3. Teror

180 13 3
                                        

#OleneKadar_Hazmot
Part 3: TEROR

••••

“Madhu,” Sahut Maan yang masih menahan tangan Geet, sementara Geet diam sejenak dan duduk kembali.

Geet memandang Maan dengan wajah datar. “Kenapa? Bukankah kau tidak membutuhkan pengacara bodoh yang suka datang terlambat? Lalu, apa ini?” Tanyanya datar.

“Baiklah baik, memangnya apa yang ingin kau bicarakan padaku? Oh ya, apa kau seorang pengacara magang?” Tanya Maan.

“Hmm, bisa dibilang begitu. Aku datang karena ada suatu kesalahpahaman yang terjadi pada sebelas tahun lalu.” Jelas Geet.

“Maksudnya?” Tanya Maan sambil menaikkan satu alisnya.

“Begini....

—Flashback—

Geet terus berlari sambil menangis dipinggir jalan sampai kekantor polisi, ia memelankan langkah ketika sampai dan masuk ketempat tujuannya.

Didalam kantor polisi, Geet sedang kebingungan mencari kepala polisi dan ia meminta seorang polisi wanita bernama Parwati teman dekatnya untuk memanggil seorang pria, Parwati mengiyakan keinginan Geet dan menyuruhnya untuk duduk diruang tunggu, Geet menuruti semua itu dan duduk diruang tunggu. Tapi syukurlah, pria itu keluar dari ruangannya dan menghampiri gadis itu yang sedang duduk menunggu dirinya.

“Ekhem..” Batuk pria itu.

Gadis itu merasa senang dan berdiri dihadapan pria itu. “Pak Rudra, Maan tidak bersalah!” Serunya yang membuat Rudra bingung.

Pria berkumis itu menaikkan sebelah alisnya. “Apa kau Geet orangnya?” Tanyanya, gadis itu menganggukkan kepalanya. “Jika benar kau adalah Geet, berarti kau telah menuduh seorang pria yang tidak bersalah dan kau kemungkinan bisa masuk penjara.” Jelas Rudra.

“Meskipun aku telah menuduhnya, sekarang ada orang lain dibalik ini. Tolong bantu aku dan bekerja samalah denganku demi Maan dan kedua orangtuaku yang telah meninggal.” Pinta Geet sambil menunjukkan kotak hitam pada Rudra.

Pria itu mengambil kotak tersebut. “Baiklah, aku akan memeriksanya.” Ujarnya yang seraya pergi masuk ke ruangan itu lagi.

Geet tersenyum penuh harapan. “Aku berharap, ini berhasil.” Gumam Geet berharap.

Kemudian Geet kembali duduk untuk menunggu hasil dari pemeriksaan kotak tersebut.

••••

Selama kurang lebih dari 30 menit, Rudra melihat Geet balik pintu kantornya, lalu ia berteriak “Geet!” dibalik pintu, Geet mendengar suara teriakan Rudra dan dengan cepat gadis itu berjalan agak cepat masuk kedalam ruangan Rudra. “Kemarilah,” Saut Rudra sambil kembali duduk dimejanya dan melihat laptop tersebut, sementara gadis itu ikut duduk dihadapan Rudra sambil meremas-remas selendang hijau tuanya. “Lihatlah ini, Geet¡” Seru Rudra sambil memutarkan laptopnya kepandangan gadis itu, sementara gadis tersebut hanya diam melihat screen laptop yang memunculkan gambar CCTV kejadian 11 tahun silam.

“Aku sudah melihatnya.” Ucap Geet lesu.

“Itu bagus,” Singkat Rudra yang sedang memzoom video CCTV itu. “Apa kau melihat titik itu?“ Tanya Rudra dan Geet menganggukkan kepalanya. “Maksud dari titik ini adalah bom. Bom yang dilemparkan kesamping orang tuamu, dan itupun tak jauh dari Maan dan wanita yang bersamanya. Tak lama kemudian, bom itu meledak.” Jelas Rudra dan Geet masih diam, sementara pria itu hampir lupa memberitahukan sesuatu pada Geet dan menggeserkan layar video itu dengan menggeser mouse laptop. “Kalau soal penembakan itu sangatlah mudah.” Sambungnya.

Geet mengerutkan dahinya “Maksudnya?” tanyanya bingung.

Rudra tertawa sejenak, kemudian tersenyum menyeringai. “Apa kau tidak melihat empat orang yang bersembunyi disemak-semak sebelah kiri perusahaan? Kepalanya terlihat jelas disana dan dia membawa pistol.” Jelasnya lagi.

EternalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang