Ölene Kadar
5. I Will Touch, Hug, And Kiss You!
Di gudang, Alekh dan beberapa bodyguard datang sampai depan pintu, pria itu membuka pintu dan melihat Swara yang tertidur pulas dikursi. Tapi, dia berpikir dimana Sanskar? Kenapa pria itu tidak menjaga Swara? Itulah yang ia pikirkan saat ini. Kemudian, ia menghampiri gadis itu dan berteriak “Hei Swara! Apa kabar!?” dengan nada gembira, sementara gadis tersebut terkejut ketika mendengar teriakan itu, nafasnya terengah-engah melihat Alekh dan memberikan sebuah pandangan sinis nan tajam.
Alekh tertawa “Hahaha..” sambil berjalan mengelilingi Swara yang dalam posisi duduk, sementara gadis itu hanya diam ketakutan. “Kau tidak perlu memberiku pandangan sinis, cukup jawab ‘Hai juga, Alekh..’ dengan senyuman indahmu.” Ujarnya, langkahnya terhenti tepat disamping Swara, ia berjongkok dan menatap gadis itu dengan senyumnya yang jahat, sementara Swara memalingkan pandangannya dari pria itu dan mulai menangis tersedu-sedu.
‘SRAATTT!’
“ARGGHHTT!” Rintih Swara berteriak ketika pria ganas itu menjambak rambutnya, kemudian menatap gadis itu dengan senyum jahat, sementara Swara memandangnya dengan wajah melas dan menangis tersedu-sedu. “Aku hanya ingin jawabanmu! Dimana Khusi dan Parwati!” Teriaknya tepat di wajah gadis itu sambil menjambak rambutnya lebih kuat. Swara tidak tahan lagi dan akhirnya ia menangis histeris.
Tangisan tersebut terdengar oleh Sanskar yang sedang tidur diayunan depan rumahnya, ia terbangun dan mulai merasa iba terhadap Swara. “Swara..” Gumam Sanskar melirih, dengan cepat pria itu bangkit dari ayunan dan berlari kesana.
Sementara didalam gudang, Alekh memaksakan Swara untuk menjawabnya. Sampai akhirnya, gadis itu mulai menjawab meskipun mulutnya bergetar untuk bicara. “Ak.. Aku.. Ti.. Tidak tahu..” Ucap Swara terbata-bata.
“Bohong!” Teriak Alekh, Swara menggelengkan kepalanya sebagai tanda jika dia tidak bohong dengan wajahnya berceceran keringat dan airmata.
Sesampai didepan pintu, Sanskar shock melihat Swara disiksa Alekh dan Bodyguardnya, ia memejamkan matanya sehingga airmata pun jatuh dipipi. Sanskar pun merasa geram dan berjalan masuk kedalam, ia menahan lengan Alekh, sementara Alekh menoleh pada Sanskar dsn menepis tangannya. “Apa yang kau lakukan, Sanskar!” teriaknya yang seraya langsung menampar pria itu.
‘PLAKKKK!’
Semuanya berubah menjadi sunyi ketika sebuah tamparan Alekh berhasil mendarat dipipi Sanskar, sementara pria itu hanya diam sambil memegang pipi kanannya.
••••
Didalam kantor polisi, Ragini dan Laksh menceritakan semuanya pada Inspektur Abhisek dengan serius.
“Jadi begitu ceritanya..” Ujar inspektur Abhisek.
“Dan aku menginginkan Swara kembali.” Lirih Ragini.
“Kalian jangan khawatir, sementara aku akan melacak lokasinya.” Hibur Abhisek.
Dan tak lama kemudian, ponsel pun berbunyi. Ragini meraih ponsel tersebut di kantongnya lalu melihatnya sejenak, ia terkejut melihat nomer itu lagi yang menelepon dirinya. “Orang itu meneleponku lagi.” Gumam Ragini. Kemudian, ia mengangkat telepon tersebut dan sengaja speaker lalu meletakkannya dimeja.
“Hallo?” Sahut Ragini berusaha tenang, hatinya tidak bisa tenang ketika ada suara tangisan Swara. “Toloonggg!” Teriak Swara ditelepon, nafas Ragini pun terengah-engah. “Swaaraaa!” Teriaknya, sementara Laksh berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Aku ingin sebuah tebusan..” Ucap pria itu ditelepon, Ragini hanya diam. “Aku ingin kedua gadis kembar itu datang kemari.” Sambungnya, Ragini semakin sesak nafas, karena ia tidak tahu siapa gadis kembar itu. “Sekalian aku menginginkan Supriya, anaknya Sadhana dengan Maan. Dan, jangan sekali-sekali kau datang bersama Geet ataupun polisi, lihatlah apa yang aku lakukan pada sahabatmu ini jika kau tidak menuruti keinginanku!” Ancamnya yang langsung memutuskan telepon. Sementara Ragini ingin bertanya dimana ia harus membawa tebusan itu, tapi teleponnya sudah terputus.
“Bagaimana ini, Pak inspektur? Aku takut akan terjadi apa-apa pada Swara!” Lirih Ragini.
“Ragini, tenanglah.” Hibur Laksh yang berusaha menenangkannya sambil mengusap pundak gadis itu.
Gadis tersebut menoleh dengan cepat. “Bagaimana aku bisa tenang!? Hah!? Diakan sahabatku! Apa kau tidak pernah berpikir sama sekali tentang derita yang dialami oleh Swara sekarang!?” Emosinya, kemudian ia memalingkan pandangannya dari Laksh. “Dasar tidak tahu diri!” Gumam Ragini, sementara Laksh hanya terdiam.
“Baiklah, baik..” Sahut inspektur Abhisek. “Begini saja, apakah kau memiliki sahabat kembar?” Mereka menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. “Apakah temanmu memiliki sepupu, adik, bahkan anak angkat perempuan yang bernama Supriya?” Tanyanya lagi.
Mereka berdua berpikir sejenak, akhirnya mereka ingat sesuatu. “Rishab..” Gumamnya secara bersamaan.
••••
Mobil Rishab berhenti tepat dirumah Geet, gadis itu turun dari mobil kemudian memandang pria itu melalui kaca mobil. “Bahan makanan biar ditaruh ditempatku, bagaimana? Biar aku yang memasaknya dirumah.” Tanya Geet tersenyum menyeringai.
“Tidak perlu, aku akan menyimpannya di kulkasku sendiri. Kebetulan kulkasku saat ini lagi kosong, kau bisa datang kerumahku sepulang kampus. Kita akan memasaknya diluar, ini pasti menyenangkan.” Ujar Rishab.
“Ajak Supriya juga kan?” Tanya Geet.
“Iya, sekaligus mengajak Aarti kerumahku.” Singkat Rishab.
“Oh baiklah, itu bagus.“ Ucap Geet. “Kalau begitu, hati-hati dijalan.” Pamitnya, sementara pria itu menganggukkan kepalanya dan tanpa basa-basi ia pergi dengan mengendarai mobil hitamnya, Geet hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring kemudian ia menghela nafas. “Dasar cengengesan!” Gumamnya yang kemudian masuk kedalam rumah.
••••
Keesokan harinya dipagi hari sekitar pukul 3 pagi, polisi yang menjaga ambang pintu kembali membuka pintu tersebut dan berteriak “Maan Singh Khurana! Wanita itu ingin menemuimu lagi!” yang membuat seluruh Narapidana bangun dan bergosip mengapa wanita itu datang sepagi ini? Begitulah kira-kira.
Maan biasanya tidur tidak mengenakan baju, ia biasa hanya mengenakan celana. “Apa? Sepagi inikah Madhu datang demi untuk menemuiku?” Gumam Maan yang langsung bangun dari ranjangnya, kemudian Maan pergi untuk menemui Geet ke ruang pertemuan ditemani penjaga.
Sesampai didepan pintu, polisi membukakan pintu dan membiarkannya Maan masuk kedalam ruangan dan menutup pintunya kembali.
Gadis itu menoleh dan melihat pria yang datang menghampirinya, ia berdiri dan melangkahkan kakinya ke pria tersebut. “Maan,” Sahut Geet, pria itu hanya memandang Geet, tubuhnya gemetaran kita gadis itu menyebut namanya.
Gadis itu peka terhadap pria yang kini berdiri dihadapannya, ia memegang tangannya kemudian gadis itu mengarahkan tangan Maan kepipinya. “Aku bukan monster, aku hanya seorang gadis malang.” Kemudian Geet mendekatkan kepalanya pada pria dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan tak lama kemudian, gadis itu mencium bibirnya sejenak, sementara pria itu memejamkan matanya dan membiarkan Geet menciumnya.
‘CUPP’
Setelah itu Geet kembali memandang Maan, tubuhnya semakin bergetar ketika gadis itu memegang kedua pipinya dan berkata: “Aku akan menyentuh, memeluk dan menciummu.” Ucap Geet yang berbisik lembut dibibir pria itu.
•••••
Bersambung..
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal
ActionBOOK 1 (Cerita Sudah Lengkap) Highest Rank: #134 in Action (12/11/17) Sebuah penuduhan Geet yang masih anak-anak terhadap Maan pada 10 tahun silam atas kematian kedua orangtua dan orang lain, membuat gadis itu merasa sangat bersalah padanya ketika i...
