuan bisa sebar-bar ini.
"Sialan lo! Liat aja entar, gue bales baru tau rasa lo!" Teriak Sisca dan langsung berbalik meninggalkan Alayya dan korban bullynya.
Aku masih menatap Alayya hingga punggungnya menghilang di dari pandanganku. Sedangkan orang yang tadi di bully oleh Sisca tadi juga segera pergi entah kemana.
Kulirik jam di tanganku lalu menghela nafas panjang. Waktu istirahat sudah hampir habis. Aku membalikkan badanku dan ikut meninggalkan tempat ini.
Flashback off
Kriiiing....
Bel tanda pulang sekolah menyadarkanku dari lamunan sepanjang pelajaran tadi. Baru kali ini aku tidak fokus selama jam pelajaran. Dan ini semua karena Alayya. Lagi-lagi aku tersenyum membayangkan senyum Alayya. Sepertinya aku harus segera memeriksakan kejiwaanku sebelum semakin parah.
=========
Hai lagi gaess... 😎😎😎
Sebagai permintaan maaf atas keterlambatan update, Dedeq update dua part sekaligus dalam sehari.. lop yuh... 😗😗😘😘
Jum'at,7 juli 2017

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm (not) Alone
Fiksi Remaja"Kenapa kamu suka hujan?" "Simpel. Karena waktu di bawah hujan, nggak seorang pun tau kalo gue nangis" "Dan kalo hujan berhenti? Semua orang yang liat kamu akan tau kalo kalo kamu nangis. Kamu nggak butuh hujan buat nangis, Al. Kamu Cuma butuh seseo...